Oleh. Tgk Lah Buket Batee
_______

Wartatrans.com —- Jarang kita temukan sosok yang mampu mengawinkan kedalaman ilmu agama dengan ketajaman insting bisnis dalam satu tarikan napas pengabdian.
Di Aceh, sosok itu hadir pada diri Ayahanda Tu Sop Jeunieb (Tgk. Muhammad Yusuf A. Wahab).
Beliau adalah ulama multitalenta—pemimpin ruhani, pendidik, sekaligus penggerak kemandirian ekonomi umat. Sebagai pimpinan Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunieb, Bireuen, Tu Sop tidak hanya mencetak santri yang alim, tetapi juga membangun ekosistem kemandirian yang nyata dan berkelanjutan.
1. Pelopor Kemandirian Ekonomi Umat
(Dikenal sebagai “Bapak Pengusaha”)
Tu Sop mendobrak stigma lama bahwa lembaga pendidikan agama harus selalu bergantung pada bantuan. Melalui payung usaha Yadara, beliau membuktikan bahwa dayah dapat berdiri tegak secara finansial, bahkan memberi manfaat luas bagi masyarakat.
Beberapa lini usaha yang dikembangkan antara lain:
Air Minum Le Yadara – Produk AMDK kebanggaan lokal.
Radio Yadara – Media dakwah dan edukasi yang menjangkau lintas lapisan.
Travel Yadara – Layanan transportasi dan perjalanan yang profesional dan amanah.
2. Penggerak Filantropi melalui BMU
Kepedulian sosial beliau terwujud melalui Barisan Muda Umat (BMU).
Organisasi ini menjadi motor penggerak aksi kemanusiaan: pembangunan rumah layak huni, bantuan kebencanaan, hingga penguatan solidaritas sosial.
BMU mengonsolidasikan energi anak muda untuk bergerak, bukan sekadar bersimpati.
3. Tokoh Inklusif dan Universal
Dengan kemampuan komunikasi yang hangat dan membumi, Tu Sop diterima oleh seluruh lapisan masyarakat. Beliau mampu berdiri di tengah-tengah:
Kalangan profesional, sebagai mitra diskusi yang visioner.
Anak muda, sebagai mentor yang menginspirasi dan membangkitkan keberanian bermimpi. Rakyat jelata, sebagai guru yang rendah hati dan mengayomi.

4. Orator dengan Pesan yang Menghujam
Setiap tausiyah beliau selalu dinanti dan dihadiri ribuan jemaah. Kekuatan utamanya bukan sekadar retorika, melainkan kejujuran hidup. Apa yang beliau sampaikan adalah apa yang beliau jalani—sehingga nasihatnya tidak hanya terdengar, tetapi menetap di sanubari.
Kini, sosok inspiratif itu telah berpulang ke haribaan-Nya. Namun api yang beliau nyalakan tidak boleh padam. Cara terbaik menghormati beliau bukan sekadar mengenang, melainkan meneruskan cita-citanya:
mandiri dalam ekonomi, peduli dalam sosial, dan lurus dalam akidah.
Ya Allah, tempatkan Guru kami, Tu Sop, di sisi terbaik-Mu. Ampunilah segala khilafnya, dan terimalah seluruh amal jariyahnya yang terus mengalir untuk umat ini. Amin.***




















