Wartatrans.com, JAKARTA + Proyek 50.000 hunian vertikal investor Qatar, Al Qilaa International Group, di lahan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI di Kampung Bandan, Jakarta, kini masuk pengawalan lintas lembaga.
Pemerintah membentuk tim untuk memastikan pemanfaatan lahan, validasi data, skema investasi, dan tata kelola proyek berjalan sesuai ketentuan.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mengatakan, tim tersebut melibatkan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN), KAI, Badan Pusat Statistik (BPS), dan pihak Qatar.
“Untuk rencana investasi di Kampung Bandan, sesuai arahan Kepala BPKP, dibuat tim bersama antara BPKP, BP BUMN, PT KAI, BPS, dan pihak Qatar, sehingga dipastikan semua tata kelolanya benar,” kata Maruarar di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Proyek tersebut merupakan kolaborasi KAI, Kementerian PKP, dan Al Qilaa untuk mendukung Program 3 Juta Rumah.
KAI menyebut pengembangan aset lahannya diarahkan menggunakan konsep Transit Oriented Development (TOD), sedangkan hunian dirancang dalam bentuk smart towers dengan fasilitas sekolah, taman bermain, ruang komunal, dan sistem rumah pintar.
Target 50.000 unit disebut sebagai tahap awal proyek Kampung Bandan. Namun, pada September 2025, Vice Chief Executive Officer (CEO) PT Risjadson Land Abdulbar Mansoer pernah memaparkan rencana awal pembangunan 14 menara dengan sekitar 16.000 unit.
Dari sisi komersial, Al Qilaa telah meluncurkan penjualan perdana pada Kamis (15/1/2026).
Unit yang ditawarkan berukuran 25 dan 36 meter persegi dengan harga mulai Rp360 juta. Nomor Urut Pemesanan (NUP) dibuka, sementara Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) difasilitasi Bank Tabungan Negara (BTN).
Chairman Al Qilaa Global Group Sheikh Abdulaziz Al Thani mengatakan proyek tersebut diarahkan lebih dari sekadar pembangunan tempat tinggal.
“Hunian ini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan bagian dari ekosistem hunian berkelanjutan yang mendukung kehidupan komunitas,” kata Abdulaziz kala itu.
Harga awal Kampung Bandan Rp360 juta perlu diuji terhadap daya beli sasaran. Tantangan proyek kini bukan hanya merealisasikan 50.000 unit, tetapi memastikan tahapan pembangunan, skema investasi, pemanfaatan aset KAI, dan daya serap pasar berjalan terukur. (Artha Tidar)































