Wartatrans.com, JAKARTA — Suasana Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (1/10/2026), tampak khidmat ketika Presiden Prabowo Subianto melantik Komjen Pol. Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri baru.
Suyudi tiba di Istana sekitar pukul 13.30 WIB dengan mengenakan pakaian dinas upacara lengkap. Ia tampak tersenyum ketika memasuki kompleks Istana sebelum mengikuti prosesi pelantikan.
Prosesi berlangsung dalam suasana resmi dan penuh penghormatan. Presiden Prabowo memimpin pengucapan sumpah jabatan. Suyudi bersama Komjen Pol. Wahyu Hadiningrat, yang dilantik sebagai Wakapolri, kemudian menandatangani berita acara pengambilan sumpah.
Dalam sumpahnya, Suyudi menyatakan kesetiaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, serta berjanji menjalankan peraturan perundang-undangan dengan lurus dan adil serta menjunjung tinggi etika jabatan dan Tribrata.
Nuansa pergantian kepemimpinan Polri juga terasa dari kehadiran Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Mantan Kapolri itu datang bersama istrinya sekitar pukul 13.27 WIB untuk menghadiri rangkaian pelantikan. Kepada wartawan, Sigit menyebut dirinya akan dilantik sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP).
Momen tersebut membuat pelantikan tidak sekadar menjadi seremoni pergantian pucuk pimpinan Polri. Di satu sisi, Suyudi menerima tongkat komando Korps Bhayangkara. Di sisi lain, Listyo Sigit tetap melanjutkan pengabdiannya di lingkungan Istana sebagai KSP.
Setelah pengucapan sumpah dan penandatanganan berita acara, Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming memberikan ucapan selamat kepada Suyudi dan Wahyu. Para tamu undangan kemudian mengikuti pemberian ucapan selamat.
Pergantian tersebut sebelumnya telah mendapat persetujuan DPR dalam rapat paripurna pada hari yang sama. Komisi III DPR menyetujui Suyudi sebagai calon Kapolri setelah menjalani uji kelayakan dan kepatutan.
Kini, setelah prosesi pelantikan selesai, perhatian beralih kepada pekerjaan besar yang menanti Kapolri baru: menerjemahkan gagasan “Polisi Bersama Masyarakat” ke dalam kerja nyata di lapangan.
Tongkat komando telah berpindah. Tantangan berikutnya adalah membuktikan arah kepemimpinan baru itu dalam pelayanan, penegakan hukum, dan hubungan Polri dengan masyarakat.*** (Daus)


























