Wartatrans.com, JAKARTA – Banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang selama beberapa hari sangat mencekam dan menyisakan kisah pilu bagi masyarakat.
Genangan banjir dan sejumlah titik longsor membuat ribuan warga masih terisolir hingga Ahad (30/11/2025) malam.

Seorang warga Aceh Tamiang yang malam ini mencoba menginformasikan kepada Wartatrans.com malam ini mengatakan bahwa dia sangat sulit mendapatkan akses sinyal untuk mengabarkan segala kondisi. Kondisi juga listrik padam selama banjir datang hingga saat ini.
Dia juga mengatakan musibah bencana ini adalah yang paling parah dan banyak bangunan hanyut, hancur dan warga kelaparan juga terdapat korban jiwa.
“Sangat mencekam di Kota Kualasimpang, Aceh Tamiang, khususnya sudah banyak jembatan yang sudah putus,” kata Hendrik Jeris.
Dia menceritakan sudah selama lima hari terjebak ditempat tinggi, bukan sebagai pengungsi tapi untuk menyelamatkan diri dan akhirnya disebut sebagai pengungsi. Dia pun menceritakan sulitnya mengakses sinyal untuk mengabarkan kondisi terkini tentang keadaan banjir di sana. Namun dia mendapatkan sinyal dari perusahaan sawit swasta yang memiliki wifi satelit dan dia langsung memanfaatkannya untul mengabarkan kondisi warga terdampak banjir di Aceh Tamiang.
“Saya sedang berada di Prapen atau di pabrik Mapoli, lagi berdiri cari Wi-Fi Satelit, Alhamdulillah dapat. Dan saya sudah terjebak lima hari, lima malam di Karangbaru atau samping Teko ya, atau jalan lintas Medan-Banda Aceh, yang ketinggiannya 4 meter, dan ini banjir paling parah, banjir bandang ini, bukan banjir biasa. Ini banjir bandang,” ujar Hendrik di video pesan yang dibagikannya di status WA.
Hendrik menceritakan banyak wilayah atau desa yang hanya tinggal beberapa rumah saja karena bangunan lain hancur atau terbawa arus banjir yang sangat dahsiat. Dia juga menyebut banyak jalan atu jembatan yang putus diterjang dahsyatnya air.
“Yang saya dapat info bahwasannya jembatan Jembatan Babo, mau ke Babo dari Sekrak itu putus. Jembatan mau Babo ke Sulum putus, jembatan besar itu putus. Dan jembatan Rantau saya belum tahu nih, apakah ada,” cerita Hendrik.
Dengan mata yang berkaca-kaca Hendrik juga mengungkapkan harapan adanya bantuan segera mungkin dari siapapun yang menerima pesannnya malam itu. Dia menyebut masyarakat saat ini membutuhkan makanan dan air bersih. .
Selama beberapa hari ini, Hendrik mengatakan ada warga tidak dapat makanan sama sekali karena terjebak di atap rumah tanpa logistik.
“Nah, untuk yang paling diperlukan yaitu belum adanya sembako yang turun, belum ada sembako yang datang, banyak orang yang kelaparan. Ya, banyak orang yang kelaparan, kelaparan nggak makan-makan. Air bersih sangat perlu juga,” pinta Hendrik.(****)









