Menu

Mode Gelap
Pasar K-Culture Melejit, Destinasi Baru Incar Cuan di Jakarta Sabet Penghargaan, Model 3R mGanik Jadi Terobosan Kebuntuan Diabetes Tipe 2 Pasar Mobil 2026 Melonjak 15,9%: Toyota Bertahan, BYD Tekuk Honda TEMUAN BPK: Defisit Keuangan Membengkak, Transparansi Perjalanan Dinas Pemko Subulussalam Dipertanyakan TMI Aceh dan PT Bio Energy Rimba Tinjau Pembibitan Kopi CV A Tiga Nursery, Perkuat Program Penghijauan dan Pemberdayaan Petani Tindak Lanjut MoU, Tani Merdeka Indonesia Aceh Tengah dan PT Bio Energy Rimba Perkuat Pendampingan Petani

PERISTIWA

Menelusuri Sanghyang Rancamaya, Kawasan Angker yang Menjadi Pusara Prabu Siliwangi

badge-check


 Menelusuri Sanghyang Rancamaya, Kawasan Angker yang Menjadi Pusara Prabu Siliwangi Perbesar

Wartatrans.com, BOGOR — Kawasan Rancamaya di Bogor saat ini lebih dikenal sebagai wilayah hunian modern dan kawasan wisata. Namun, jauh sebelum perubahan itu terjadi, tempat ini menyimpan lapisan sejarah dan mitologi yang dalam. Dalam khazanah Sunda kuna, Rancamaya dikenal sebagai Sanghyang Rancamaya, sebuah kawasan yang pada masa lalu dipercaya angker dan sarat makna spiritual.

Nama Sanghyang Rancamaya tercatat dalam salah satu naskah sejarah terpenting Sunda, Carita Parahyangan yang disusun sekitar tahun 1580 Masehi. Naskah ini menyebut Sanghyang Rancamaya sebanyak tiga kali, masing-masing dalam konteks pemerintahan Prabu Susuk Tunggal, masa kejayaan Sri Baduga Maharaja, serta sebagai lokasi pusara Prabu Siliwangi.

Pada masa pemerintahan Prabu Susuk Tunggal (1382–1482), Sanghyang Rancamaya digambarkan sebagai kawasan yang menakutkan. Wilayah ini diyakini sebagai tempat berdiamnya makhluk-makhluk gaib, seperti Udugbasu, Pulunggana, Surugana, dan Ratu Sanghyang Banaspati. Dalam kepercayaan masyarakat kala itu, makhluk-makhluk tersebut kerap meminta tumbal, terutama sepasang muda-mudi.

Kepercayaan mengenai angkernya kawasan ini juga hidup dalam tradisi lisan. Dalam Pantun Bogor, Sanghyang Rancamaya digambarkan sebagai sebuah ranca (rawa) dengan sebuah keraton di tengahnya. Rajanya disebut bernama Resi Niskala Nyura Maya, dengan prajurit dan rakyat yang berwujud menyeramkan. Setiap tahun, menurut pantun tersebut, kerajaan gaib ini menuntut tumbal sepasang lajang muda-mudi.

Situasi itulah yang mendorong Sanghyang Haluwesi, adik Prabu Susuk Tunggal, melakukan tindakan simbolik dan politis: mengurug atau menimbun kawasan Sanghyang Rancamaya. Pengurugan ini bukan sekadar upaya fisik menata wilayah, melainkan juga usaha menundukkan kekuatan gaib dan menata kembali ruang sakral dalam kosmologi Sunda.

Seiring waktu, Sanghyang Rancamaya mengalami transformasi makna. Pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi (1482–1521), kawasan ini justru dibangun dan dimuliakan. Sanghyang Talaga Rena Mahawijaya didirikan, serta dibuat tanda peringatan berupa gu-gunungan, simbol kosmologis yang lazim digunakan sebagai penanda tempat penting dan sakral.

Transformasi ini mencapai puncaknya ketika Sanghyang Rancamaya dipercaya sebagai tempat pusara Prabu Siliwangi. Dalam tradisi Sunda, Sri Baduga Maharaja dikenal sebagai raja besar Pajajaran yang memerintah selama 39 tahun dan membawa stabilitas serta kemakmuran. Gelar terakhir yang disematkan kepadanya, Sang Mwakta Ring Rancamaya, semakin menguatkan hubungan simbolik antara sang raja dan kawasan tersebut.

Dari sebuah wilayah yang dianggap angker dan berbahaya, Sanghyang Rancamaya berubah menjadi ruang sakral yang penuh makna historis dan spiritual. Kisahnya memperlihatkan bagaimana masyarakat Sunda kuna memandang ruang, kekuasaan, dan alam gaib sebagai satu kesatuan yang saling terkait.

Kini, jejak-jejak Sanghyang Rancamaya memang tidak lagi mudah dikenali secara kasat mata. Namun, melalui naskah kuno, pantun, dan tradisi tutur, kawasan ini tetap hidup sebagai bagian penting dari ingatan kolektif sejarah Pajajaran dan kebudayaan Sunda.*** (BS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pasar K-Culture Melejit, Destinasi Baru Incar Cuan di Jakarta

10 Juli 2026 - 04:10 WIB

Sabet Penghargaan, Model 3R mGanik Jadi Terobosan Kebuntuan Diabetes Tipe 2

10 Juli 2026 - 04:05 WIB

TEMUAN BPK: Defisit Keuangan Membengkak, Transparansi Perjalanan Dinas Pemko Subulussalam Dipertanyakan

10 Juli 2026 - 03:56 WIB

Tindak Lanjut MoU, Tani Merdeka Indonesia Aceh Tengah dan PT Bio Energy Rimba Perkuat Pendampingan Petani

10 Juli 2026 - 03:44 WIB

Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis dan Salurkan 235 Paket Sembako bagi Masyarakat Kecamatan Koja

9 Juli 2026 - 20:30 WIB

KKP Segel Budidaya Arwana di Pekanbaru, Ratusan Ikan Dilindungi Tak Berizin

9 Juli 2026 - 17:16 WIB

KKP Lepasliarkan 21 Penyu Hijau Hasil Gagalkan Penyelundupan ke Perairan Bali

9 Juli 2026 - 16:27 WIB

Megaproyek PSEL Bali Rp3 Triliun Resmi Dimulai, Pemerintah Klaim Mampu Ubah Sampah Jadi Energi Listrik

9 Juli 2026 - 14:16 WIB

Serap Aspirasi Peserta DPM, Poltekpel Surabaya Gelar Forum Konsultasi Publik

9 Juli 2026 - 13:08 WIB

Wujudkan Green Port, IPC TPK Fasilitasi Uji Emisi Gratis

9 Juli 2026 - 11:12 WIB

Trending di ANJUNGAN