Wartatrans.com, JAKARTA – Pasar properti Jakarta menunjukkan pemulihan yang semakin solid pada kuartal II 2026. Tingkat hunian perkantoran di kawasan pusat bisnis (Central Business District/CBD) mencapai 76,3 persen, okupansi kawasan industri meningkat menjadi 91,2 persen, gudang logistik modern menyentuh 97,4 persen, sementara pusat perbelanjaan mencatat tingkat hunian 86,4 persen. Di tengah tren tersebut, kawasan berbasis Transit-Oriented Development (TOD) diproyeksikan menjadi motor baru pertumbuhan nilai properti di ibu kota.
Penguatan sektor properti terjadi di tengah kondisi ekonomi nasional yang tetap tangguh. CBRE Indonesia mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada kuartal I 2026, dengan inflasi Juni sebesar 3,34 persen. Meski Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,75 persen, fundamental ekonomi dinilai masih mampu menopang permintaan properti.

Head of Research & Consulting CBRE Indonesia Anton Sitorus mengatakan penguatan pasar properti didorong kebutuhan riil pelaku usaha. Menurut dia, penyewa kini semakin mengutamakan kualitas bangunan, kemudahan akses, efisiensi operasional, dan nilai investasi jangka panjang.
“Saat ini penyewa tidak lagi hanya mempertimbangkan lokasi. Mereka semakin mengutamakan kualitas bangunan, kemudahan akses, efisiensi operasional, dan nilai jangka panjang. Karena itu, kami melihat minat terhadap properti yang terintegrasi dengan jaringan transportasi massal terus meningkat,” kata Anton dalam Media Briefing CBRE di Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Di sektor perkantoran, penyerapan ruang kantor di CBD mencapai 16.800 meter persegi, sedangkan kawasan non-CBD mencatat 12.900 meter persegi dengan tingkat hunian 73,3 persen. Head of Research Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia James Taylor menilai tren flight to quality masih mendominasi, ditandai perpindahan perusahaan ke gedung yang lebih berkualitas dan efisien. Senada, Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto menilai gedung modern dengan akses transportasi publik akan semakin diminati.
Penguatan juga terlihat pada sektor industri dan logistik. Penyerapan lahan industri mencapai 62 hektare dengan tingkat okupansi 91,2 persen, sedangkan tingkat hunian gudang logistik modern mencapai 97,4 persen. Permintaan terutama berasal dari sektor perdagangan elektronik (e-commerce), manufaktur, logistik, dan pusat data (data center).
Anton menilai konektivitas akan menjadi faktor utama pembentuk nilai properti Jakarta. Menurut dia, kawasan TOD tidak lagi sekadar menjadi simpul transportasi, tetapi berkembang menjadi pusat pembangunan terpadu yang menggabungkan perkantoran, hunian, ritel, dan ruang publik. CBRE memperkirakan proyek MRT Fase 2A, Dukuh Atas, Manggarai, Cawang, Pasar Baru, dan Kota Tua akan menjadi katalis pertumbuhan TOD sekaligus membuka peluang investasi properti baru di Jakarta.*** (Artha Tidar)






























