Menu

Mode Gelap
Pertamina Patra Niaga Tambah 7,8 Juta Tabung LPG 3 Kg di Libur Panjang Imlek dan Ramadhan Pertamina Patra Niaga Jelaskan Proses Distribusi dan Quality Control BBM di IT Jakarta kepada Pemimpin Redaksi Media Produk Perikanan Indonesia Makin Bernilai di Pasar Internasional Akomodir Lonjakan Pemudik, KAI Daop 7 Madiun Operasikan KA Tambahan Lebaran 2026 Kementerian-KP Pastikan Kemudahan Izin, 433 Kapal Purse Seine Siap Melaut dari Jakarta Libur Panjang Imlek, Penumpang KAD di Daop 7 Madiun Meningkat, Bakal Ada Atraksi Barongsai

Uncategorized

Keagungan Kota Suci: Mekah dalam Kata-Kata Halimah Munawir

badge-check


 Keagungan Kota Suci: Mekah dalam Kata-Kata Halimah Munawir Perbesar

Bagai Angin Tak Berbentuk, Tetapi Menyentuh Jiwa

Wartatrans.com, JAKARTA — Mengawali tahun 2026 ini, dalam ruang hening antara bait dan bait, Halimah Munawir menata kembali pengalaman spiritualnya tentang kota suci Mekah—sebuah tempat yang bagi jutaan umat Islam bukan sekadar lokasi geografis, tetapi ruang batin yang tak lekang oleh waktu. Keagungan Mekah, dalam kacamata sastrawan ini, menjadi lebih dari sekadar kisah perjalanan; ia hadir sebagai kesadaran metafisik yang menggetarkan jiwa, di mana individu bersentuhan langsung dengan yang transenden melalui bahasa dan simbol.

Puisi-puisi Halimah sering merekam kehadiran keagungan itu dalam bentuk yang bilingual, memberi pembaca keterbukaan pengalaman lintas budaya dan bahasa—Inggris, Arab, dan Indonesia—sehingga resonansinya bukan hanya bersifat lokal, tetapi global.

Nama Halimah Munawir sudah tidak asing lagi dalam kancah dunia sastra Indonesia. Kiprahnya memberi warna tersendiri pada dunia literasi negeri ini. Perempuan kelahiran Cirebon, 18 Januari 1964, ini telah berkecimpung dalam dunia sastra sejak akhir 1980-an, ketika ia mulai menulis buku berjudul Sukses Story Nilasari (1988). Sejak itu, ia terus produktif menghasilkan karya novel, puisi, dan biografi yang tersebar di berbagai penerbit besar seperti Gramedia dan Balai Pustaka.

Halimah tak sekadar menulis; ia juga aktif mengembangkan ruang kreatif melalui berbagai komunitas budaya. Ia adalah pendiri Rumah Budaya HMA di Bogor, Ketua Komunitas Obor Sastra, anggota IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia), serta turut aktif dalam gerakan literasi dan seni budaya lainnya.

Selama lebih dari tiga dekade, Halimah telah mencatat jejaknya melalui beragam karya tulis:

Puisi menjadi medium penting bagi Munawir dalam merayakan pengalaman spiritual, termasuk pengalaman batin tentang kota suci. Ia telah menerbitkan beberapa kumpulan puisi bilingual (Indonesia-Inggris), di antaranya:

AKAR (56 puisi pilihan, 2020) — sebuah pengantar kepada kosmologi batin yang kuat.

Bayang Firdaus (2021) — karya yang memperlihatkan ekspresi religius dan spiritual melalui kata, diterbitkan secara bilingual untuk menjembatani pembaca lintas budaya.

Titik Nadir (2025) — yang melanjutkan tema keagamaan dan eksistensial dalam puisi, menyingkap pergulatan jiwa manusia di titik-titik paling rendah sekaligus paling luhur.

Kumpulan puisi ini dibuat bukan hanya sebagai ajakan untuk membaca, tetapi merasakan: merasakan lembutnya zikir, sunyi-nya malam di kota suci, dan desir asa dalam setiap kata yang disusun. Halimah sering menekankan bahasa sebagai alat meditasi, bukan sekadar informasi.

Mekah, bagi Halimah, bukan sekadar ikon keagamaan; ia adalah ruang batin universal, alasan mengapa puisinya sering dirancang dalam tiga bahasa sekaligus—Indonesia, Inggris, dan Arab. Pilihan ini bukan kebetulan, tetapi sebuah strategi kultural untuk membuka dialog antar peradaban, sehingga pengalaman spiritual itu tak hanya dibatasi oleh bahasa ibu semata.

Bagi sastrawan ini, yang suci bukan semata kota; yang suci adalah pengalaman yang tak teringkari oleh bahasa, budaya, atau jarak.

Meski banyak dikenal melalui puisi dan novel, Halimah Munawir tidak terlepas dari pergulatan nilai-nilai sosial dan budaya dalam karya-karyanya. Ia sering menautkan estetika bahasa dengan realitas kehidupan perempuan, masyarakat, serta pertemuan budaya. Kepeduliannya bukan hanya pada estetika, tetapi pada keberlanjutan kultur Indonesia di tengah globalisasi—melalui sastra, teater, komunitas seni, dan literasi.

Melalui karyanya kali ini, Halimah Munawir hadir sebagai figur yang memadukan kehampaan dan keagungan melalui puisi. Dalam kata-katanya, kota suci menjadi lebih dari sekadar tempat; Mekah menjadi simbol kegelapan yang disinari cahaya bahasa, Kota yang fana dan abadi sekaligus. Di bawah pena Halimah, keagungan itu tak lagi abstrak—ia nyata, bergetar, dan menyentuh jiwa pembaca lintas bahasa.

Kalau ada satu hal yang bisa kita pelajari dari Halimah Munawir, itu adalah bagaimana sebuah kata, bila dipakai dengan ketulusan dan iman, mampu membawa kita pada satu puncak: pertemuan batin dengan keagungan universal.*** (PG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pertamina Patra Niaga Tambah 7,8 Juta Tabung LPG 3 Kg di Libur Panjang Imlek dan Ramadhan

16 Februari 2026 - 21:17 WIB

Banjir Aceh 2025 Disebut Ekosida, Desakan Bentuk Badan Khusus Menguat

16 Februari 2026 - 20:00 WIB

Rumah Budaya HMA, Diplomasi Sastra dan Budaya, Merawat Harmoni Indonesia–Mesir

16 Februari 2026 - 19:18 WIB

Proliga 2026 Pekan ke 6 Bojonegoro Mengerucutkan Tim Peserta Babak Final Four

16 Februari 2026 - 16:03 WIB

Ratusan Warga Tonton Film NOEH (Pasung) di RSJ Aceh, Hujan Tak Surutkan Ikhtiar Lawan Stigma ODGJ

16 Februari 2026 - 14:38 WIB

Trending di RAGAM