Menu

Mode Gelap
Hari Pertama Tahun Baru, Menhub Dudy Pantau Arus Lalu Lintas di Jalur Tol Keluar-Masuk Jakarta Menhub Dudy Pastikan Kesiapan untuk Arus Balik Nataru di Stasiun Yogya UMK Kubu Raya 2026 Naik 7,7 Persen, Ditetapkan Rp3,1 Juta Warga Tangse Masuk Hutan Lindung, Cari Pelaku Tambang Ilegal Penyebab Banjir Bandang Penyeberangan Merak–Bakauheni Terpantau Aman dan Lancar, Cuaca Bersahabat Kembang Api di Jembatan Esplanade, Singapura: Harapan Baru Menyambut 2026

PERISTIWA

Pengungsi Desa Burlah Terancam Tanpa Tempat Berteduh, Warga Mendesak Penyediaan Tenda

badge-check


					Pengungsi Desa Burlah Terancam Tanpa Tempat Berteduh, Warga Mendesak Penyediaan Tenda Perbesar

Wartatrans.com, ACEH TENGAH — Warga Desa Burlah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, yang saat ini mengungsi di SD Negeri 15 Ketol, menghadapi ancaman kehilangan tempat berteduh. Pasalnya, kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut dijadwalkan kembali aktif mulai 5 Januari 2026, sehingga para pengungsi harus segera meninggalkan lokasi pengungsian.

Hingga kini, warga mengaku belum memiliki alternatif tempat tinggal sementara. Sementara itu, rumah-rumah mereka di Desa Burlah masih belum dapat ditempati akibat dampak bencana. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan pengungsi, terutama terkait keselamatan dan kenyamanan anak-anak.

“Kalau sekolah sudah aktif, kami harus keluar. Tapi sampai sekarang belum ada tenda atau tempat pengungsian pengganti,” kata salah seorang warga pengungsi.

Di sisi lain, sejumlah tenda bantuan terlihat terpasang di Mersah Gunung Bukit, Kecamatan Kebayakan, serta di beberapa titik lain seperti Desa Mendale. Namun, tenda-tenda tersebut dinilai tidak dimanfaatkan secara maksimal karena minimnya jumlah pengungsi di lokasi tersebut.

Kepala Desa Burlah, Kecamatan Ketol, Salman Ahyuni, mengatakan warganya sangat membutuhkan tenda pengungsian beserta perlengkapan dasar seperti kelambu, alas tidur, dan bantal. Menurutnya, kebutuhan tersebut mendesak agar para pengungsi, khususnya anak-anak, dapat beristirahat dengan layak.

“Warga kami sangat berharap adanya tenda dan perlengkapan tidur. Anak-anak perlu tidur dengan nyaman, apalagi dalam kondisi darurat seperti sekarang,” ujar Salman.

Ia juga menyarankan agar tenda-tenda yang saat ini kurang dimanfaatkan di Kecamatan Kebayakan dapat dialihkan ke Desa Burlah maupun ke Desa Bintang Pepara, yang warganya sama-sama terdampak bencana dan masih membutuhkan tempat pengungsian.

“Kalau bisa dialihkan, itu akan jauh lebih bermanfaat bagi warga yang benar-benar membutuhkan,” katanya.

Para pengungsi berharap sebelum 5 Januari 2026, Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dapat segera mengambil langkah konkret dengan menyediakan tempat tinggal sementara, meskipun hanya berupa tenda, agar warga tidak terlantar setelah harus meninggalkan sekolah.

Masyarakat juga meminta pemerintah daerah lebih bijaksana dan merata dalam menyalurkan bantuan, sehingga seluruh korban terdampak bencana dapat merasakan manfaat secara adil dan menyeluruh.*** (K.Agam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Warga Tangse Masuk Hutan Lindung, Cari Pelaku Tambang Ilegal Penyebab Banjir Bandang

2 Januari 2026 - 06:35 WIB

Kembang Api di Jembatan Esplanade, Singapura: Harapan Baru Menyambut 2026

2 Januari 2026 - 01:10 WIB

Presiden Tinjau Huntara Aceh Tamiang, Tegaskan Komitmen Pemerintah Tangani Dampak Bencana

1 Januari 2026 - 21:37 WIB

Sanggar Seni Surawisesa Gelar Diskusi Nasab Leluhur Awali Tahun 2026

1 Januari 2026 - 21:20 WIB

Refleksi Awal Tahun, Noyo Gimbal View Dipadati Wisatawan

1 Januari 2026 - 18:57 WIB

Trending di RAGAM