Menu

Mode Gelap
KAI Logistik Tingkatkan Kapasitas Bisnis di Tahun 2026, Bidik Rp 2,47 Triliun Pendapatan IPC TPK Perkuat Kemandirian Generasi Muda Pesisir Lewat Sertifikasi Kompetensi Digital Distribusi Avtur ke YIA Naik 40 Persen, Dukung Lonjakan Penerbangan Jelang Lebaran 2026 Memasuki Ramadhan 2026, KAI Logistik Catat Peningkatan 16% Pengiriman Retail Angkutan Lebaran 2026: Perkuat Layanan dan Koordinasi, Pelindo Regional 4 Siap Optimalkan Operasional Pelabuhan Kembali Sediakan Mudik Gratis 2026, Pelindo Sinergi Lokaseva Siap Antarkan Pemudik dengan Aman & Nyaman

SENI BUDAYA

Swara Reiki January: Menjaga Iman di Negeri Ratu Elizabeth, Menemukan Makna Islam di Inggris

badge-check


 Swara Reiki January: Menjaga Iman di Negeri Ratu Elizabeth, Menemukan Makna Islam di Inggris Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Hidup sebagai muslim di negeri dengan mayoritas non-muslim bukan perkara mudah. Namun bagi Swara Reiki January, putra sulung penyanyi multitalenta asal Madiun, Ratna Listy, pengalaman menempuh pendidikan di Inggris justru menjadi perjalanan spiritual yang memperkuat imannya.

“Pesan Mommy, jangan pernah tinggalkan salat, sesibuk apa pun. Itu yang membuat saya terus menjalankan salat lima waktu,” ujar Swara saat berbincang di kediamannya di kawasan Kota Wisata, Kabupaten Bogor, Kamis (26/2/2026).

Meski Islam merupakan agama minoritas di Inggris, Reiki mengaku tidak mengalami kesulitan berarti dalam menjalankan ibadah. Fasilitas untuk beribadah tersedia dengan baik, termasuk masjid dan ruang ibadah di kampus.

“Masjid ada. Di kampus-kampus juga disediakan ruang untuk melaksanakan salat lima waktu,” ungkapnya.

Datang dengan Mimpi Akademik

Swara tiba di London pada usia 18 tahun dengan satu tujuan utama: memperdalam ilmu komunikasi di salah satu kota paling internasional di dunia. London dikenal sebagai melting pot berbagai bangsa, dengan lebih dari 60 persen penduduknya berasal dari latar belakang multikultural.

“Bahasa Inggris itu bahasa universal. Dan London benar-benar kota dunia. Orang dari berbagai benua ada di sana,” tutur cowok yang hoby olahraga ini.a

Namun di balik gemerlap kota global tersebut, Swara justru menemukan makna baru dalam menjalankan agama.

Muslim Minoritas, Solidaritas Lebih Kuat

Di Inggris, jumlah umat Islam mencapai lebih dari 2,5 juta orang. Meski minoritas, solidaritas antar-muslim justru terasa lebih erat.

“Kita jadi lebih saling menguatkan. Datang ke masjid rasanya beda. Orang-orang tahu kita sama-sama muslim, langsung terasa ikatannya,” kata Reiki bangga

Jarak tempat tinggalnya ke masjid hanya sekitar delapan menit berjalan kaki. Selain itu, di kampusnya terdapat fasilitas ruang ibadah multifaith serta Islamic Society, organisasi mahasiswa muslim yang aktif menggelar diskusi, kajian, hingga kegiatan sosial.

Setiap pekan, mereka rutin mengadakan forum bertema keislaman, mulai dari penguatan mental dan fisik dalam Islam hingga isu kemanusiaan global seperti penggalangan dana untuk Palestina. Bahkan dalam aktivitas santai seperti bermain sepak bola, nilai-nilai adab tetap dijaga.

“Kalau sudah Maghrib, ya berhenti, salat dulu di lapangan. Ketua komunitas juga selalu mengingatkan untuk tidak berkata kasar. Jadi bukan sekadar agama di KTP,” ujar cowok yang pernah Nyambi jadi driver Ojek Online ini

Ujian Ramadan 18 Jam

Salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah menjalani ibadah Ramadan di Inggris, terutama saat musim panas.

Ia pernah merasakan puasa hingga 18 jam, dengan waktu sahur sekitar pukul 03.00 dini hari dan berbuka mendekati pukul 21.00 hingga 22.00 malam. Bahkan, suhu ekstrem hingga 40 derajat Celsius sempat ia alami ketika gelombang panas melanda Eropa.

“Subuh bisa jam 3 pagi, Maghrib jam 9 atau 10 malam. Tapi justru di situ terasa perjuangannya. Kita benar-benar sadar sedang beribadah,” katanya.

Suasana Ramadan di Inggris memang berbeda dengan di Indonesia. Tidak ada takjil di setiap sudut jalan atau azan yang berkumandang luas. Penanda waktu salat lebih banyak mengandalkan aplikasi digital, sementara komunitas muslim kampus aktif saling mengingatkan melalui grup percakapan.

“Kalau di Indonesia kita dengar azan di mana-mana. Di sana kita tahu waktu sholat dari aplikasi atau diingatkan teman-teman sesama muslim,” pungkas Swara Reiki January. *** (Buyil)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

“Tobat Woy!” Jadi Magnet, Para Pencari Tuhan Jilid 19 Rajai Rating Sahur Ramadan 2026

27 Februari 2026 - 14:10 WIB

Sinetron Lorong Waktu Jilid 2 Hadirkan Petualangan Sarat Makna di Ramadan 1447 H

27 Februari 2026 - 11:13 WIB

Baiti Syaghaf Bersyukur Tamara di “Lorong Waktu Jilid 2” Makin Dicintai, Aktingnya Dipuji Lebih Dewasa

26 Februari 2026 - 21:50 WIB

Bangga Jadi WNI, Swara Reiki January Pilih Kembali ke Merah Putih Usai Raih Gelar Sarjana di London

26 Februari 2026 - 17:30 WIB

Diawali Santunan Anak Yatim, Nita Thalia Jalani Operasi Facelift di Klinik Bedah Plastik Queen Sunter

25 Februari 2026 - 20:37 WIB

PJBW Pekan ke-64: Wartawan Berbagi Takjil dan Sedekah Barang untuk Anak Yatim dan Kaum Dhuafa

23 Februari 2026 - 20:39 WIB

Gallery Hanjuang: Ruang Seni dan Apresiasi yang Tumbuh dari Mimpi di Pinggir Kali Cilakar

19 Februari 2026 - 09:30 WIB

Long Weekend Imlek, InJourney Hadirkan Pengalaman Berkesan di Bandara, Hotel, dan Destinasi Wisata

18 Februari 2026 - 14:35 WIB

Rumah Budaya HMA, Diplomasi Sastra dan Budaya, Merawat Harmoni Indonesia–Mesir

16 Februari 2026 - 19:18 WIB

Ratusan Warga Tonton Film NOEH (Pasung) di RSJ Aceh, Hujan Tak Surutkan Ikhtiar Lawan Stigma ODGJ

16 Februari 2026 - 14:38 WIB

Trending di RAGAM