Wartatrans.com, JAKARTA – Sebagai bentuk kepedulian terhadap korban banjir bandang di Aceh Tamiang, media online Wartatrans.com menyalurkan bantuan uang tunai kepada warga terdampak di wilayah tersebut.
Bencana banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang sejak akhir November 2025 telah menyebabkan kerusakan besar dan ribuan warga harus mengungsi. Merespons kondisi tersebut, media online wartatrans.com menyalurkan bantuan dalam bentuk uang tunai kepada korban yang terdampak langsung.

Bantuan uang tunai ini ditujukan untuk membantu kebutuhan mendesak para penyintas, seperti membeli makanan, perlengkapan bayi, obat-obatan, serta kebutuhan dasar lainnya yang belum sepenuhnya terpenuhi di pengungsian.
Penyaluran dilakukan secara langsung kepada warga perwakilan penerima manfaat yang juga korban keganasan alam tersebut.
“Bantuan tunai ini kami salurkan sebagai bentuk kepedulian nyata dari wartawan dan pembaca wartatrans.com kepada saudara-saudara kita di Aceh Tamiang. Kami berharap meski tidak besar, bantuan ini dapat membantu memenuhi kebutuhan mereka secara lebih fleksibel di tengah kondisi darurat,” ujar Pemimpin Umum Putra Gara saat penyerahan, Sabtu (27/12/2025).
Banjir bandang di Aceh Tamiang sendiri telah mengakibatkan ribuan rumah rusak, akses jalan putus, serta sejumlah fasilitas umum lumpuh. Hingga saat ini, banyak warga masih bertahan di tenda-tenda pengungsian dengan keterbatasan sarana.
Turut hadir dalam penyerahan yaitu, Pemimpin Umum Wartatrans.com Putra Gara, Pemimpin Redaksi Naomy Chandra Sari, Dewan Redaksi Dino Musida, Redaktur Pelaksana, Ahmad Basori dan Sekretaris Redaksi Dani Adiarti.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat puluhan warga meninggal dunia, puluhan lainnya luka‑luka, dan ratusan ribu jiwa masih mengungsi di tempat penampungan darurat.
Kondisi wilayah pascabanjir masih sulit. Banyak desa mengalami kerusakan parah, jalan akses putus, dan fasilitas dasar seperti listrik serta air bersih belum sepenuhnya pulih, sementara penyintas bergulat dengan risiko penyakit karena lingkungan belum bersih dan akses layanan kesehatan masih terbatas.(****)










