Menu ✖

Mode Gelap
Dampak Karhutla pada Penerbangan Meluas hingga Sulawesi dan Sumatera Bagian Utara 15 Tahun Sastra Bulan Purnama, Merawat Persahabatan dan Menghidupkan Puisi di Era Digital KAI Services Hadirkan Warteg on Train di Kereta Batavia, Penumpang Bisa Pilih Menu Rumahan KA Sangkuriang Angkut 330 Ribu Pelanggan dalam Lima Bulan, Okupansi Tembus 284 Persen Pimpin PABERSI Sulteng, Farid Podungge Bidik Prestasi Atlet di PON 2028 Gandeng EIGER, Garuda Daur Ulang Pelampung dan Pelapis Kursi Pesawat jadi Koleksi Menarik

SENI BUDAYA

15 Tahun Sastra Bulan Purnama, Merawat Persahabatan dan Menghidupkan Puisi di Era Digital

badge-check


 15 Tahun Sastra Bulan Purnama, Merawat Persahabatan dan Menghidupkan Puisi di Era Digital Perbesar

Wartatrans.com, YOGYAKARTA — Lima belas tahun bukan perjalanan singkat bagi sebuah komunitas sastra. Di tengah perubahan zaman dan derasnya arus digitalisasi, Sastra Bulan Purnama (SBP) terus membuktikan eksistensinya sebagai ruang pertemuan gagasan, persahabatan, dan kreativitas para penyair Indonesia.

Momentum 15 tahun perjalanan SBP dirayakan melalui peluncuran antologi puisi bertajuk Kata Kota Kita, di APMD STPMD, Jalan Timoho, Yogyakarta, Sabtu (17/10/2027), pukul 15.30 WIB.

Buku tersebut menghimpun lebih dari 300 puisi karya 158 penyair dari berbagai daerah di Indonesia. Melalui puisi, para penyair merekam wajah kota, dinamika kehidupan masyarakat, hingga perubahan sosial yang menyertai laju pembangunan.

Harris Susanto, Direktur Utama PT Luas Birus Utama, menyampaikan bahwa Kata Kota Kita merupakan upaya menghadirkan cerita tentang kota melalui perspektif penyair.

Kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung, Medan, Padang, Makassar, dan Manado memiliki karakter pembangunan yang relatif serupa. Gedung bertingkat, pusat perbelanjaan, jalan layang, serta kepadatan lalu lintas menjadi simbol kemajuan sekaligus menyimpan berbagai persoalan kehidupan perkotaan.

Melalui puisi, wajah kota tidak sekadar dibaca sebagai pembangunan fisik, tetapi juga sebagai ruang pengalaman manusia, ingatan, kegelisahan, dan harapan.

Sastra yang Tumbuh dari Persahabatan

Pendiri sekaligus Koordinator Sastra Bulan Purnama, Ons Untoro, dalam sambutannya menegaskan bahwa SBP tumbuh secara alami sebagai komunitas yang mengedepankan persahabatan dan semangat berkarya.

Didampingi Direktur Penerbit Tonggak Pustaka, Indro Suprobo, Ons menjelaskan bahwa Yogyakarta memiliki lebih dari 40 komunitas sastra. Di tengah keberagaman tersebut, SBP konsisten menyelenggarakan kegiatan sastra dan kebudayaan setiap bulan.

Konsistensi inilah yang menjadikan SBP bukan sekadar tempat pembacaan puisi, melainkan ruang perjumpaan lintas generasi dan daerah.

Antologi Kata Kota Kita semakin istimewa dengan desain sampul menggunakan lukisan Vincentius Dwimawan, mantan Art Director Majalah Dewi dari Femina Group.

Komunitas Sastra di Tengah Revolusi Digital

Perayaan 15 tahun SBP juga menghadirkan pidato kebudayaan Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Faruk, bertajuk Komunitas Sastra di Era Digital.

Faruk menyoroti kemampuan komunitas sastra bertahan meskipun tidak selalu memiliki tempat berkegiatan yang permanen.

Menurutnya, kekuatan komunitas justru terletak pada hubungan antarmanusia yang dibangun melalui komunikasi, kedekatan emosional, dan kesamaan kecintaan terhadap sastra.

Pandangan tersebut bersinggungan dengan pemikiran antropolog UGM, Prof. Dr. PM Laksono, M.A., mengenai pentingnya ikatan kekerabatan dan kedekatan sosial dalam kehidupan komunitas.

