Wartatrans.com, DEPOK. Suasana riang gembira menghiasi Gedung Dibaleka, Kota Depok. Sekitar 300 lebih guru PAI melaksanakan refleksi dan tasyakuran atas selesainya pendidikan yang mereka jalani selama 45 hari.
Sekretaris Daerah Kota Depok Mangnguluang Mansur mengatakan, Pemerintah Kota Depok mengucapkan selamat dan apresiasi bagi peserta yang telah menyelesaikan pendidikan profesi guru. Terutama bagi guru Pendidikan Agama Islam (PAI).

“Ini capaian penting dan amanah besar dengan penuh tanggung jawab,” tegas Mangnguluang Mansur pada sambutannya diacara Refleksi dan Tasyakuran Kelulusan Guru Profesional Pendidikan Profesi Guru Dalam Jabatan Transformasi Batch 3 Tahun 2025.
LPTK UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta, Gedung Dibaleka, Lt.10, Depok, 23 Desember 2025.
Mangnguluang berharap, bagi mereka yang lulus bisa langsung mengabdikan diri untuk menjadi pendidik agama, yang masih banyak dibutuhkan.

315 guru telah menyelesaikan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) bach tiga yang dilaksanakan di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta selama 45 hari.
Sementara, Asisten Administrasi Umum Setda Kota Depok, Nina Suzanna menegaskan, setiap sekolah harus memiliki guru agama, baik sekolah negeri maupun swasta.
“Karena Kementerian Agama tidak memiliki anggaran. Maka kita support dengan dana hibah. Ada 300-an yang dilantik” katanya.
Tambahnya, PPG ini akan manambah wawasan bagi guru agama dan kepastian sertifikasi atau legalitas. “Ini menjadi hal penting, agar guru-guru agama betul-betul terfasilitasi dan punya jaminan serta sekolah memiliki guru agama yang berkualitas,” jelasnya.
Berkaitan dengan buta aksara al-qur’an, keberadaan guru agama memberikan tambahan guru bagi pengentasan buta aksara al-qur’an untuk Kota Depok, khusus anak-anak agar terbebas dari buta aksara al-qur’an.
Berdasarkan data dari Kementerian Agama, nilai rata-rata dari 1.014 guru PAI yang melakukan assesmen Tuntas Baca Qur’an (TBQ) tiap jenjangnya sebesar 88.73.
Mangnguluang menambahkan, guru berperan strategis, peningkatan kompetensi dan profesionalisme menjadi keharusan. “Guru tidak hanya transfer ilmu, tapi mampu menanamkan nilai moral, etika, spiritual pada peserta didik,” katanya.
Lanjutnya, dunia pendidikan menghadapi tantangan yang kompleks seperti perubahan sosial, teknologi dan dinamika katakter muda yang cepat. Guru dituntut beradaptasi, perkuat integritas da tauladan di sekolah maupun masyarakat.
“Pembangunan kota yang berdaya saing dan berkarakter ditentukan pendidiknya. Dedikasi guru sebagai investasi masa depan bangsa,” ungkap Mangnguluang.
Sementara, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Depok Enjat Mujiat mengatakan, guru PAI menjadi pelopor penyuluh agama dan moral masyarakat. “Guru agama sebagai penuntun jalan yang terang dikemudian hari,” katanya.
Enjat menegaskan, guru harus mampu mengikuti perkembangan yang terjadi dan menjadikan anak didik menjadi sahabat. “Seorang guru harus lebih tahu dari anak didik,” tegasnya.

Enjat mengakui, Kota Depok masih membutuhkan guru PAI, terutama yang telah mengikuti PPG. Di sisi lain, Kementerian Agama memiliki keterbatasan anggaran untuk PPG. “Alhamdulillah Pemerintah Kota Depok telah menganggarkan 11 miliar lebih untuk PPG. Berkah untuk semua,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Pendidikan Agama Islam Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat Asnawi mengatakan, selayaknya para peserta bersyukur karena telah mengikuti PPG hingga selesai tanpa mengeluarkan biaya.
“Kegiatan PPG Bach 3 dibiayai oleh APBD dan APBN. 309 orang tidak mengeluarkan uang, karena 252 peserta di biayai APBD dan 57 dibiayai APBN,” ungkap Asnawi.
Asnami menjelaskan, berdasarkan jenjang pendidikan, Kota Depok memilki 1.154 guru PAI. Sebanyak 852 telah tersertifikasi, 210 belum tersertifikasi, dan 92 sedang melakukan PPG.*** (Septiadi)










