Menu

Mode Gelap
Saat Asosiasi Maskapai Menanti Perubahan TBA dari Pemerintah Antisipasi Kepadatan Gilimanuk, Menhub Dudy Tinjau Pelabuhan Celukan Bawang KCIC Gratiskan Tiket Bayi di Bawah 3 Tahun Selama Libur Sekolah, Perjalanan Keluarga dengan Whoosh Makin Nyaman Anggota DPR RI Fraksi NasDem Rachmat Gobel Meninggal Dunia di Usia 63 Tahun Sengkarut 4 Blok Lahan Kosong Negara di Kemayoran: Ketegasan Negara Menghilang? Pasar K-Culture Melejit, Destinasi Baru Incar Cuan di Jakarta

RAGAM

Wabah Penyakit Kulit Serang Warga Desa Atu Payung Aceh Tengah, Akses Kesehatan Terisolasi Pasca Longsor

badge-check


 Wabah Penyakit Kulit Serang Warga Desa Atu Payung Aceh Tengah, Akses Kesehatan Terisolasi Pasca Longsor Perbesar

Wartatrans.com, ACEH TENGAH – Kondisi kesehatan anak-anak dan warga di Desa Atu Payung, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, kian mengkhawatirkan pascabencana longsor. Penyakit kulit jenis cacar dilaporkan menyerang tidak hanya anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Penyebaran penyakit diduga dipicu oleh buruknya sanitasi air bersih di wilayah tersebut.

Situasi semakin diperparah setelah tenaga kesehatan, termasuk bidan desa, mengungsi akibat longsor. Selama lebih dari 30 hari terakhir, warga tidak mendapatkan penanganan medis yang memadai. Desa Atu Payung, termasuk wilayah Serule dan Jamur Konyel, hingga kini masih dalam kondisi terisolasi.

Akses menuju fasilitas kesehatan terdekat, yakni Puskesmas Kecamatan Bintang, sangat sulit. Warga harus menempuh perjalanan sekitar 11 jam berjalan kaki dengan beban maksimal 20 kilogram. Sementara itu, menggunakan sepeda motor memerlukan waktu sekitar 6 hingga 8 jam melalui medan yang ekstrem dan berisiko tinggi.

Penyakit kulit serang balita.

Akibat keterisolasian tersebut, banyak warga yang menderita penyakit tidak dapat segera ditangani. Tim Relawan Posko Rakyat Aceh Tengah pun mengaku kewalahan melakukan evakuasi medis karena kondisi sebagian pasien tidak memungkinkan untuk dibawa melalui jalur darat.

“Kami berharap Kementerian Kesehatan dan pihak terkait bisa lebih memperhatikan kondisi kesehatan masyarakat di daerah terisolasi. Kami sangat membutuhkan penanganan cepat bagi pasien, terutama anak-anak dan warga yang memiliki riwayat penyakit rentan,” ujar seorang ibu balita di Desa Atu Payung.

Hingga saat ini, warga masih bertahan dengan keterbatasan air bersih dan fasilitas kesehatan. Mereka berharap adanya intervensi cepat dari pemerintah, baik melalui layanan kesehatan darurat, distribusi obat-obatan, maupun upaya pembukaan akses agar penanganan medis dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Warga Desa Atu Payung berharap bencana ini segera berlalu, sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali normal dan kondisi kesehatan mereka pulih sepenuhnya.*** (Jasa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Anggota DPR RI Fraksi NasDem Rachmat Gobel Meninggal Dunia di Usia 63 Tahun

10 Juli 2026 - 09:27 WIB

Sengkarut 4 Blok Lahan Kosong Negara di Kemayoran: Ketegasan Negara Menghilang?

10 Juli 2026 - 09:11 WIB

Pasar K-Culture Melejit, Destinasi Baru Incar Cuan di Jakarta

10 Juli 2026 - 04:10 WIB

Sabet Penghargaan, Model 3R mGanik Jadi Terobosan Kebuntuan Diabetes Tipe 2

10 Juli 2026 - 04:05 WIB

TEMUAN BPK: Defisit Keuangan Membengkak, Transparansi Perjalanan Dinas Pemko Subulussalam Dipertanyakan

10 Juli 2026 - 03:56 WIB

Tindak Lanjut MoU, Tani Merdeka Indonesia Aceh Tengah dan PT Bio Energy Rimba Perkuat Pendampingan Petani

10 Juli 2026 - 03:44 WIB

Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis dan Salurkan 235 Paket Sembako bagi Masyarakat Kecamatan Koja

9 Juli 2026 - 20:30 WIB

KKP Segel Budidaya Arwana di Pekanbaru, Ratusan Ikan Dilindungi Tak Berizin

9 Juli 2026 - 17:16 WIB

KKP Lepasliarkan 21 Penyu Hijau Hasil Gagalkan Penyelundupan ke Perairan Bali

9 Juli 2026 - 16:27 WIB

Megaproyek PSEL Bali Rp3 Triliun Resmi Dimulai, Pemerintah Klaim Mampu Ubah Sampah Jadi Energi Listrik

9 Juli 2026 - 14:16 WIB

Trending di RAGAM