Menu ✖

Mode Gelap
Aliansi Masyarakat Sipil Laporkan Proyek RS Pendidikan Untad Rp172 Miliar ke Kejati Sulteng TPPAS Lulut Nambo dan Pengelolaan Sampah dari Hulu, H. Fikri Hudi Dorong Kolaborasi Masyarakat 21 Kapal Terlibat dalam Regional Marpolex 2026 ​Karmila, Demisioner Presma Universitas Bumi Persada, Suarakan Aspirasi Pascabencana Aceh di Ajang Nasional Future Leaders Summit 2026 Menembus Pegunungan, Ini 10 Stasiun Kereta Api Tertinggi di Jawa dan Sumatra KAI Catat 2,55 Juta Aktivitas Pelanggan di Tiga Daerah Geopark UNESCO

RAGAM

Wabah Penyakit Kulit Serang Warga Desa Atu Payung Aceh Tengah, Akses Kesehatan Terisolasi Pasca Longsor

badge-check


 Wabah Penyakit Kulit Serang Warga Desa Atu Payung Aceh Tengah, Akses Kesehatan Terisolasi Pasca Longsor Perbesar

Wartatrans.com, ACEH TENGAH – Kondisi kesehatan anak-anak dan warga di Desa Atu Payung, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, kian mengkhawatirkan pascabencana longsor. Penyakit kulit jenis cacar dilaporkan menyerang tidak hanya anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Penyebaran penyakit diduga dipicu oleh buruknya sanitasi air bersih di wilayah tersebut.

Situasi semakin diperparah setelah tenaga kesehatan, termasuk bidan desa, mengungsi akibat longsor. Selama lebih dari 30 hari terakhir, warga tidak mendapatkan penanganan medis yang memadai. Desa Atu Payung, termasuk wilayah Serule dan Jamur Konyel, hingga kini masih dalam kondisi terisolasi.

Akses menuju fasilitas kesehatan terdekat, yakni Puskesmas Kecamatan Bintang, sangat sulit. Warga harus menempuh perjalanan sekitar 11 jam berjalan kaki dengan beban maksimal 20 kilogram. Sementara itu, menggunakan sepeda motor memerlukan waktu sekitar 6 hingga 8 jam melalui medan yang ekstrem dan berisiko tinggi.

Penyakit kulit serang balita.

Akibat keterisolasian tersebut, banyak warga yang menderita penyakit tidak dapat segera ditangani. Tim Relawan Posko Rakyat Aceh Tengah pun mengaku kewalahan melakukan evakuasi medis karena kondisi sebagian pasien tidak memungkinkan untuk dibawa melalui jalur darat.

“Kami berharap Kementerian Kesehatan dan pihak terkait bisa lebih memperhatikan kondisi kesehatan masyarakat di daerah terisolasi. Kami sangat membutuhkan penanganan cepat bagi pasien, terutama anak-anak dan warga yang memiliki riwayat penyakit rentan,” ujar seorang ibu balita di Desa Atu Payung.

Hingga saat ini, warga masih bertahan dengan keterbatasan air bersih dan fasilitas kesehatan. Mereka berharap adanya intervensi cepat dari pemerintah, baik melalui layanan kesehatan darurat, distribusi obat-obatan, maupun upaya pembukaan akses agar penanganan medis dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Warga Desa Atu Payung berharap bencana ini segera berlalu, sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali normal dan kondisi kesehatan mereka pulih sepenuhnya.*** (Jasa)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Aliansi Masyarakat Sipil Laporkan Proyek RS Pendidikan Untad Rp172 Miliar ke Kejati Sulteng

12 Oktober 2026 - 12:18 WIB

TPPAS Lulut Nambo dan Pengelolaan Sampah dari Hulu, H. Fikri Hudi Dorong Kolaborasi Masyarakat

12 Oktober 2026 - 11:10 WIB

​Karmila, Demisioner Presma Universitas Bumi Persada, Suarakan Aspirasi Pascabencana Aceh di Ajang Nasional Future Leaders Summit 2026

12 Oktober 2026 - 08:06 WIB

Karhutla Tembus 10 Hektare di Bagendang, Kalteng

12 Oktober 2026 - 05:09 WIB

Peduli Generasi Muda, Pengurus FORWAN Gelar Pelatihan Citizen Journalism dan Content Creator di Masjid

12 Oktober 2026 - 01:25 WIB

Executive Director 4 Pelindo Paparkan Peran Hukum dalam Bisnis BUMN di FH Unhas

11 Oktober 2026 - 19:50 WIB

Kenalkan Energi Masa Depan, DAMRI Hadirkan Bus H2 DDF di Hydrogen Day 2026

11 Oktober 2026 - 19:43 WIB

Mardani Ali Sera Ungkap Komunikasi Antarfraksi DPR, Wacana Pansus dan Hak Angket Gibran Mengemuka

11 Oktober 2026 - 15:26 WIB

​Putra Aceh Dr. (Cand) Khaidir Abdurrahman Jalani Upacara Dipeusijuek Sebagai Anggota BPK RI

11 Oktober 2026 - 14:29 WIB

Pompa Air Sempat Gangguan, Fasilitas Toilet dan Musala Stasiun Jatinegara Kembali Normal

11 Oktober 2026 - 11:51 WIB

Trending di PERISTIWA