Wartatrans.com, BENER MERIAH — Secangkir kopi pada pagi Sabtu, 19 September 2026, menjadi ruang perbincangan tentang sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar kopi: air bersih dan kehidupan masyarakat di pelosok.
Ada Kang Leo. Lelaki asal Bandung, Jawa Barat, yang memilih berada di lapangan, menyusuri wilayah-wilayah yang mungkin bagi sebagian orang terlalu jauh untuk didatangi.
Kang Leo boleh disebut salah satu sosok senior yang nyentrik di dunia kerelawanan. Nyentrik bukan karena penampilan, melainkan karena cara berpikir dan pilihannya untuk terus bergerak ketika melihat persoalan masyarakat yang belum tersentuh secara memadai.
Kini ia bersama dua organisasi relawan lainnya membangun aliansi kerja untuk membenahi bak penampungan air di kawasan Samarkilang. Bersamaan dengan itu, mereka juga menyiapkan WC darurat bagi masyarakat yang membutuhkan.
Namun pekerjaan itu tidak berhenti di Samarkilang. Kang Leo kini tengah menyusuri dan melakukan survei ke sejumlah kawasan terpencil dan tertinggal di Kabupaten Bener Meriah. Simpur, Pantan Antara hingga Pantan Sinaku menjadi bagian dari wilayah yang ingin dilihatnya dari dekat.
Yang dicari bukan sekadar data. Ia ingin melihat bagaimana masyarakat mendapatkan air, dari mana mereka memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari, dan sejauh mana kemungkinan membangun instalasi air bersih yang dapat menjawab kebutuhan warga.
Di titik inilah kerja relawan menemukan maknanya. Datang bukan hanya membawa bantuan, tetapi terlebih dahulu melihat. Mendengar. Berbicara dengan masyarakat. Kemudian mencari kemungkinan solusi yang bisa dikerjakan bersama.
Air bersih memang terdengar sederhana bagi mereka yang tinggal di kota. Tinggal membuka keran. Tetapi bagi sebagian masyarakat di wilayah terpencil, mendapatkan air bersih bisa menjadi perjalanan panjang dan pekerjaan yang menguras tenaga.
Karena itu, survei yang dilakukan Kang Leo dan kawan-kawannya menjadi langkah awal yang penting. Sebab bantuan yang baik semestinya berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat, bukan sekadar dari apa yang dianggap dibutuhkan dari jauh.
Kopi pagi bersama Kang Leo akhirnya bukan hanya percakapan ringan. Dari meja kopi, pembicaraan bergerak menuju Samarkilang, Simpur, Pantan Antara dan Pantan Sinaku—wilayah-wilayah yang menyimpan cerita tentang keterbatasan, sekaligus harapan.
Dan mungkin, di sanalah kerja-kerja kerelawanan menemukan jalannya: datang ketika orang lain belum datang, melihat ketika banyak orang belum melihat, lalu berbuat semampunya untuk menghadirkan perubahan.*** (Jasa)






















