Wartatrans.com, JAKARTA – Surabaya mulai memasuki tahap persiapan menuju era kereta rel listrik (KRL). Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan memulai penyusunan Detail Engineering Design (DED) untuk Surabaya Regional Railway Line (SRRL) pada 2026 sebagai fondasi pembangunan jaringan kereta komuter listrik di kawasan Surabaya Raya.
DED merupakan dokumen rancangan teknis rinci yang menjadi acuan sebelum proyek memasuki tahap pembangunan. Dokumen tersebut memuat perencanaan trase jalur, kebutuhan lahan, desain stasiun, sistem elektrifikasi, persinyalan, spesifikasi teknis, hingga estimasi biaya konstruksi.

Jika berjalan sesuai rencana, jaringan komuter listrik tersebut akan menjadikan Surabaya sebagai wilayah metropolitan ketiga di Indonesia yang memiliki layanan KRL setelah Jabodetabek dan koridor Yogyakarta–Solo.
Pembangunan fisik ditargetkan dimulai pada 2027 setelah seluruh perencanaan teknis diselesaikan. Pengembangan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat transportasi massal di kawasan metropolitan Gerbangkertosusila yang mencakup Surabaya, Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Sidoarjo, dan Lamongan.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan, Kamis (9/7/2026), penyusunan rancangan teknis memiliki tantangan besar karena proyek mencakup pembangunan jalur ganda dan elektrifikasi.
“Perencanaan ini memang bukan hal yang mudah, karena mencakup pembangunan double track dan elektrifikasi kereta. Biasanya di lapangan kita akan menemukan hal-hal baru, tantangan baru,” ujar Emil.
Kebutuhan transportasi massal di kawasan tersebut terus meningkat seiring pertumbuhan kawasan industri, permukiman, dan pusat ekonomi baru. Berdasarkan kajian Sustainable Urban Mobility Plan (SUMP), perjalanan harian dari Sidoarjo menuju Surabaya mencapai hampir 300 ribu perjalanan, sedangkan koridor Pasar Turi–Gresik–Lamongan–Babat memiliki potensi sekitar 250 ribu perjalanan per hari.
Tingginya mobilitas tersebut membuat kebutuhan angkutan berkapasitas besar semakin mendesak. KRL dinilai mampu menjadi solusi karena memiliki kapasitas angkut tinggi, waktu tempuh lebih konsisten, biaya operasional lebih efisien, serta tidak menghasilkan emisi gas buang langsung seperti kereta berbasis diesel.
Tahap awal pengembangan difokuskan pada koridor Surabaya–Sidoarjo yang menjadi salah satu jalur kereta tersibuk di Jawa Timur. Pengembangan mencakup pembangunan jalur ganda, elektrifikasi, modernisasi persinyalan, serta peningkatan keselamatan melalui pembangunan flyover, underpass, dan penataan perlintasan sebidang.
Menurut Emil, layanan kereta komuter Surabaya Raya saat ini masih memiliki ruang besar untuk dikembangkan. “Layanan komuternya belum optimal, jika nanti jalur ganda layanannya dapat seperti konsep di Jabodetabek,” katanya.
Nilai investasi SRRL diperkirakan mencapai 230 juta euro atau sekitar Rp4 triliun. Pendanaan tersebut didukung KfW Development Bank Jerman untuk mempercepat pembangunan transportasi rel perkotaan di Surabaya Raya.
Selain memperbaiki konektivitas, konsep Transit Oriented Development (TOD) diarahkan untuk menciptakan pusat aktivitas ekonomi baru di sekitar stasiun melalui integrasi kawasan hunian, bisnis, dan layanan publik.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, Rabu (16/7/2026), kolaborasi pemerintah pusat dan daerah menjadi faktor penting dalam memperkuat konektivitas wilayah.
“Sinergi antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Kementerian Perhubungan menjadi langkah strategis untuk memperkuat konektivitas antardaerah, memperlancar distribusi logistik, serta mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Khofifah.
Dengan target layanan lebih dari 200 ribu penumpang per hari, jaringan KRL Surabaya Raya diharapkan menjadi solusi mobilitas perkotaan sekaligus memperkuat daya saing ekonomi kawasan Gerbangkertosusila.***
(Artha Tidar)






























