Wartatrans, JAKARTA — Taman Ismail Marzuki (TIM) kembali menghadirkan pameran seni rupa tahunan PARADOCS di Galeri Oesman Effendi, mulai 25 November hingga 1 Desember 2025. Memasuki penyelenggaraan edisi kedua, pameran bertajuk “Run Wild” ini menekankan pentingnya keberanian seniman dalam melampaui batas dan formula yang sudah mapan.
Pameran digelar bertepatan dengan perayaan ulang tahun TIM pada November serta momentum Hari Pahlawan, sehingga menjadi ajang refleksi mengenai seni sebagai ruang perjuangan dan kebebasan berekspresi.


Suasana pameran PARADOCS #2 – TIM Jakarta Pusat.
Kurator Firman Lie menjelaskan bahwa PARADOCS diambil dari konsep para-document, yaitu cara melihat seni bukan hanya sebagai arsip atau catatan, tetapi sebagai peristiwa yang terus bergerak dan bernegosiasi dengan konteks sosial, budaya, politik, hingga batin penciptanya.
“Paradocs mengajak publik membaca seni melalui ketaksaan, intuisi, dan vibrasi gagasan yang membuka ruang interpretasi lebih luas,” ujar Firman.
Tema Run Wild dipilih untuk menyoroti dinamika seniman yang harus menghadapi ritme Jakarta yang serba cepat, hierarkis, dan penuh tekanan struktural. Menurut kurator, keliaran kreatif justru menjadi ruang bagi seniman untuk tetap sehat secara emosional dan intelektual.
“Run Wild bukan ajakan untuk chaos, tetapi keberanian untuk tetap jujur pada proses dan kebebasan batin. Seni tetap membutuhkan ruang liar untuk bernapas,” tegas Firman.
Sejak berdiri pada 1968, TIM menjadi pusat pergerakan seni modern Indonesia. Namun pascarevitalisasi 2020–2022, muncul pertanyaan baru mengenai peran institusi ini:
- Apakah TIM masih menjadi ruang dialog penciptaan?
- Bagaimana posisinya di tengah maraknya ruang seni independen?
- Mampukah TIM tetap mengakomodasi eksperimen radikal seniman?
Paradocs #2 hadir untuk membuka kembali percakapan tersebut.
Pameran ini menampilkan seniman lintas generasi dari dua ekosistem seni rupa utama Jakarta: akademisi Fakultas Seni Rupa IKJ dan perupa independen dari komunitas Peruja.

Rindy Ketua Peruja.
“Pertemuan ini menjadi eksperimen kuratorial yang mempertemukan metodologi akademik dengan spontanitas dan energi komunitas, sekaligus mencerminkan kondisi ekosistem seni Jakarta yang terus berkembang dan dinegosiasikan,” terang Rindy, ketua Peruja.
Lebih jauh Rindi menjelaskan, Paradocs dirancang sebagai program tahunan yang bertujuan:
• Menghadirkan ruang dialog lintas disiplin dan generasi
• Menyediakan dokumentasi alternatif bagi seni Jakarta
• Menghidupkan kembali fungsi TIM sebagai ruang pemikiran seni
“Bagi kami Paradocs bukan hanya pameran, tetapi juga upaya membaca dan merawat dinamika kesenian,” ungkap Rindy lagi, mengakhiri.*** (Ham)











