Menu

Mode Gelap
Balai Yasa Cirebon Prujakan Rawat 51 Mesin Perawatan Rel untuk Dukung Keselamatan KA di Jawa Anna Latuconsina Ajak Hentikan Normalisasi Kekerasan terhadap Perempuan Lewat Bincang Buku di Gedung Parlemen Survei Deloitte: 42% Konsumen Indonesia Minati Mobil Listrik, Penjualannya Malah Jalan di Tempat Jatiwaringin Hingga Cipayung, TPA Membakar Anggaran Negara Bus Listrik Transjabodetabek Dibidik, Bisa Hemat Rp3 Triliun Setahun  Era Cashless Datang, Anak SD Lebih Cepat Kenal QRIS Dibanding Literasi Keuangan 

PERON

Heritage Bergerak Bersama Zaman, KAI Rawat 656 Aset Bersejarah di Tengah 503,5 Juta Perjalanan Pelanggan KAI Group 2025

badge-check


 Heritage Bergerak Bersama Zaman, KAI Rawat 656 Aset Bersejarah di Tengah 503,5 Juta Perjalanan Pelanggan KAI Group 2025 Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) menegaskan komitmennya dalam merawat dan mengelola aset heritage perkeretaapian sebagai bagian dari warisan bangsa. Di tengah capaian kinerja KAI Group yang melayani 503.549.740 perjalanan pelanggan sepanjang 2025 atau meningkat 8,52 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 464.031.108 perjalanan, KAI memastikan modernisasi layanan berjalan selaras dengan pelestarian nilai sejarah yang telah tumbuh lebih dari satu abad.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan bahwa pertumbuhan pelanggan yang konsisten menjadi momentum untuk memperkuat pengelolaan aset bersejarah secara berkelanjutan.

“Kereta api tumbuh bersama masyarakat. Saat jumlah pelanggan terus meningkat dan layanan semakin modern, heritage tetap kami rawat dan kelola secara profesional. Ini adalah tanggung jawab kami menjaga warisan bangsa sekaligus menghadirkan pengalaman perjalanan yang relevan bagi pelanggan hari ini,” ujar Anne.

Sepanjang 2025, layanan kereta api jarak jauh dan lokal di Jawa dan Sumatra melayani 55.620.561 perjalanan pelanggan atau tumbuh 7,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Di balik mobilitas tersebut, terdapat 656 aset KAI yang telah berstatus cagar budaya maupun dalam proses penetapan sebagai cagar budaya, tersebar di berbagai wilayah operasional.

Di wilayah Sumatra Utara, Stasiun Binjai telah berstatus cagar budaya, sementara Kisaran, Besitang, Labuhan, Pulobrayan, Belawan, Titi Papan, Medan, dan Lubuk Pakam berada dalam proses penetapan. Di Sumatra Barat, stasiun-stasiun bersejarah seperti Stasiun Sawahlunto, Silungkang, Muarakalaban, Simpang Haru, Pulo Air, Kacang, Singkarang, Sungai Lasi, Solok, Batu Tabal, Padang Panjang, Kayu Tanam, Kurai Taji, Pariaman, dan Naras telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Paoeh Kambar, Pasar Usang, Lubuk Alung, Sicincin, Muaro Padang, Bukittinggi, dan Payakumbuh masih dalam proses penetapan.

Di wilayah Palembang dan Tanjungkarang, Kertapati, Prabumulih, Lubuk Rukam, Paninjauan, Belatung Lama, Gelumbang, Lembak, Pagar Gunung, Payakabung, Tanjung Rambang, Martapura, Tanjung Karang, dan Pagar Gunung berada dalam proses penetapan.

Di Daop 1 Jakarta, Stasiun Jakarta Kota, Stasiun Tanjung Priok, Stasiun Manggarai, dan Stasiun Pasar Senen telah berstatus cagar budaya bersama Jatinegara, Tangerang, Rangkasbitung, Serang, Cilegon, Krenceng, Cikeusal, Catang, dan Anyer Kidul. Depok, Citayam, Cilebut, Batutulis, Sukabumi, Lemahabang, Kedunggedeh, Karawang, Sudimara, Serpong, Maja, Walantaka, dan Karangantu berada dalam proses penetapan.

Di wilayah Bandung, Stasiun Bandung, Padalarang, Cimahi, dan Purwakarta telah menjadi cagar budaya. Cibeber, Cianjur, Maleber, Tagogapu, Ciabatta, Ciawi, Rajapolah, Indihiang, Tasikmalaya, Manonjaya, Bojong, Cibungur, Sadang, Ciganea, Sukatani, Cisomang, Cikadongdong, dan Rende masih berproses.

Di Cirebon, Stasiun Cirebon, Cirebon Prujakan, Brebes, dan Songgong telah ditetapkan sebagai cagar budaya, sementara Pegaden Baru dan Cangkring dalam proses penetapan. Di Semarang, Stasiun Semarang Tawang, Semarang Poncol, Gundih, dan Stasiun Ambarawa telah berstatus cagar budaya, dengan sejumlah stasiun lain seperti Tanggung, Kedungjati, Telawa, Kalibodri, Weleri, Batang, Pekalongan, Comal, Petarukan, Pemalang, Tegal, Kendal, Sulur, Kapuan, Cepu, Ngrombo, Gambringan, Demak, Pati, Rembang, Lasem, Tayu, Purwodadi, Blora, dan Tambaksari dalam proses penetapan.

