Menu

Mode Gelap
Anna Latuconsina Ajak Hentikan Normalisasi Kekerasan terhadap Perempuan Lewat Bincang Buku di Gedung Parlemen Survei Deloitte: 42% Konsumen Indonesia Minati Mobil Listrik, Penjualannya Malah Jalan di Tempat Jatiwaringin Hingga Cipayung, TPA Membakar Anggaran Negara Bus Listrik Transjabodetabek Dibidik, Bisa Hemat Rp3 Triliun Setahun  Era Cashless Datang, Anak SD Lebih Cepat Kenal QRIS Dibanding Literasi Keuangan  Di Tengah Keterbatasan Keuangan Daerah, Oknum Pungut Dana Titipan Rp7 Juta Per Desa di Subulussalam  

RAGAM

Jatiwaringin Hingga Cipayung, TPA Membakar Anggaran Negara

badge-check


 Jatiwaringin Hingga Cipayung, TPA Membakar Anggaran Negara Perbesar

Wartatrnas.com, JAKARTA – Rentetan kebakaran di TPA Jatiwaringin, tumpukan sampah di Gunung Putri, hingga TPA Cipayung, dalam kurun kurang dari tiga pekan, menjadi peringatan bahwa persoalan sampah di Indonesia, telah memasuki fase yang lebih serius. Kebakaran yang terus berulang menunjukkan sistem pengelolaan sampah masih bertumpu pada penumpukan di tempat pemrosesan akhir (TPA), bukan pada pengurangan sejak sumbernya.

Kebakaran pertama terjadi di TPA Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, pada Selasa (30/6/2026). Api baru berhasil dipadamkan sekitar 11 hari kemudian setelah pemerintah mengerahkan puluhan personel, mobil pemadam, alat berat, hingga helikopter water bombing untuk mengatasi bara yang terus muncul dari lapisan bawah timbunan sampah.

Belum lama berselang, kebakaran kembali melanda tumpukan sampah di kawasan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Rentetan insiden berlanjut ketika TPA Cipayung, Kota Depok, terbakar pada Kamis (16/7/2026) malam sehingga petugas kembali membutuhkan waktu berjam-jam untuk mengendalikan api agar tidak meluas ke area lain.

Sebelum kebakaran di Depok terjadi, Kamis (9/7/2026), Peneliti Pusat Riset Lingkungan dan Teknologi Bersih Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dede Hermawan telah mengingatkan pemerintah daerah agar tidak mengandalkan satu teknologi dalam mengelola seluruh jenis sampah. Menurut dia, setiap daerah memiliki karakteristik timbulan sampah yang berbeda sehingga memerlukan kombinasi teknologi, mulai dari pengomposan, refuse-derived fuel (RDF), biodigester, hingga pengolahan termal.

Peringatan tersebut diperkuat penelitian Condo Leezza Chrismanta bersama tim dari Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang yang dipublikasikan dalam Presidensial: Jurnal Hukum, Administrasi Negara, dan Kebijakan Publik edisi Juni 2026. Penelitian itu menyimpulkan pengelolaan sampah di Indonesia masih didominasi pola “kumpul-angkut-buang”, sehingga sebagian besar sampah langsung berakhir di TPA tanpa melalui pemilahan dan pengurangan dari sumbernya.

Masih berdasarkan penelitian tersebut, timbulan sampah nasional mencapai sekitar 28 juta ton per tahun. Volume yang terus bertambah tanpa diimbangi pengurangan sejak rumah tangga membuat banyak TPA menghadapi tekanan kapasitas sekaligus meningkatkan risiko terbentuknya gas metana yang mudah terbakar.

Dampaknya tidak berhenti pada kerusakan lingkungan. Kebakaran TPA memaksa pemerintah mengerahkan armada pemadam, alat berat, pasokan air, hingga operasi udara pada kasus tertentu seperti di Jatiwaringin. Sejumlah kajian kebencanaan menunjukkan biaya penanganan satu kebakaran TPA berskala besar dapat mencapai miliaran rupiah, di luar kerugian akibat hilangnya potensi sampah yang seharusnya dapat diolah menjadi RDF, kompos, biogas, atau energi listrik.

Pengalaman TPA Brahmapuram di Kochi, India, pada 2023 memperlihatkan konsekuensi yang lebih luas. Kebakaran yang berlangsung hampir dua pekan memicu penutupan sekolah, gangguan aktivitas ekonomi, penurunan kualitas udara, serta memaksa pemerintah mengalokasikan anggaran besar untuk pemadaman, layanan kesehatan, dan pemulihan lingkungan.

Rangkaian kebakaran dari Jatiwaringin hingga Cipayung menunjukkan bahwa membangun TPA baru tidak akan menyelesaikan persoalan jika pola pengelolaan sampah tetap sama. Pengurangan sampah sejak sumber, pemilahan, daur ulang, dan penerapan teknologi yang sesuai dengan karakteristik setiap daerah menjadi langkah yang jauh lebih murah dibandingkan terus mengeluarkan anggaran miliaran rupiah setiap kali TPA terbakar.*** (Artha Tidar)

Baca Lainnya

Anna Latuconsina Ajak Hentikan Normalisasi Kekerasan terhadap Perempuan Lewat Bincang Buku di Gedung Parlemen

18 Juli 2026 - 22:58 WIB

Di Tengah Keterbatasan Keuangan Daerah, Oknum Pungut Dana Titipan Rp7 Juta Per Desa di Subulussalam  

18 Juli 2026 - 22:21 WIB

Paus Bungkuk Terdampar di Pantai Perancak Bali, KKP dan Tim Gabungan Lakukan Penanganan

18 Juli 2026 - 21:51 WIB

Bank Sampah Mapolis-BK3 Himpun Rata-rata 1 Ton Sampah Anorganik per Bulan, Warga Diajak Konsisten Pilah Sampah

18 Juli 2026 - 11:15 WIB

Sambangi Masjid dan Warga Cileungsi Kidul Bogor, Jumat Berkah Wartawan Didoakan Supaya Terus Berbagi

17 Juli 2026 - 22:20 WIB

IPCC Kenalkan Ekosistem Logistik Otomotif kepada GIBEI FEB UNJ

17 Juli 2026 - 21:41 WIB

Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Gelar  Pemeriksaan TBC Gratis dan Santunan Anak Yatim di Kalibaru

17 Juli 2026 - 21:33 WIB

Sambut HUT Ke-13, IPC TPK Bukukan Peningkatan Kinerja Arus Peti Kemas 7 Persen

17 Juli 2026 - 21:24 WIB

Wujudkan Kepedulian Lingkungan Laut, Pelindo Regional 2 Banten Gelar Program TJSL Konservasi Terumbu Karang di Pulau Merak Besar

17 Juli 2026 - 21:17 WIB

Dari Kolong Tol untuk Ketahanan Pangan, PT Pelindo Sinergi Lokaseva Panen Perdana TJSL Ikan Nila

17 Juli 2026 - 21:11 WIB

Trending di ANJUNGAN