Wartatrans.com, JAKARTA — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana membangun 11 rumah susun (rusun) baru untuk memperluas akses masyarakat terhadap hunian terjangkau di tengah keterbatasan lahan perkotaan. Namun, di balik ekspansi hunian vertikal tersebut, pemerintah menghadapi tantangan lain, yakni menjaga aset rusun yang telah berdiri puluhan tahun agar tetap aman, layak huni, dan memiliki nilai ekonomi.
Jakarta saat ini memiliki 87 tower yang terdiri atas 156 blok dengan total 33.830 unit rumah susun sederhana sewa (rusunawa), yang tersebar di lima wilayah administrasi.

Skala aset tersebut membuat pengelolaan rusun tidak hanya berkaitan dengan penyediaan hunian, tetapi juga pemeliharaan investasi publik bernilai besar.
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan DKI Jakarta mencatat pemerintah daerah pernah mengalokasikan anggaran sekitar Rp2,4 triliun untuk pembangunan 33 tower rusunawa.
Nilai investasi tersebut menunjukkan, bahwa rusun merupakan aset publik dengan nilai ekonomi yang membutuhkan perencanaan pemeliharaan dan revitalisasi secara berkelanjutan.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, pembangunan rusun baru diarahkan untuk memperluas akses masyarakat terhadap hunian layak, terutama bagi keluarga muda.
Rusun Marunda Cluster C dan Rusun Rorotan menjadi bagian dari prioritas pengembangan, sementara lokasi lainnya akan dikembangkan secara bertahap.
“Dari rencana tersebut, pembangunan Rusun Marunda Cluster C sebanyak lima tower dan Rusun Rorotan IX sebanyak tujuh tower menjadi prioritas, sedangkan sembilan lokasi lainnya akan dikembangkan secara bertahap,” ujar Pramono belum lama ini.
Di tengah pembangunan baru, sejumlah rusun generasi awal Jakarta mulai memasuki usia lebih dari empat dekade.
Rusun Klender yang mulai dihuni pada 1984, menjadi salah satu contoh hunian vertikal generasi pertama yang menghadapi kebutuhan peremajaan.
Selain itu, kawasan rusun awal seperti Tanah Abang dan Kebon Kacang juga menjadi bagian dari fase awal pengembangan hunian vertikal Jakarta sejak dekade 1980-an.
Pengamat tata kota Universitas Indonesia M. Aziz Muslim, Jumat (25/7/2026) mengatakan, bertambahnya usia bangunan membuat kebutuhan revitalisasi tidak dapat hanya dilakukan melalui perbaikan tampilan.
Menurutnya, peremajaan harus mencakup struktur bangunan, sistem utilitas, serta kualitas lingkungan agar fungsi hunian tetap optimal.
“Rusun Klender itu mencerminkan tantangan yang dihadapi hunian vertikal generasi pertama di Jakarta,” ujarnya.
Besarnya kebutuhan investasi revitalisasi menunjukkan pentingnya pemeliharaan sejak dini. Perum Perumnas pernah memperkirakan kebutuhan investasi sekitar Rp750 miliar, untuk merevitalisasi Rusun Klender. Nilai tersebut menjadi gambaran bahwa penundaan peremajaan dapat meningkatkan beban biaya pada masa mendatang.
Dengan aset mencapai puluhan ribu unit dan nilai investasi triliunan rupiah, keberhasilan kebijakan rusun Jakarta tidak hanya ditentukan oleh jumlah bangunan baru yang berdiri.
Tantangan berikutnya adalah memastikan aset lama tetap memberikan manfaat sosial dan ekonomi melalui pengelolaan serta revitalisasi yang berkelanjutan. (Artha Tidar)




























