Menu

Mode Gelap
UMK Kubu Raya 2026 Naik 7,7 Persen, Ditetapkan Rp3,1 Juta Warga Tangse Masuk Hutan Lindung, Cari Pelaku Tambang Ilegal Penyebab Banjir Bandang Penyeberangan Merak–Bakauheni Terpantau Aman dan Lancar, Cuaca Bersahabat Kembang Api di Jembatan Esplanade, Singapura: Harapan Baru Menyambut 2026 Presiden Tinjau Huntara Aceh Tamiang, Tegaskan Komitmen Pemerintah Tangani Dampak Bencana Sanggar Seni Surawisesa Gelar Diskusi Nasab Leluhur Awali Tahun 2026

RAGAM

Wabah Penyakit Kulit Serang Warga Desa Atu Payung Aceh Tengah, Akses Kesehatan Terisolasi Pasca Longsor

badge-check


					Wabah Penyakit Kulit Serang Warga Desa Atu Payung Aceh Tengah, Akses Kesehatan Terisolasi Pasca Longsor Perbesar

Wartatrans.com, ACEH TENGAH – Kondisi kesehatan anak-anak dan warga di Desa Atu Payung, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, kian mengkhawatirkan pascabencana longsor. Penyakit kulit jenis cacar dilaporkan menyerang tidak hanya anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Penyebaran penyakit diduga dipicu oleh buruknya sanitasi air bersih di wilayah tersebut.

Situasi semakin diperparah setelah tenaga kesehatan, termasuk bidan desa, mengungsi akibat longsor. Selama lebih dari 30 hari terakhir, warga tidak mendapatkan penanganan medis yang memadai. Desa Atu Payung, termasuk wilayah Serule dan Jamur Konyel, hingga kini masih dalam kondisi terisolasi.

Akses menuju fasilitas kesehatan terdekat, yakni Puskesmas Kecamatan Bintang, sangat sulit. Warga harus menempuh perjalanan sekitar 11 jam berjalan kaki dengan beban maksimal 20 kilogram. Sementara itu, menggunakan sepeda motor memerlukan waktu sekitar 6 hingga 8 jam melalui medan yang ekstrem dan berisiko tinggi.

Penyakit kulit serang balita.

Akibat keterisolasian tersebut, banyak warga yang menderita penyakit tidak dapat segera ditangani. Tim Relawan Posko Rakyat Aceh Tengah pun mengaku kewalahan melakukan evakuasi medis karena kondisi sebagian pasien tidak memungkinkan untuk dibawa melalui jalur darat.

“Kami berharap Kementerian Kesehatan dan pihak terkait bisa lebih memperhatikan kondisi kesehatan masyarakat di daerah terisolasi. Kami sangat membutuhkan penanganan cepat bagi pasien, terutama anak-anak dan warga yang memiliki riwayat penyakit rentan,” ujar seorang ibu balita di Desa Atu Payung.

Hingga saat ini, warga masih bertahan dengan keterbatasan air bersih dan fasilitas kesehatan. Mereka berharap adanya intervensi cepat dari pemerintah, baik melalui layanan kesehatan darurat, distribusi obat-obatan, maupun upaya pembukaan akses agar penanganan medis dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Warga Desa Atu Payung berharap bencana ini segera berlalu, sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali normal dan kondisi kesehatan mereka pulih sepenuhnya.*** (Jasa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Warga Tangse Masuk Hutan Lindung, Cari Pelaku Tambang Ilegal Penyebab Banjir Bandang

2 Januari 2026 - 06:35 WIB

Kembang Api di Jembatan Esplanade, Singapura: Harapan Baru Menyambut 2026

2 Januari 2026 - 01:10 WIB

Presiden Tinjau Huntara Aceh Tamiang, Tegaskan Komitmen Pemerintah Tangani Dampak Bencana

1 Januari 2026 - 21:37 WIB

Sanggar Seni Surawisesa Gelar Diskusi Nasab Leluhur Awali Tahun 2026

1 Januari 2026 - 21:20 WIB

Refleksi Awal Tahun, Noyo Gimbal View Dipadati Wisatawan

1 Januari 2026 - 18:57 WIB

Trending di RAGAM