Oleh: MelSaja
______

Wartatrans.com, FEATURE — Awalnya saya memutuskan untuk tidak ikut. Ada lelah yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan, ada ragu yang memilih diam. Namun sejak malam sebelumnya, percakapan di grup terus bergerak—tentang rencana perjalanan, tentang kondisi lapangan, tentang warga yang masih bertahan di pengungsian. Kata demi kata itu menyusup pelan, mengusik ketenangan yang saya paksa ada.
Pagi yang dingin akhirnya menjadi penentu. Saya menyerah pada panggilan hati dan memutuskan bergabung dengan tim. Sabtu, 10 Januari 2026, pukul tujuh pagi, perjalanan menuju Desa Kelitu dimulai.
Tujuan kami adalah menemui para penyintas banjir bandang dan tanah longsor dari Desa Sintep, sebuah permukiman yang berada di perbukitan. Sementara Kelitu terletak di bawahnya, di tepian danau. Dua desa dengan posisi geografis berbeda, namun kini dipertemukan oleh satu peristiwa yang sama: bencana.
Empat puluh lima hari telah berlalu sejak banjir bandang dan longsor melanda wilayah Tanoh Gayo. Baru dalam beberapa hari terakhir, akses jalan menuju kawasan ini kembali terbuka—itu pun dalam kondisi yang jauh dari aman. Longsoran masih tampak di banyak titik, dan tanah belum sepenuhnya stabil.
Kami menempuh perjalanan menggunakan sebuah Land Rover tua. Kendaraan itu bukan sekadar alat transportasi. Ia datang jauh dari Kota Bandung, menempuh ribuan kilometer untuk sampai ke Tanoh Gayo. Melihatnya saja menghadirkan rasa haru: bahwa kepedulian bisa melintasi kota, pulau, bahkan kelelahan yang tak terhitung.

Di dalam mobil itu, kami membawa lebih dari sekadar logistik. Kami membawa solidaritas—sederhana, namun bermakna.
Mesin Land Rover meraung pelan, kadang bergetar keras saat melintasi jalan rusak. Kami duduk saling berhadapan, tubuh ikut terguncang mengikuti irama lubang dan tanah yang belum stabil. Percakapan kecil muncul sesekali, lalu tenggelam kembali dalam diam.
Dari balik jendela, lanskap bencana terbentang: tanah longsor yang menimbun sisi jalan, bongkahan batu besar yang turun dari gunung dan kini terdiam di tepi aspal, serta danau yang sesekali tampak di sela pepohonan. Ancaman bahaya susulan terasa dekat, terutama jika hujan kembali turun. Setiap meter perjalanan menuntut kewaspadaan.
Pemandangan itu memantik ingatan lama. Sintep dan Kelitu adalah desa-desa yang indah. Tempat saya dan suami kerap singgah untuk membeli ikan depik saat musimnya tiba. Dulu, perjalanan ke sini selalu membawa kegembiraan kecil: danau yang tenang, wajah-wajah ramah, dan rasa syukur yang sederhana.
Pagi itu, danau yang sama menyambut kami dengan wajah berbeda. Ia tetap tenang, namun menyimpan luka yang belum sembuh.
Kelitu kini bukan sekadar desa di tepian danau. Ia menjadi tempat pengungsian bagi warga Sintep—warga yang rumahnya berada di atas bukit dan kini tak lagi aman untuk dihuni. Tenda-tenda darurat berdiri di sekitar masjid dan sekolah. Terpal-terpal itu menjadi atap sementara, menggantikan rumah yang hilang atau rusak.
Kami turun dari kendaraan dengan langkah pelan. Angin danau berembus dingin, membawa aroma tanah basah yang masih tersisa sejak bencana. Anak-anak berlarian di antara tenda, tertawa ringan, seolah belum sepenuhnya memahami apa yang telah mereka kehilangan. Sementara orang-orang dewasa duduk berkelompok—sebagian berbincang pelan, sebagian hanya terdiam, menatap danau dengan pandangan yang jauh.

Hari itu adalah hari ke-45 pascabencana. Waktu yang panjang untuk menunggu, namun terlalu singkat untuk pulih sepenuhnya. Jalan yang baru terbuka beberapa hari sebelumnya menjadi satu-satunya penghubung mereka dengan dunia luar—jalan yang sama yang kami lalui dengan rasa waswas.
Saya berdiri sejenak, memandang perbukitan di kejauhan. Sintep ada di sana, di balik hijau yang tampak tenang dari bawah. Nyaris tak terlihat jejak amarah alam yang pernah dilepaskannya.
Perjalanan ke Kelitu hari itu bukan sekadar perjalanan fisik. Ia adalah perjalanan batin—menyusuri luka yang masih basah, menyaksikan ketabahan yang tumbuh di tengah keterbatasan, dan belajar bahwa di balik bencana, selalu ada manusia-manusia yang bertahan dengan cara paling sederhana: saling menjaga.
Saya pulang dengan satu keyakinan kecil: bahwa datang, melihat, dan hadir, kadang adalah bentuk kepedulian paling jujur yang bisa kita berikan.