Perkembangan teknologi digital memang mengubah cara manusia berkomunikasi. Namun, hubungan yang telah dibangun melalui perjumpaan langsung tetap menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan komunitas.

Pengalaman SBP selama 15 tahun memperlihatkan bahwa teknologi bukan ancaman bagi sastra, melainkan dapat menjadi sarana memperluas jaringan, mempertemukan penyair, dan menjaga kesinambungan aktivitas kebudayaan.

Puisi Menyatukan Penyair Nusantara

Perayaan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Sebagai ungkapan syukur, Ons Untoro secara simbolis menyerahkan potongan tumpeng kepada Prof. Dr. Faruk dan Prof. Dr. PM Laksono, M.A.

Acara yang dipandu Ana Ratri dan Savitri Damayanti itu semakin semarak dengan pembacaan puisi oleh sejumlah penyair lintas daerah.

Mereka antara lain Mulyadi J. Amalik dari Surabaya, Warsono Abi Azam dari Cilacap, Marlin Dinamikanto dari Jakarta, Sudarmono dari Magelang, Dhama Dove dari Banjarnegara, Indri dari Magelang, Mala dari Sidoarjo, Destiyanti dari Yogyakarta, Nela dari Temanggung, serta Yupi dari Magelang.


Penampilan musikalisasi puisi oleh Joshua Igo dari Yogyakarta turut memperkaya suasana perayaan sebelum kegiatan ditutup dengan foto bersama para penyair.

Lima belas tahun Sastra Bulan Purnama menjadi bukti bahwa kekuatan sastra tidak semata terletak pada karya yang diterbitkan, tetapi juga pada persahabatan yang terus dirawat.

Di tengah dunia yang semakin digital, SBP menunjukkan bahwa puisi masih memiliki ruang untuk tumbuh, mempertemukan manusia, dan menjaga denyut kebudayaan.

Sebab, komunitas sastra boleh berpindah tempat, tetapi selama persahabatan, komunikasi, dan kreativitas tetap hidup, sastra akan selalu menemukan rumahnya.

Penulis: RM. SudarmonoCatatan redaksi: Tanggal dalam naskah tertulis Sabtu, 17 Oktober 2027. Namun, 17 Oktober 2027 jatuh pada hari Minggu, sedangkan Sabtu, 17 Oktober adalah tahun 2026. Tanggal kegiatan perlu dipastikan sebelum berita diterbitkan.

Saya juga bisa mempertajam berita ini dengan sudut pandang 15 tahun SBP sebagai bukti bahwa komunitas sastra mampu bertahan tanpa gedung, tanpa kemewahan, tetapi kuat karena persahabatan dan konsistensi berkarya.*** (RM Sudarmono)

Baca Lainnya

Seluruh Academia Sabet Tiga Standing Ovation, Persaingan Top 12 D’Academy 8 Kian Ketat

17 Oktober 2026 - 11:48 WIB

Dari Panggung Spanyol, Anak-Anak Indonesia Suarakan Perdamaian Dunia, Teater Tanah Air Borong Empat Penghargaan

17 Oktober 2026 - 08:22 WIB

Jakarta Kulminasi: Satu Hari Tanpa Bayangan, Ketika Seni Mengajak Warga Membaca Perubahan Kota

16 Oktober 2026 - 06:51 WIB

Nina Nugroho Sulap Tenun Makassar Jadi Busana Modern, Filosofi Kehormatan dan Harmoni Jadi Inspirasi

16 Oktober 2026 - 05:36 WIB

Dwiki Dharmawan: Indonesia Tidak Kekurangan Talenta Musik

16 Oktober 2026 - 00:06 WIB

Sineas Palestina Ameen Nayfeh Tiba di Jakarta, Disambut Panitia SANFFEST 2026

15 Oktober 2026 - 20:41 WIB

Karena Dianggap Cacat Hukum, Yon Bayu Wahyono Desak Pemilihan Ulang DKJ, DPRD Jakarta Siap Panggil Pihak Terkait

15 Oktober 2026 - 18:48 WIB

Polemik DKJ Merembet ke DPRD, Tata Kelola Taman Ismail Marzuki Terancam Dievaluasi

15 Oktober 2026 - 17:58 WIB

Indra Adhari Rilis Surga Cinta Jelang Remake Lagu Dirantai Gelang Rindu dari Exists Band Legendaris Malaysia

15 Oktober 2026 - 15:50 WIB

Arief Okep Budiman, Menduniakan Karya Sinema Broadcast Lewat DR Production

15 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Trending di SENI BUDAYA