Menu

Mode Gelap
Komunitas Seni Kuflet Gelar Tur Literasi Sumatera di Jambi, Sasar Kampus hingga Komunitas INDOSIAR Luncurkan “Band Academy”, Upaya Hidupkan Kembali Era Musik Band Indonesia Rayakan Liburan dengan Perjalanan Hemat, DAMRI Hadirkan Promo “Twin Date 4.4 Kelola 196 Ribu Penumpang, Pelindo Regional 2 Pastikan Kelancaran Arus Lebaran 2026 KAI Daop 7 Madiun Layani 492 Ribu Pelanggan Selama Angkutan Lebaran 2026 Awal Libur Panjang Paskah, Volume Penumpang Kereta Api Tembus 183 Ribu

NASIONAL

Tokoh Islam yang Bergelar Pahlawan

Avatar photobadge-check


 Tokoh Islam yang Bergelar Pahlawan Perbesar

WartaTrans.com — Tidak sedikit tokoh besar Indonesia tumbuh di lingkungan pesantren. Pendidikan agama yang mereka jalani membentuk karakter, wawasan, serta semangat juang yang tinggi dalam melawan penjajah. Karena dedikasi besar mereka terhadap bangsa, sejumlah kiai dan santri tersebut akhirnya mendapat gelar Pahlawan Nasional dari pemerintah.

Salah satu sosok yang cukup dikenal adalah Pangeran Diponegoro. Pejuang asal Yogyakarta ini ternyata pernah menuntut ilmu agama di Pesantren Gebang Tinanar, Ponorogo, di bawah bimbingan Kiai Hasan Besari. Selain Diponegoro, masih banyak tokoh lain yang berlatar belakang pesantren dan diakui sebagai pahlawan bangsa.

Pada 10 November 2025 ini, berikut daftar Pahlawan Nasional dari Kalangan Santri dan Kiai:

1. KH Hasyim Asy’ari
Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) ini memperoleh gelar Pahlawan Nasional pada 17 November 1964. Beliau menempuh pendidikan di beberapa pesantren besar, seperti Wonokoyo (Probolinggo), Langitan (Tuban), Trenggilis (Semarang), Kademangan (Bangkalan), dan Siwalan (Sidoarjo). KH Hasyim Asy’ari juga dikenal sebagai penggagas Resolusi Jihad, seruan yang menggerakkan rakyat untuk melawan penjajahan.

2. KH Ahmad Dahlan
Pendiri Muhammadiyah ini mendapat gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1961 berdasarkan SK Presiden No. 657/1961. Laman resmi Muhammadiyah mencatat, sejak muda ia telah akrab dengan dunia pesantren dan belajar agama serta bahasa Arab. Tokoh yang bernama asli Muhammad Darwis ini juga sempat menimba ilmu di Makkah selama lima tahun sejak usia 15 tahun (1883).

3. Pangeran Diponegoro
Sejak kecil, Diponegoro dididik oleh GKR Ageng Tegalreja, keturunan ulama besar Ki Ageng Derpoyudo. Nama kecilnya adalah Bendara Raden Mas Mustahar, kemudian dikenal sebagai Bendara Raden Mas Antawirya dengan nama Islam Abdul Hamid.

Diponegoro tumbuh di lingkungan santri dan menempuh pendidikan agama di pesantren. Latar keagamaannya yang kuat membentuk pribadi yang tegas dan berpegang pada nilai-nilai Islam. Ia dikenal sebagai sosok yang berani, cerdas, dan memiliki tekad besar untuk menentang penjajahan. Atas perjuangannya memimpin Perang Jawa, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 87/TK/1973.

4. KH Wahid Hasyim
Putra KH Hasyim Asy’ari sekaligus ayah dari Presiden keempat RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ini ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 24 Agustus 1964. Ia belajar di Pesantren Siwalan, Panji, dan Lirboyo (Kediri). Sepulangnya ke Tebuireng, KH Wahid Hasyim mengembangkan pendidikan dan mendirikan Madrasah Nidzmiyah.

5. KH Zainal Arifin
Pemimpin Laskar Hizbullah ini mendapat gelar Pahlawan Nasional pada 4 Maret 1963. Dikenal dengan nama Lora Zainal, ia menuntut ilmu di Pesantren Karay (Sumenep) serta Pesantren KH Muhammad Kholil (Bangkalan). Di masa kemerdekaan, ia juga pernah menjabat Wakil Perdana Menteri Indonesia (1953-1955).

6. KH Zainal Mustafa
Ulama pejuang asal Tasikmalaya ini ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 1972. Ia dikenal memimpin perlawanan terhadap penjajah di Singaparna dan pernah menjabat Wakil Rais Syuriyah NU. Semasa hidupnya, KH Zainal Mustafa menimba ilmu di berbagai pesantren, di antaranya Gunung Pari, Cilenga Leuwisari, Sukaraja Garut, Sukamiskin Bandung, dan Jamanis Rajapolah.

