Wartatrans.com, JAKARTA – Hampir tiga dekade menjadi mitra Shell, Sefas Group kini sepakat mengakuisisi 100% bisnis SPBU Shell di Indonesia. Transaksi ditargetkan selesai pada 2026 setelah memperoleh persetujuan regulator dan memenuhi persyaratan yang berlaku, sementara nilai transaksi belum diungkapkan.
Akuisisi ini membawa Sefas masuk lebih jauh ke bisnis ritel energi. Perusahaan yang selama ini dikenal sebagai distributor pelumas Shell terbesar di Indonesia kini akan mengambil alih jaringan SPBU, sementara merek Shell tetap digunakan melalui skema lisensi.

CEO Sefas Group Ricky Roesli mengatakan, kepemilikan bisnis SPBU Shell menjadi landasan bagi pengembangan bisnis grup ke depan, dalam keterangan resmi Rabu (19/8/2026).
Ia menegaskan ambisi membangun bisnis ritel energi yang tepercaya dan berkelanjutan di Indonesia.
“Sebagai distributor pelumas Shell terbesar di Indonesia, Sefas bangga dapat mengambil langkah bisnis berikutnya, dan mendukung pertumbuhan masa depan sektor ritel energi Indonesia,” ungkap Ricky.
Sefas berdiri pada 1997 dan selama hampir 30 tahun membangun hubungan bisnis dengan Shell. Pengalaman tersebut membuat perusahaan telah memiliki pemahaman mengenai produk, distribusi, pelanggan dan pasar lokal sebelum masuk ke pengelolaan jaringan ritel.
Presiden Direktur Shell Indonesia Andri Pratiwa mengatakan, hubungan panjang tersebut menjadi salah satu kekuatan Sefas dalam menjalankan fase berikutnya.
Menurut dia, Sefas memahami pasar lokal, kebutuhan pelanggan serta jaringan yang telah dibangun Shell.
“SEFAS merupakan mitra yang telah lama bekerja sama dengan Shell di Indonesia dan memiliki pemahaman mendalam mengenai pasar lokal, kebutuhan pelanggan, serta jaringan yang telah terbangun kuat untuk mendukung fase pertumbuhan bisnis berikutnya,” ungkap Andri.
Skala bisnis yang dialihkan juga besar. Shell sebelumnya menyebut memiliki sekitar 200 lokasi SPBU di Indonesia, dengan lebih dari 160 di antaranya dimiliki perusahaan, serta terminal BBM di Gresik.
Akuisisi ini berlangsung setelah jaringan SPBU Shell sempat menghadapi persoalan ketersediaan sejumlah produk BBM.
Kondisi tersebut memberi pekerjaan langsung bagi pemilik baru untuk menjaga kesinambungan pasokan, layanan dan operasional, meski tidak ada data publik yang menghubungkan persoalan pasokan dengan keputusan akuisisi.
Bagi Sefas, tantangan setelah transaksi bukan sekadar mengelola sekitar 200 lokasi, tetapi mengubah pengalaman sebagai distributor menjadi kemampuan mengoperasikan jaringan ritel nasional.
Bagi Shell, lisensi merek memungkinkan nama Shell tetap hadir di Indonesia tanpa kepemilikan langsung atas bisnis SPBU. (Artha Tidar)































