Wartatrans.com, JAKARTA — Upaya pelestarian seni tradisi kembali mendapatkan pijakan penting. Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan bersama Igma Studio memulai produksi dua karya kebudayaan strategis: Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya Pengetahuan Maestro serta film pendek dokumenter drama Wayang Betawi. Proyek ini didukung Kementerian Kebudayaan RI dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui Program Pemanfaatan Hasil Dana Abadi Kebudayaan 2025–2026.
Dokumentasi naskah akan menghimpun warisan pengetahuan empat maestro besar dunia pedalangan: Ki Tristuti Rahmadi, Ki Manteb Soedarsono, Ki Asmorohadi, dan Ki R.Ng. Sastra Sasmita. Melalui program ini, gagasan, alur lakon, tata artistik hingga filosofi pewayangan yang mereka tinggalkan akan dikaji, disusun, dan dikemas menjadi sumber rujukan kebudayaan yang lebih mudah diakses publik.

Ketua Sanggar Humaniora, Eddie Karsito, menjelaskan bahwa proyek ini merupakan langkah penting dalam menyelamatkan pengetahuan yang selama ini banyak tersimpan dalam ingatan para maestro.
“Banyak warisan pengetahuan pewayangan yang terancam hilang jika tidak segera dirawat. Dokumentasi ini adalah cara kami menjaga apa yang telah diwariskan para guru budaya,” ujar Eddie.
Eddie menambahkan, dokumentasi ini bukan sekadar arsip, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap perjalanan para maestro.
“Mereka bukan hanya seniman, tetapi pengemban tradisi yang menjaga martabat seni wayang. Karya mereka harus terus hidup, dipelajari, dan dimaknai oleh generasi baru,” imbuhnya.
Selain dokumentasi naskah, proyek ini juga memproduksi film pendek dokumenter drama Wayang Betawi yang menggambarkan karakter khas seni perwayangan masyarakat Betawi. Film ini akan merekam proses kreatif, perubahan zaman, hingga tantangan para pelaku budaya dalam mempertahankan seni tradisional di tengah arus modernitas.
Salah satu produser dari Igma Studio menambahkan bahwa film ini ditujukan untuk memperkenalkan Wayang Betawi kepada publik muda.
“Kami ingin menunjukkan bahwa Wayang Betawi tetap relevan. Ia punya nilai estetika, humor, dan kedekatan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat urban. Dokumenter ini berupaya menjembatani tradisi dengan penonton generasi baru,” ujarnya.
Program Pemanfaatan Hasil Dana Abadi Kebudayaan disebut menjadi ruang penting bagi komunitas budaya untuk berkarya secara lebih terstruktur. Dukungan pendanaan memungkinkan proses produksi dilakukan secara mendalam, profesional, dan sesuai standar akademik kebudayaan.
“Ini bukan proyek semata, tetapi kontribusi nyata bagi ekosistem kebudayaan nasional,” tutup Eddie Karsito.
Proyek ini ditargetkan rampung dalam periode program 2025–2026 dan diharapkan menjadi referensi penting bagi dunia pendidikan, komunitas seni, hingga pemerhati kebudayaan di Indonesia.*** (Dulloh)























