Menu

Mode Gelap
KA Batara Kresna Jadi Pilihan Wisata Akhir Pekan dari Solo ke Wonogiri, Tarif Rp4.000 KAI Wisata Gandeng Jakarta Infrastruktur Propertindo, Hadirkan Integrasi Transportasi Wisata dan Media Iklan Digital Meningkat, Pengguna Commuter Line Jabodetabek Tembus 86,8 Juta pada Triwulan I 2026 Dica Melo Sukses Sebagai Brand Ambassador, Kembali Dikontrak Meinl. Jumat Berkah di Tanjung Priok: Wujud Kepedulian Polri Pererat Silaturahmi dengan Masyarakat KA Blora Jaya Tumbuh 72,76% pada Triwulan I 2026, Perjalanan yang Menghubungkan Harapan Banyak Masyarakat

RAGAM

Wabah Penyakit Kulit Serang Warga Desa Atu Payung Aceh Tengah, Akses Kesehatan Terisolasi Pasca Longsor

badge-check


 Wabah Penyakit Kulit Serang Warga Desa Atu Payung Aceh Tengah, Akses Kesehatan Terisolasi Pasca Longsor Perbesar

Wartatrans.com, ACEH TENGAH – Kondisi kesehatan anak-anak dan warga di Desa Atu Payung, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, kian mengkhawatirkan pascabencana longsor. Penyakit kulit jenis cacar dilaporkan menyerang tidak hanya anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Penyebaran penyakit diduga dipicu oleh buruknya sanitasi air bersih di wilayah tersebut.

Situasi semakin diperparah setelah tenaga kesehatan, termasuk bidan desa, mengungsi akibat longsor. Selama lebih dari 30 hari terakhir, warga tidak mendapatkan penanganan medis yang memadai. Desa Atu Payung, termasuk wilayah Serule dan Jamur Konyel, hingga kini masih dalam kondisi terisolasi.

Akses menuju fasilitas kesehatan terdekat, yakni Puskesmas Kecamatan Bintang, sangat sulit. Warga harus menempuh perjalanan sekitar 11 jam berjalan kaki dengan beban maksimal 20 kilogram. Sementara itu, menggunakan sepeda motor memerlukan waktu sekitar 6 hingga 8 jam melalui medan yang ekstrem dan berisiko tinggi.

Penyakit kulit serang balita.

Akibat keterisolasian tersebut, banyak warga yang menderita penyakit tidak dapat segera ditangani. Tim Relawan Posko Rakyat Aceh Tengah pun mengaku kewalahan melakukan evakuasi medis karena kondisi sebagian pasien tidak memungkinkan untuk dibawa melalui jalur darat.

“Kami berharap Kementerian Kesehatan dan pihak terkait bisa lebih memperhatikan kondisi kesehatan masyarakat di daerah terisolasi. Kami sangat membutuhkan penanganan cepat bagi pasien, terutama anak-anak dan warga yang memiliki riwayat penyakit rentan,” ujar seorang ibu balita di Desa Atu Payung.

Hingga saat ini, warga masih bertahan dengan keterbatasan air bersih dan fasilitas kesehatan. Mereka berharap adanya intervensi cepat dari pemerintah, baik melalui layanan kesehatan darurat, distribusi obat-obatan, maupun upaya pembukaan akses agar penanganan medis dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Warga Desa Atu Payung berharap bencana ini segera berlalu, sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali normal dan kondisi kesehatan mereka pulih sepenuhnya.*** (Jasa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

FIFASTRA Raih Silver WOW Brand 2026 Kategori Motorcycle Leasing

17 April 2026 - 14:49 WIB

Maret 2026, IPC TPK Jambi Catat Pertumbuhan Arus Peti Kemas 22,5 Persen

17 April 2026 - 14:10 WIB

360 PPIH Daker Madinah Siap Sukseskan Haji 2026

17 April 2026 - 12:15 WIB

Panen Melimpah Pasca Bencana, Petani Kopi Gayo Kekurangan Buruh Petik

17 April 2026 - 11:31 WIB

Bersama Rumah Aksara, Guru SMA Asah Kompetensi Menulis di Perpustakaan Bogor

17 April 2026 - 11:04 WIB

Helikopter Jatuh di Sekadau, Seluruh Penumpang Dilaporkan Tewas

17 April 2026 - 10:42 WIB

Pemulihan Pascabencana Aceh Didorong Terintegrasi, Dana Rp 824,8 Miliar Disiapkan

16 April 2026 - 20:01 WIB

Tokoh Pemuda Aceh di Jakarta Soroti Lambannya Penanganan Bencana

16 April 2026 - 18:39 WIB

Kajati Sulteng Kunker ke Tolitoli, Resmikan Mess Kejari Hasil Hibah Pemda

16 April 2026 - 16:40 WIB

HBH Seusama Jadi Momentum Penggalangan Dana Balai Pengajian, Kegiatan Digelar di Jakarta dan Aceh

16 April 2026 - 14:09 WIB

Trending di RAGAM