Wartatrans.com, MAMASA — Buruknya infrastruktur jalan kembali memakan korban. Fatmawati (45), warga Desa Indobanua, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, terpaksa ditandu sejauh kurang lebih delapan kilometer oleh warga setempat demi mendapatkan pertolongan medis, Selasa (10/2/2026).
Fatmawati dievakuasi dalam kondisi mengalami pendarahan. Namun, rusaknya akses jalan menuju Desa Indobanua membuat kendaraan roda empat, termasuk ambulans, tidak dapat menjangkau wilayah tersebut.

Warga setempat menjelaskan, jalan menuju Desa Indobanua merupakan jalan provinsi yang menghubungkan Kabupaten Mamasa dengan Kabupaten Majene. Sayangnya, kondisi jalan yang rusak parah dan berlumpur membuat mobil tidak bisa melintas sama sekali.
“Mobil tidak bisa masuk. Ambulans hanya sampai di Kelurahan Talipukki, jadi kami terpaksa menandu lewat jalan setapak,” ujar salah seorang warga.
Proses evakuasi Fatmawati pun harus dilanjutkan secara manual oleh warga menggunakan tandu darurat, melewati medan terjal dan licin. Kondisi tersebut sangat berisiko, mengingat pasien membutuhkan penanganan medis secepatnya.
Desa Pamoseang dan Desa Indobanua diketahui merupakan desa terakhir di wilayah barat Kabupaten Mamasa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Majene. Keterbatasan infrastruktur jalan dan minimnya layanan kesehatan membuat masyarakat di kawasan perbatasan ini kerap kesulitan mendapatkan pertolongan medis, terutama dalam situasi darurat.
Peristiwa yang dialami Fatmawati tercatat sebagai kasus keempat sepanjang awal tahun 2026, di mana warga Pamoseang dan Indobanua harus ditandu untuk mendapatkan layanan kesehatan. Kondisi ini dinilai mencerminkan lemahnya perhatian pemerintah terhadap pembangunan infrastruktur dan pelayanan dasar di wilayah terpencil.
Warga menilai kejadian ini sebagai potret nyata keegoisan dan kelalaian Pemerintah Kabupaten Mamasa dalam menjamin hak dasar masyarakat, khususnya akses kesehatan yang layak.
Masyarakat berharap pemerintah provinsi dan pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret, terutama memperbaiki jalan provinsi penghubung Majene–Mamasa serta memastikan ambulans dan layanan kesehatan dapat menjangkau desa-desa terpencil, agar tragedi kemanusiaan serupa tidak terus berulang.*** (Rintoh)
























