Wartatrans.com, JAKARTA – Jumlah penumpang MRT Jakarta, LRT Jakarta, dan Transjakarta masih tumbuh secara tahunan pada Agustus 2026, tetapi pergerakan bulanannya berbeda.
Penumpang MRT turun 12,56 persen dan Transjakarta 5,82 persen dibanding Juli, sedangkan LRT Jakarta naik 6,31 persen.
Kepala BPS DKI Jakarta Kadarmanto mengatakan penurunan tersebut tercatat dalam statistik Agustus.
“Pada Agustus 2026, jumlah penumpang MRT Jakarta dan Transjakarta mengalami penurunan secara bulanan, masing-masing sebesar 12,56 persen dan 5,82 persen,” kata Kadarmanto di Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Secara tahunan, ketiga moda masih mencatat pertumbuhan. Penumpang MRT meningkat 1,80 persen, LRT Jakarta 9,94 persen, dan Transjakarta 7,19 persen. Dari sisi operasi, MRT mencatat 8.081 perjalanan, turun 2,74 persen secara bulanan, sedangkan LRT Jakarta 6.324 perjalanan dan relatif stabil.
Armada Transjakarta mencapai sekitar 4.741 unit, naik 0,8 persen dari Juli.
Perbedaan tersebut menunjukkan fluktuasi penumpang tidak bergerak seragam dan tidak cukup dibaca dari jumlah armada.
Pada MRT, penurunan perjalanan berjalan bersamaan dengan penurunan penumpang, sementara pada Transjakarta jumlah armada justru meningkat secara bulanan.
Di tingkat layanan, Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Budi Awaluddin mengatakan LRT Jakarta rute Kelapa Gading-Manggarai telah melayani 100.343 penumpang hingga 24 September 2026.
“Dengan tarif Rp5.000, masyarakat kini dapat memanfaatkan layanan LRT Jakarta rute Kelapa Gading-Manggarai untuk perjalanan sehari-hari,” kata Budi, Jumat (25/9/2026).
Perkembangan layanan tersebut berlangsung di tengah kebutuhan integrasi transportasi yang semakin melampaui batas administratif Jakarta.
ITDP Indonesia pada September 2026 membahas integrasi sistem transportasi Jabodetabek, termasuk pembagian kewenangan, pendanaan, integrasi data dan tarif.
Skala mobilitas lintas wilayah terlihat dari Commuter Line Jabodetabek.
KAI mencatat layanan tersebut mengangkut 210,47 juta pelanggan sepanjang Januari-Juli 2026, tumbuh 6,39 persen dibanding periode sama 2025.
Tren serupa terlihat pada LRT Jabodebek. Hingga Januari-Agustus 2026, moda yang menghubungkan Jakarta dengan kawasan Cibubur dan Bekasi itu melayani 21,81 juta pelanggan, meningkat 19,05 persen secara tahunan.
Data tersebut belum membuktikan perpindahan penumpang dari satu moda ke moda lain.
Namun, pertumbuhan perjalanan lintas wilayah dan perbedaan kinerja antar-moda menunjukkan transportasi Jakarta semakin perlu dibaca sebagai bagian dari satu jaringan aglomerasi, bukan kumpulan layanan yang berdiri sendiri.
Bagi pemerintah dan operator, implikasinya adalah kebutuhan memastikan kapasitas, konektivitas, integrasi data, tarif, dan antarmoda mengikuti pola perjalanan Jabodetabek yang berlangsung lintas kota.
Pertumbuhan penumpang tidak hanya ditentukan layanan dalam DKI, tetapi juga hubungan Jakarta dengan pusat kerja, pendidikan, perdagangan, dan layanan publik di kawasan sekitarnya. (Artha Tidar)


























