Wartatrans.com, TAKENGON — Pagi itu, sekitar pukul 06.00, suasana Kampung Burlah belum sepenuhnya terjaga. Namun sebuah suara asing memecah keheningan.
“Suara apa itu?” tanya Sutiani kepada ayahnya.

“Suara air,” jawab sang ayah singkat.
“Kok ngeri?”
“Iya. Makanya kita harus siap-siap terus.”
Tak seorang pun menyangka, suara air yang terdengar sejak pagi itu adalah pertanda awal sebuah bencana besar.
Biasanya, jika air sungai naik di pagi hari, sekitar pukul 10.00 air akan kembali surut. Karena itulah, warga tidak membawa apa pun. Tidak ada barang berharga, tidak ada pakaian ganti. Hanya baju di badan.
Namun hari itu, cerita berubah total.
Sekitar pukul 10.00, sungai besar mulai meluap dengan cepat. Air yang sejak pagi hanya membawa kayu-kayu kecil, tiba-tiba berubah menjadi arus ganas. Sembilan rumah warga hanyut satu per satu. Lalu, antara pukul 11.00 hingga 15.00, pohon-pohon besar datang bersamaan dengan arus deras dan lumpur, menghantam apa saja yang dilewati.
Sungai kecil yang mengalir di tengah kampung ikut membesar. Air terus naik hingga pukul 15.00 sore. Dentuman benturan kayu dan batu terdengar sangat keras—mengerikan, seperti amukan yang tak bisa dihentikan.
Warga mengungsi ke TPA, ke tempat yang lebih tinggi. Dari sana, mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana rumah-rumah disapu air dalam hitungan menit. Selama ini, bencana hanya mereka lihat di televisi atau layar ponsel. Hari itu, bencana hadir tepat di depan mata, di kampung mereka sendiri.
Air datang untuk kedua kalinya sekitar pukul 14.00 hingga 15.30. Dalam waktu setengah jam, habis semuanya. Saat dentuman itu datang, jeritan warga pecah. Ketakutan, kepanikan, dan ketidakpercayaan bercampur menjadi satu.
“Ya Allah…
Kami tidak pernah berpikir bencana bisa datang sedekat ini.”
Selama dua malam, warga berpindah-pindah mengungsi—ke rumah keluarga, tetangga, dan saudara yang masih selamat. Setelah itu, mereka terpaksa menyeberang melalui hutan, melewati sungai-sungai kecil dan jembatan ayun menuju Kala Ketol, hanya untuk mencari logistik. Jika tidak, orang-orang di luar sana tidak akan pernah tahu bagaimana kondisi Kampung Burlah.
Kini, satu bulan telah berlalu. Warga masih bertahan di pengungsian. Mereka bergantian berjaga di posko, tetap siaga setiap hari. Jika harus pergi bekerja sebagai buruh ngotep cabai, mereka melakukannya secara bergantian—agar selalu ada yang menyambut relawan yang datang. Para relawan menempuh perjalanan jauh, dalam kondisi lelah. Mereka butuh minum, makan, dan tempat beristirahat.
Namun satu keputusan telah bulat di hati warga: mereka tidak ingin kembali tinggal di kampung lama. Trauma itu terlalu dalam.
Mereka ingin pindah ke tempat yang lebih aman, meski masa depan di tempat baru masih penuh tanda tanya.
Dulu, kehidupan di kampung berjalan mengikuti musim.
Musim kemarau adalah waktu panen pinang dan menyiapkan tanah di polibek untuk menyemai bibit cabai.
Musim hujan adalah masa panen kopi.
Kini, semua itu tinggal kenangan.
“Aku tidak lagi meratapi apa yang telah hilang,” tutur salah seorang warga.
“Yang tersisa hanyalah bertahan dan berharap.”
Suatu hari nanti, mereka berharap ada tempat yang benar-benar bisa kembali disebut rumah.***
Ditulis kembali oleh: Melsaja
(dengan penambahan narasi)
Sahabat Safar Takengon
