7. KH Noer Ali
Dikenal dengan julukan “Singa Karawang-Bekasi”, KH Noer Ali menjadi simbol perjuangan masyarakat Bekasi. Ia mendapatkan gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2006. Semasa muda, ia belajar kepada Guru Maksum (Kampung Bulak), Guru Mughni, dan KH Marzuki. Kini namanya diabadikan sebagai salah satu jalan utama di Bekasi.

8. KH Idham Chalid
Menurut catatan resmi NU, KH Idham Chalid pernah menjabat Wakil Perdana Menteri di dua kabinet serta memimpin MPR dan DPR. Ia juga menjadi Ketua Umum PBNU terlama, sejak 1956 hingga 1984. Karena jasanya, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 8 November 2011, dan potretnya dimunculkan pada uang kertas Rp5.000 edisi 19 Desember 2016.

9. KH Abdul Wahab Chasbullah
Pendiri NU lainnya ini aktif mendirikan lembaga seperti Tashwirul Afkar, Madrasah Nahdlatul Wathan, dan Nahdlatut Tujjar. Bersama KH Hasyim Asy’ari, ia turut membidani lahirnya NU pada 1926 dan menjadi Rais ‘Aam PBNU. Tokoh dari Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang ini memperoleh gelar Pahlawan Nasional pada 8 November 2014.

10. KH As’ad Syamsul Arifin
Sebagai pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, beliau berperan penting dalam perlawanan rakyat di Situbondo, Jember, dan Bondowoso. Dalam peristiwa 10 November 1945, KH As’ad memimpin para santri berjuang melawan penjajah. Setelah Indonesia merdeka, ia terus mendorong pemerataan pembangunan serta menegaskan keselarasan Pancasila dengan nilai-nilai Islam. Gelar Pahlawan Nasional diberikan pada 9 November 2016.

11. KH Syam’un
Ulama asal Serang, Banten ini dikenal cerdas dan menguasai tiga bahasa asing. Seusai menimba ilmu di Arab Saudi, KH Syam’un kembali ke tanah air dan bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air) hingga berpangkat Brigadir Jenderal. Ia memimpin ribuan pasukan dalam perjuangan kemerdekaan dan gugur pada tahun 1949. Pemerintah menobatkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 8 November 2018.

12. KH Masykur
Sebagai anggota BPUPKI, KH Masykur turut menyusun Pancasila dan berperan besar dalam pembentukan PETA, cikal bakal TNI. Tokoh NU ini dikenal memiliki kontribusi besar bagi kemerdekaan serta pertahanan Indonesia.

Demikian 12 tokoh Islam yang masuk pada gelar pahlawan. Dan sebagai santri, mereka menanamkan jiwa nasionalisnya untuk negeri Indonesia tercinta.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Rayakan Liburan dengan Perjalanan Hemat, DAMRI Hadirkan Promo “Twin Date 4.4

2 April 2026 - 23:40 WIB

Kelola 196 Ribu Penumpang, Pelindo Regional 2 Pastikan Kelancaran Arus Lebaran 2026

2 April 2026 - 23:02 WIB

Dukung Persiapan Konsumsi Jemaah Haji, Garuda Terbangkan 15 Ton Makanan Siap Saji ke Jeddah

2 April 2026 - 19:36 WIB

Cerita dari Bukit Sinyonya: FIFGROUP Wujudkan Desa Sejahtera dan Sekolah yang Lebih Layak 

2 April 2026 - 18:29 WIB

Advokad Wahyudi Perkuat Lini Hukum Wartatrans.com, Respons Meningkatnya Risiko Sengketa Media Digital

2 April 2026 - 16:48 WIB

Pengaturan Gate Pass Terkoordinasi dan Terukur, Arus Barang di Pelabuhan Tanjung Priok Tetap Lancar

2 April 2026 - 16:45 WIB

Advokat Nourman, SH Gabung Di Wartatrans.com sebagai Kuasa Hukum, Perkuat Profesionalisme Media

2 April 2026 - 16:32 WIB

Sumur Bor untuk Warga Terdampak Bencana di Aceh Utara Rampung, Aktivis: Ini Awal Pemulihan

2 April 2026 - 15:49 WIB

Pengukuhan Imuem Syiek Abu Indrapuri Picu Polemik, Kuasa Hukum BKM Minta Polda Periksa Bupati Aceh Besar

2 April 2026 - 14:56 WIB

Gempa Berpotensi Tsunami Sulut dan Mulut Bisa Picu ke Aceh? Ini Kata BMKG

2 April 2026 - 10:06 WIB

Trending di PERISTIWA