Wartatrans.com, SEMARANG — Awal tahun 2026 menjadi periode rawan bencana bagi Kota Semarang. Dalam rentang waktu yang berdekatan, kota ini dilanda serangkaian peristiwa, mulai dari insiden keracunan massal siswa, banjir bandang, hingga tanah longsor di kawasan permukiman.
Peristiwa pertama terjadi pada Kamis (8/1/2026) ketika sebanyak 75 siswa SMK Negeri 11 Semarang mengalami dugaan keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG). Empat siswa harus menjalani perawatan di RS Hermina Banyumanik, sementara puluhan lainnya mendapat penanganan secara mandiri. Hingga kini, insiden tersebut masih dalam proses investigasi pihak terkait.

Belum tuntas penanganan kasus tersebut, hujan deras yang mengguyur Kota Semarang sejak Kamis hingga Jumat (9/1/2026) pagi memicu bencana hidrometeorologi. Tanah longsor terjadi di kawasan perbukitan Candisari, tepatnya di RT 1 RW 1 Kelurahan Karanganyar Gunung.
Material longsor berupa tanah, batu, dan pecahan pondasi rumah menimbun halaman warga serta menutup akses jalan kampung. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kerugian materi diperkirakan mencapai Rp 100 juta. Sedikitnya 10 warga terdampak parah akibat peristiwa tersebut.
Lurah Karanganyar Gunung, Nurhayati Budi Wahyuningsih, melalui Kepala Seksi Pemerintahan, Ketentraman dan Ketertiban Umum, Rully Adityabrata, mengatakan pihak kelurahan langsung berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang untuk penanganan awal di lokasi longsor.
“Koordinasi dilakukan segera untuk pembersihan material longsor dan memastikan keselamatan warga,” kata Rully.
Di hari yang sama, banjir juga melanda kawasan Pelabuhan Tanjung Emas setelah tanggul penahan air jebol. Banjir bandang tersebut merendam sejumlah area pelabuhan dengan ketinggian air mencapai sekitar 50 sentimeter, terutama di bawah Gerbang Gate 1 dan Gate 2 hingga masuk ke kawasan Lamicitra.
Sejumlah warga dan karyawan di sekitar pelabuhan terpaksa berjibaku melawan genangan air setinggi lutut, bahkan sepinggang orang dewasa. Peristiwa ini menambah daftar kejadian serupa yang sebelumnya terjadi pada tahun 2022 dan 2023.
Meski demikian, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Cabang Tanjung Emas memastikan aktivitas operasional pelabuhan tetap berjalan.
“Saat ini kami memastikan banjir tidak masuk ke area inti pelabuhan. Kami juga berupaya mengurangi volume air yang sudah terlanjur masuk ke kawasan Lamicitra,” ujar General Manager PT Pelabuhan Indonesia Cabang Pelabuhan Tanjung Emas, S. Joko.
Menurut Joko, pihaknya mengerahkan 64 unit mesin pompa berkapasitas tinggi yang disebar di sejumlah titik rawan banjir, mulai dari jalan akses, Terminal Penumpang, hingga Dermaga Samudera, guna mempercepat surutnya genangan.
Rentetan peristiwa tersebut kembali menegaskan kerentanan Kota Semarang terhadap berbagai jenis bencana, khususnya di tengah cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi pada awal tahun ini.*** (Slamet Widodo)






