Di wilayah Yogyakarta dan Solo, Stasiun Yogyakarta, Stasiun Solo Balapan, Purwosari, Lempuyangan, Solo Jebres, Kalimenur, Winongo, Bantul, Palbapang, dan Medari telah menjadi cagar budaya. Kalioso, Delanggu, Ceper, Klaten, Srowot, Brambanan, Masaran, Kemiri, Palur, Magelang Kota, Grabakmerbabu, Solo Kota, dan Wonogiri berada dalam proses penetapan. Di Madiun, Stasiun Madiun telah ditetapkan sebagai cagar budaya, sementara Blitar masih berproses.

Di wilayah Surabaya dan sekitarnya, Surabaya Kota, Stasiun Surabaya Gubeng, Wonokromo, Malang, dan Malang Kota Lama telah berstatus cagar budaya, sedangkan Blimbing, Gebang, Mojokerto, dan Bojonegoro dalam tahap penetapan. Di wilayah Jember, Probolinggo, Jember, dan Bondowoso telah menjadi cagar budaya, sementara Pasuruan, Lumajang, Panarukan, Banyuwangi, dan Sumberkolak dalam proses penetapan.

Selain stasiun, KAI juga mengelola berbagai struktur bersejarah seperti Viaduct Bandung, Jembatan Kudung Kemangkon, Jembatan Rel Pangukan, Jembatan Kereta Api Sungai Progo, Jembatan Buk Gluduk, Lubang Kalam atau Terowongan Muaro Kalaban–Sawahlunto, Jembatan Tinggi, struktur pemutar lokomotif uap, serta jalur Sawahlunto–Teluk Bayur. Bangunan bersejarah lain yang menjadi bagian dari heritage KAI antara lain Lawang Sewu, Museum Kereta Api Ambarawa, Kantor Pusat KAI, Kantor Daop 2 Bandung, PKLG Cikudapateuh, Pusdiklat KAI, Balai Yasa Yogyakarta, kawasan perumahan PJKA di Kedungjati dan Lempuyangan, berbagai rumah dinas, mess, gardu, bengkel, depo, serta fasilitas operasional lain yang memiliki nilai historis tinggi.

Untuk sarana, KAI juga menjaga aset bersejarah seperti Lokomotif Bima Kunthing, Lokomotif Uap E1060 “Mak Itam”, gerbong penumpang, gerbong batubara, gerbong air dan barang, serta steam roller yang menjadi bagian dari perjalanan panjang industri perkeretaapian nasional.

Anne menegaskan bahwa pengelolaan heritage dilakukan secara terstruktur dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta instansi terkait. Pendekatan customer centric tetap menjadi perhatian agar pelanggan dapat menikmati fasilitas yang nyaman di ruang yang sarat nilai sejarah.

“Kami ingin pelanggan merasakan pengalaman perjalanan yang modern sekaligus berada di ruang yang terawat nilai historisnya. Heritage dan modernisasi kami kelola dalam satu arah yang sama,” tutup Anne.

KAI mengajak seluruh masyarakat dan pelanggan untuk bersama menjaga aset bersejarah tersebut. Kepedulian terhadap kebersihan, ketertiban, serta penghormatan terhadap nilai sejarah merupakan bagian dari tanggung jawab bersama dalam merawat warisan bangsa yang terus bergerak menghubungkan Indonesia dari masa ke masa.(fahmi)

 

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Balai Yasa Cirebon Prujakan Rawat 51 Mesin Perawatan Rel untuk Dukung Keselamatan KA di Jawa

19 Juli 2026 - 05:40 WIB

Penumpang Kelas Eksekutif KAI Tembus 7,57 Juta pada Semester I 2026, Naik 18,78 Persen

18 Juli 2026 - 19:08 WIB

Penumpang Kereta di Sumatra Tembus 3,8 Juta pada Semester I 2026, Naik 11,35 Persen

18 Juli 2026 - 17:35 WIB

Petugas Pengisian Air KAI Services, Garda Senyap di Balik Nyamannya Perjalanan Kereta Api

18 Juli 2026 - 10:40 WIB

31 Tahun Argo, KAI Catat Pertumbuhan Penumpang dan Terus Kembangkan Layanan Kereta Antarkota

18 Juli 2026 - 09:32 WIB

KAI Tutup Sementara Jalur 4 dan 5 Stasiun Bogor untuk Pembangunan Kanopi Peron

18 Juli 2026 - 09:21 WIB

KAI: 61 Persen Aktivitas Penumpang Kereta Api Terjadi di Luar 10 Stasiun Terpadat

17 Juli 2026 - 22:21 WIB

KAI Angkut 10.050 Ton Pupuk pada Semester I 2026, Perkuat Distribusi Antardaerah

17 Juli 2026 - 14:17 WIB

Syarat Kapal Nelayan 30-200 GT Dapat Solar Rp15.000 per Liter, Ini Kata Kementerian-KP

17 Juli 2026 - 10:07 WIB

Wow Banyak! KAI Kelola 12.856 Sarana Perkeretaapian untuk Dukung Mobilitas dan Logistik Nasional, Ini Dia Rinciannya

17 Juli 2026 - 09:58 WIB

Trending di PERON