Menu

Mode Gelap
Arus Balik Nataru Menguat, Okupansi Layanan AKAP DAMRI Tembus 81 Persen Minat Kereta Panoramic Meningkat, KAI Catat 150.176 Pelanggan Sepanjang 2025 Libur Tahun Baru, Penumpang Commuter Line Tembus 15 Juta Orang Selama Nataru Fort Canning Tree Tunnel Jadi Spot Favorit Wisatawan di Singapura Relawan Sahabat Safar Dampingi Anak Korban Longsor di Desa Jongok Meluem KAI Daop 6 Yogyakarta Layani 1,004 Juta Penumpang hingga Hari ke-16 Angkutan Nataru

SENI BUDAYA

Seni, Sastra, dan AI: HSBI & JSM Ajak Pelaku Budaya Adaptif Hadapi Teknologi

badge-check


					Seni, Sastra, dan AI: HSBI & JSM Ajak Pelaku Budaya Adaptif Hadapi Teknologi Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – Menjawab tantangan zaman, Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) bersama Jagad Sastra Milenial (JSM) menggelar diskusi bertema “Film dan Sastra Menyikapi Artificial Intelligence (AI)”, di Galeri Darmin, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Kamis (20/11/2025).

Kegiatan ini menjadi wadah dialog antara teknologi dan seni, serta menggugah kesadaran pelaku budaya untuk bersikap adaptif terhadap perkembangan digital terutama kecerdasan buatan yang biasa dikenal AI.

Diskusi menghadirkan Praktisi film dan mantan insan televisi, Hanny Mustofa dan pakar IT sekaligus Ketua JSM Riri Satria.

Hanny mengajak pelaku seni tidak bersikap antipati terhadap AI. Menurutnya dari berbagi ide terutama seri bisa menghasilkan karya turunan yang lebih kaya.

“Justru kita harus ‘menyetubuhi’ dan kita manfaatkan kecanggihan teknologi itu untuk pelengkap kreativitas kita, tanpa harus bergantung pada kecanggihan teknologi itu sendiri,” jelas Hanny.

Dia juga mencontohkan, karya seni berupa seperti sastra malah bisa diangkat ulang untuk menjadi film. Bahkan semua karya film yang diangkat dari seni mendapatkan banyak apresiasi di masyarakat.

Lebih jauh Hanny mengatakan, bahwa selama ini para pelaku seni khususnya, dan masyarakat pada umumnya mampu beradaptasi terkait berbagai perkembangan.

Riri Satria menambahkan, meski AI mampu menghasilkan karya secara teknis, namun tetap tak bisa menggantikan esensi rasa dan estetika manusia. Semua produk kecanggihan teknologi bukanlah karya seni Murni.

“Ia produk engineering tanpa rasa dan estetika. Karena itulah karya murni buatan manusia tetap yang utama,” jelasnya.

“Tetapi bila kita tidak mau belajar, seperti orang bijak bilang – maka kebodohanlah yang kita dapatkan. Dan bisa saya tambahkan lagi, maka teknologi yang akan menguasai,” lanjut Riri.

Lanjut Riri, manusia harus mampu mengatur dan memaksimalkan kepintaran buatan tersebut. Karena biar bagaimana pun kecerdasan buatan itu adalah buatan, bukan kecerdasan hakiki seperti yang dimiliki manusia.

Acara dihadiri oleh Ketua Bidang Sastra HSBI Helvy Tiana Rossa, Uyung Mahagenta Ketua Bidang Musik HSBI, dan pengurus HSBI lainnya seperti Abdul Mujib, Nike, Ismail Lautan, dan Putra Gara yang menjadi moderator.

Diskusi yang berlangsung hingga sore hari ini juga diramaikan pembacaan puisi oleh sejumlah penyair dari JSM dan HSBI, serta interaksi aktif peserta dari berbagai latar belakang seni.

Selain itu ada pembacaan puisi dari JSM seperti Rommy Sastra, Nunung Noor El Niel, Erna Winarsih Wiyono, Khairani Piliang, Rissa Curtis, dan pengurus HSBI Helvy Tiana Rossa, Nike Fenty dan Doel Azhar.(****)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

PERUJA Rayakan Enam Tahun dengan Aksi Melukis “Bela Rasa” di Balai Budaya Jakarta

1 Januari 2026 - 07:54 WIB

Masyarakat Nglobo Sambut Tahun Baru 2026 dengan Apresiasi Seni di Sanggar Pule

1 Januari 2026 - 06:33 WIB

Kuyang Legenda Kalimantan Diangkat Ke Dalam Film

30 Desember 2025 - 09:31 WIB

Catatan LK Ara: Ketika Kayu Mulai Bertanya

30 Desember 2025 - 08:29 WIB

Komunitas Rancage Manunggal Rasa Bahas Program 2026

29 Desember 2025 - 08:16 WIB

Trending di RAGAM