Menu ✖

Mode Gelap
Tani Merdeka Indonesia dan SPPG Buka Peluang Pasar Baru bagi Petani Aceh Indonesia AirAsia Dukung Kebijakan Pemerintah, Libur Nataru Harga Tiket Domestik Turun Mulai dari 12% Demonstrasi AMSR di Semarang Disertai Aksi Vandalisme Asap Karhutla Meluas hingga NTT, Pengguna Jasa Agar Cek Status Penerbangan CSR Bank BJB Biayai 3 Halte Transjakarta di Jatiasih TNI AU Uji Pendaratan Pesawat Tempur di Tol Paspro

PERISTIWA

Waspada! Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Picu Peningkatan Pencemaran Udara di Sejumlah Wilayah

badge-check


 Waspada! Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Picu Peningkatan Pencemaran Udara di Sejumlah Wilayah Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – Abu vulkanik akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau mulai memengaruhi kualitas udara di sejumlah wilayah Banten, Jawa Barat, dan Jakarta. Sebaran material vulkanik tersebut teramati hingga radius sekitar 100–200 kilometer dari sumber erupsi.

Gunung Anak Krakatau mengalami letusan pada Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB yang menyemburkan abu vulkanik dan material erupsi berupa air mancur lava (lava fountain).

Berdasarkan informasi BMKG pada 6 September 2026, sebaran abu vulkanik di permukaan hingga ketinggian 20.000 kaki diperkirakan bergerak ke arah tenggara hingga selatan, mencakup wilayah Provinsi Banten dan Jawa Barat serta daerah sekitarnya.

Dalam kondisi tersebut, sebaran debu yang diduga berasal dari abu vulkanik teramati telah mencapai Citayam dan sekitarnya, Tangerang Selatan dan sekitarnya, Rangkasbitung dan sekitarnya, Jakarta Pusat dan sekitarnya, serta Jakarta Selatan dan sekitarnya.

Data konsentrasi pencemar udara menunjukkan rata-rata harian PM10 di lima wilayah tersebut masing-masing berada pada kisaran 110, 68, 73, 110, dan 151 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Sementara itu, konsentrasi PM2.5 masing-masing tercatat 109, 150, 101, 65, dan 68 µg/m³. Adapun parameter pencemar ketiga yang dicantumkan dalam pengukuran tersebut masing-masing berada pada 52,59, 100,16, 45,02, 80,35, dan 90,50 µg/m³.

Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin mengatakan, peningkatan konsentrasi pencemar udara tersebut tidak seluruhnya dapat dikaitkan dengan abu vulkanik. Sebab, kualitas udara juga dipengaruhi berbagai sumber pencemaran lain.

Sumber pencemar tersebut antara lain berasal dari aktivitas transportasi, industri, rumah tangga, debu jalanan, pembakaran sampah, hingga pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Namun, menurut Ahmad, keberadaan abu vulkanik turut meningkatkan intensitas pencemaran pada sejumlah parameter kualitas udara sehingga berpotensi memperburuk dampak terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.

“Berdasarkan konsentrasi ketiga parameter dengan rata-rata sebagai tersebut di atas, maka Citayam dsk, Tangsel dsk, Rangkasbitung dsk mengalami pencemaran udara dengan kualitas udara dalam kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat”, demikian pernyataan Ahmad Safrudin, Direktur Eksekutif KPBB dalam keterangan resminya, Ahad (6/9/2026).

Atas kondisi tersebut, Ahmad menyarankan masyarakat untuk sementara waktu mengurangi aktivitas di luar rumah. Masyarakat, terutama kelompok rentan seperti balita dan lansia serta orang dengan penyakit tertentu, dianjurkan berada di dalam rumah dengan pintu dan jendela tertutup.

Kelompok yang memiliki penyakit seperti asma, pneumonia, bronkitis, jantung koroner, dan penyakit jantung iskemik juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan abu vulkanik.

Jika harus beraktivitas di luar rumah, masyarakat disarankan menggunakan masker untuk mengurangi risiko menghirup partikel abu vulkanik.

Selain itu, masyarakat diimbau menjaga kondisi tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi dan mencukupi kebutuhan air minum guna membantu mengurangi risiko dampak akut akibat paparan pencemaran udara.

Di lapangan, material yang menyerupai pasir bertekstur relatif lembut tetapi cenderung tajam dilaporkan menempel pada berbagai permukaan, mulai dari lantai, dinding, kaca, dedaunan, jalan, hingga benda-benda lainnya.

Paparan abu vulkanik juga mulai menimbulkan keluhan iritasi mata pada masyarakat. Karena itu, kewaspadaan diperlukan selama material vulkanik masih berada di lingkungan.

Ahmad menjelaskan, tidak terdapat langkah mitigasi khusus untuk menghilangkan pencemaran udara yang bersumber dari faktor alam seperti erupsi gunung api. Upaya yang dapat dilakukan masyarakat terutama dengan mengurangi paparan material pencemar agar tidak masuk ke dalam tubuh.

Dengan demikian, pengendalian pencemaran akibat abu vulkanik sangat bergantung pada kondisi alam, termasuk aktivitas erupsi dan perubahan cuaca. Masyarakat berharap aktivitas erupsi segera berhenti serta hujan turun sehingga membantu membersihkan material abu vulkanik yang masih berada di udara dan permukaan.(fahmi)

 

Baca Lainnya

Pelindo Regional 4 Perkuat Budaya HSSE melalui Pelatihan Tanggap Darurat

23 Oktober 2026 - 05:24 WIB

DAMRI Uji Coba Bus Listrik di Kota Serang, Dukung Transportasi Publik Berkelanjutan

23 Oktober 2026 - 05:01 WIB

IDSurvey Perkuat Pencegahan Stunting di Temanggung, dari Edukasi Keluarga hingga Pangan Bergizi

22 Oktober 2026 - 22:00 WIB

Pangkalan PLP Tanjung Priok Fokus Tangani KMP Batumandi dan Antisipasi Pencemaran Laut

22 Oktober 2026 - 20:57 WIB

Dewan PKS Potong Gaji untuk Bantu Korban Karhutla, H. Fikri Hudi Oktiarwan Dukung Instruksi Presiden PKS

22 Oktober 2026 - 19:00 WIB

MPU Aceh Tengah Dukung Pemekaran ALA, Karena Berorientasi pada Keadilan dan Kemaslahatan Umat

22 Oktober 2026 - 17:50 WIB

Di Pati Koruptor Mendapat Simpati

22 Oktober 2026 - 17:26 WIB

Insiden di Jalan Mambruk Dalam, Korban Jalani Penanganan Medis, Polisi Belum Beri Keterangan Resmi

22 Oktober 2026 - 17:17 WIB

Ibu Sina dan Seni Menghadapi Ketidakpastian Hidup 

22 Oktober 2026 - 17:11 WIB

Wabup Bandung Dorong Serikat Pekerja dan Buruh Tingkatkan Negosiasi Soal Ketenagakerjaan 

22 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Trending di RAGAM