Wartatrans.com, JAWA TIMUR – Presiden Prabowo Subianto dalam beberapa agenda terakhir menyampaikan sejumlah pesan strategis yang menyentuh langsung persoalan pendidikan, kesejahteraan rakyat, kemandirian energi, hingga penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Rangkaian pernyataan tersebut muncul di tengah agenda Presiden menghadiri peringatan satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026).
Di hadapan para santri dan undangan, Prabowo menyebut perjalanan panjang Gontor sebagai bagian dari perjalanan pendidikan dan pembangunan bangsa. Ia mendorong para santri untuk meneruskan perjuangan membangun Indonesia.
Namun pesan Presiden tidak berhenti pada dunia pesantren. Persoalan paling mendasar yang ingin disentuh pemerintah, menurut Prabowo, adalah memastikan tidak ada rakyat Indonesia yang kelaparan dan tetap memiliki kesempatan memperbaiki kehidupannya.
“Tidak boleh ada rakyat Indonesia yang kelaparan,” menjadi salah satu penekanan Prabowo dalam agenda tersebut. Ia juga menyatakan komitmen pemerintah untuk menghapus kelaparan dan kemiskinan di seluruh tanah air.
Pendidikan Harus Bisa Dijangkau Semua Anak Bangsa
Sehari sebelumnya, Prabowo juga menyampaikan gagasan mengenai akses pendidikan. Presiden menegaskan bahwa biaya pendidikan pada sekolah negeri dari tingkat SD hingga perguruan tinggi negeri harus dapat dijangkau masyarakat secara luas.
Gagasan tersebut menempatkan pendidikan sebagai bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia sekaligus instrumen untuk membuka kesempatan yang lebih merata bagi anak-anak Indonesia.
Dalam konteks itu, keberadaan pesantren seperti Gontor juga dinilai memiliki posisi penting dalam membentuk karakter dan integritas generasi muda. Prabowo menyebut nilai-nilai pendidikan Gontor sejalan dengan semangat perjuangan bangsa.
Berdikari di Bidang Energi
Agenda berikutnya menyentuh sektor energi. Pemerintah mendorong penguatan kemandirian energi nasional, antara lain melalui persiapan penerapan E50, sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi dari luar negeri.
Prabowo menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan kekuatan ekonomi dan sumber daya manusia yang mampu menopang kemandirian nasional.
Kemandirian energi tersebut menjadi salah satu bagian dari agenda lebih besar pemerintah untuk membangun Indonesia yang mampu mengelola sumber daya dan kebutuhan strategisnya sendiri.
Karhutla: Penanganan dan Penegakan Hukum
Pada saat yang sama, persoalan kebakaran hutan dan lahan juga menjadi perhatian Presiden.
Prabowo meminta penanganan karhutla dilakukan secara serius. Pemerintah juga mendorong penyelidikan apabila terdapat dugaan unsur pidana dalam kebakaran hutan dan lahan, termasuk di wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan pemadaman, tetapi juga pencegahan dan penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pelanggaran.
Pemerintah sebelumnya juga memperkuat koordinasi dengan Malaysia dalam penanganan persoalan karhutla yang memiliki dampak lintas batas.
Dari Indonesia hingga Palestina
Di Gontor, perhatian Prabowo juga tertuju pada Palestina.
Saat menyapa Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Prabowo menyerukan “Free Palestine” dan kemudian menerima keffiyeh yang diberikan sang duta besar. Momen tersebut berlangsung di hadapan ribuan santri, alumni, dan tamu undangan.
Pada kesempatan yang sama, Prabowo juga menegaskan agar Gontor tidak terlibat dalam politik praktis, sembari tetap mendorong para santri memahami politik sebagai bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara.
Rangkaian pesan itu memperlihatkan sejumlah agenda yang sedang ditekankan pemerintah: pendidikan, penghapusan kelaparan dan kemiskinan, kemandirian energi, perlindungan lingkungan, serta posisi Indonesia dalam isu kemanusiaan global.
Bagi Prabowo, pembangunan tidak semata soal pertumbuhan ekonomi. Negara juga dituntut memastikan rakyat memperoleh pendidikan, pangan, energi dan lingkungan yang lebih terjamin, sekaligus tetap berdiri dalam prinsip politik luar negeri Indonesia.
Dari halaman pesantren berusia satu abad di Ponorogo, pesan itu kembali ditegaskan: membangun Indonesia berarti menyiapkan manusia, memenuhi kebutuhan dasarnya, memperkuat kemandirian, dan menjaga kepentingan nasional di tengah perubahan dunia.*** (PG/BS)






















