Menu ✖

Mode Gelap
KAI Percepat Implementasi Rekomendasi KNKT, 190 Titik Perlintasan Jadi Prioritas Lima Tahun Pascamerger, Pelindo Teguhkan Transformasi Berlandaskan Semangat Persatuan Netizen Jepang Soroti Petugas KAI Services Bersihkan KRL Saat Kereta Beroperasi Sambut Hari Pelindo, Regional 4 Gelar Donor Darah dan Target 100 Kantong DPD Tani Merdeka Indonesia Aceh Tengah Ucapkan Selamat atas Pelantikan Plt. Kepala Dinas Pertanian Mulai Hari Ini, Argo Muria, Argo Sindoro, dan Argo Merbabu Gunakan Satu Nama KA Muria, KAI Ingatkan Pelanggan Jangan Keliru

SENI BUDAYA

Unjuk Rasa, Unjuk Karya: Seniman Perjuangkan TIM sebagai Ruang Sejarah dan Peradaban

badge-check


 Unjuk Rasa, Unjuk Karya: Seniman Perjuangkan TIM sebagai Ruang Sejarah dan Peradaban Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Ratusan seniman, budayawan, sastrawan, musisi, pekerja kreatif, akademisi, mahasiswa, dan komunitas seni berkumpul dalam gerakan “Unjuk Rasa, Unjuk Karya” yang digelar Front Penggerak Seni Taman Ismail Marzuki (FPSTIM) pada 25–26 Juli 2026.

Gerakan tersebut menjadi ruang bagi para pelaku seni untuk menyampaikan aspirasi mengenai masa depan Taman Ismail Marzuki (TIM). Bagi mereka, perjuangan yang disuarakan bukan sekadar mempertahankan sebuah kawasan, melainkan menjaga ruang kebudayaan yang selama lebih dari setengah abad telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah kesenian Indonesia.

Beragam kegiatan digelar dalam rangkaian aksi tersebut, mulai dari pameran mural, arsip sejarah, instalasi seni, pembacaan puisi, musik, teater, hingga diskusi publik. Para seniman memilih menyampaikan kritik dan aspirasi melalui karya seni sebagai bentuk ekspresi yang damai dan konstruktif.

Koordinator acara, Mila, menegaskan bahwa gerakan tersebut bukan merupakan penolakan terhadap pembangunan maupun modernisasi. Menurutnya, pembangunan fisik merupakan sebuah keniscayaan, namun harus tetap mempertahankan fungsi TIM sebagai pusat penciptaan, pendidikan, dialog, eksperimen artistik, dan regenerasi seniman.

“Modernisasi akan kehilangan makna apabila ruang yang dibangun justru semakin jauh dari kehidupan para pelaku seni,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Salah satu aksi simbolik ditampilkan melalui Karnaval Keranda yang dikoordinasikan Ridho. Sebuah keranda bertuliskan “Matinya Ruang Berkesenian di TIM” diarak sebagai simbol kekhawatiran para seniman terhadap kemungkinan hilangnya ruang hidup kesenian di kawasan tersebut.

Selain itu, peserta membawa sejumlah poster yang menyuarakan pentingnya mempertahankan TIM sebagai pusat kesenian, menjaga ruang publik bagi masyarakat, serta mendorong evaluasi terhadap tata kelola kawasan.

Rangkaian kegiatan juga diisi diskusi publik bertajuk “Mengurai Benang Kusut Tata Kelola Taman Ismail Marzuki” yang dimoderatori Dinaldo dan Mujib Hermani, dengan Remmy Novaris DM dan Mila Nabila sebagai narasumber.

Diskusi tersebut menjadi ruang dialog antara seniman, akademisi, pekerja budaya, dan komunitas untuk membahas tata kelola pusat kesenian yang transparan, partisipatif, serta berpihak pada keberlangsungan ekosistem seni.

Menjelang malam, panggung budaya yang dikoordinasikan Adit menghadirkan berbagai pertunjukan, di antaranya pembacaan puisi, musik akustik, musikalisasi puisi, rap, dan pertunjukan teatrikal yang melibatkan seniman lintas generasi.

Seluruh rangkaian kegiatan didukung oleh kepanitiaan yang dipimpin Budi Renil sebagai Stage Manager, bersama Andrew, Dyah Kencono Puspito, David Karo-Karo, Cupank, Lucy, Mangeto, Janny, Ilham, dan Egga. Kegiatan berlangsung dalam suasana tertib, damai, dan terbuka bagi masyarakat.

Melalui gerakan “Unjuk Rasa, Unjuk Karya”, FPSTIM menegaskan bahwa TIM tidak hanya dipandang sebagai kumpulan gedung pertunjukan. Kawasan tersebut dianggap sebagai ruang bersama tempat kreativitas tumbuh, pengetahuan diwariskan, dan kebudayaan Indonesia terus berkembang dari generasi ke generasi.

Bagi para seniman, menjaga ruang kesenian berarti menjaga daya pikir, daya cipta, dan ingatan kolektif sebuah bangsa. Karena itu, pembangunan masa depan dinilai tidak cukup hanya dengan mendirikan bangunan baru, tetapi juga harus memastikan ruang-ruang kebudayaan yang telah membentuk perjalanan seni Indonesia tetap hidup dan memiliki tempat bagi generasi mendatang.***  (Nuyang Jaimee)

Baca Lainnya

Lima Tahun Pascamerger, Pelindo Teguhkan Transformasi Berlandaskan Semangat Persatuan

1 Oktober 2026 - 14:43 WIB

Sambut Hari Pelindo, Regional 4 Gelar Donor Darah dan Target 100 Kantong

1 Oktober 2026 - 14:29 WIB

Pengobatan Gratis BMPRI Dekatkan Layanan Kesehatan kepada Warga Kampung Antalisa

1 Oktober 2026 - 12:49 WIB

Kebun Hantu, Menyusuri Arsip Tubuh dan Pengalaman yang Tak Selesai

1 Oktober 2026 - 10:53 WIB

AI Mengubah Wajah Demokrasi, Akademisi: Verifikasi Jadi Senjata Publik

1 Oktober 2026 - 10:43 WIB

Penerapan Biometrik Meluas, dari Registrasi SIM Card hingga Perjalanan Udara

1 Oktober 2026 - 09:31 WIB

Dr. Mohammad Amin, M. Sn,MA Jangan Malu Disebut Kampungan, Dangdut Justru Siap Menembus UNESCO

1 Oktober 2026 - 03:44 WIB

Mansyur S Minta Wejangan Rhoma Irama: Jangan Takut Dangdut Ditinggal Anak Muda

1 Oktober 2026 - 03:12 WIB

Jeritan Pilu Warga Berawang Baro Pegasing Delapan Dekade Merdeka, Terisolasi di Kubangan Lumpur dan Janji Manis Pembangunan ‎

1 Oktober 2026 - 03:08 WIB

Peduli Lingkungan Sejak Dini, Terminal Teluk Lamong Edukasi Siswa tentang Pemilahan Sampah

30 September 2026 - 20:34 WIB

Trending di NASIONAL