Wartatrans.com, BOGOR — Kawasan Rancamaya di Bogor saat ini lebih dikenal sebagai wilayah hunian modern dan kawasan wisata. Namun, jauh sebelum perubahan itu terjadi, tempat ini menyimpan lapisan sejarah dan mitologi yang dalam. Dalam khazanah Sunda kuna, Rancamaya dikenal sebagai Sanghyang Rancamaya, sebuah kawasan yang pada masa lalu dipercaya angker dan sarat makna spiritual.
Nama Sanghyang Rancamaya tercatat dalam salah satu naskah sejarah terpenting Sunda, Carita Parahyangan yang disusun sekitar tahun 1580 Masehi. Naskah ini menyebut Sanghyang Rancamaya sebanyak tiga kali, masing-masing dalam konteks pemerintahan Prabu Susuk Tunggal, masa kejayaan Sri Baduga Maharaja, serta sebagai lokasi pusara Prabu Siliwangi.

Pada masa pemerintahan Prabu Susuk Tunggal (1382–1482), Sanghyang Rancamaya digambarkan sebagai kawasan yang menakutkan. Wilayah ini diyakini sebagai tempat berdiamnya makhluk-makhluk gaib, seperti Udugbasu, Pulunggana, Surugana, dan Ratu Sanghyang Banaspati. Dalam kepercayaan masyarakat kala itu, makhluk-makhluk tersebut kerap meminta tumbal, terutama sepasang muda-mudi.
Kepercayaan mengenai angkernya kawasan ini juga hidup dalam tradisi lisan. Dalam Pantun Bogor, Sanghyang Rancamaya digambarkan sebagai sebuah ranca (rawa) dengan sebuah keraton di tengahnya. Rajanya disebut bernama Resi Niskala Nyura Maya, dengan prajurit dan rakyat yang berwujud menyeramkan. Setiap tahun, menurut pantun tersebut, kerajaan gaib ini menuntut tumbal sepasang lajang muda-mudi.
Situasi itulah yang mendorong Sanghyang Haluwesi, adik Prabu Susuk Tunggal, melakukan tindakan simbolik dan politis: mengurug atau menimbun kawasan Sanghyang Rancamaya. Pengurugan ini bukan sekadar upaya fisik menata wilayah, melainkan juga usaha menundukkan kekuatan gaib dan menata kembali ruang sakral dalam kosmologi Sunda.
Seiring waktu, Sanghyang Rancamaya mengalami transformasi makna. Pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi (1482–1521), kawasan ini justru dibangun dan dimuliakan. Sanghyang Talaga Rena Mahawijaya didirikan, serta dibuat tanda peringatan berupa gu-gunungan, simbol kosmologis yang lazim digunakan sebagai penanda tempat penting dan sakral.
Transformasi ini mencapai puncaknya ketika Sanghyang Rancamaya dipercaya sebagai tempat pusara Prabu Siliwangi. Dalam tradisi Sunda, Sri Baduga Maharaja dikenal sebagai raja besar Pajajaran yang memerintah selama 39 tahun dan membawa stabilitas serta kemakmuran. Gelar terakhir yang disematkan kepadanya, Sang Mwakta Ring Rancamaya, semakin menguatkan hubungan simbolik antara sang raja dan kawasan tersebut.
Dari sebuah wilayah yang dianggap angker dan berbahaya, Sanghyang Rancamaya berubah menjadi ruang sakral yang penuh makna historis dan spiritual. Kisahnya memperlihatkan bagaimana masyarakat Sunda kuna memandang ruang, kekuasaan, dan alam gaib sebagai satu kesatuan yang saling terkait.
Kini, jejak-jejak Sanghyang Rancamaya memang tidak lagi mudah dikenali secara kasat mata. Namun, melalui naskah kuno, pantun, dan tradisi tutur, kawasan ini tetap hidup sebagai bagian penting dari ingatan kolektif sejarah Pajajaran dan kebudayaan Sunda.*** (BS)
























