Menu ✖

Mode Gelap
Tanjung Perak jadi Pelabuhan Uji Coba Pertama Penertiban Kendaraan ODOL Hendak Naik Kapal Banjir dan Longsor Lumpuhkan Akses Blangkejeren–Kutacane, Aktivitas Ekonomi Warga Terancam Rocky Gerung Diminta Tak Lagi Desak Gibran Mundur, Kebebasan Berpendapat dan Etika Kekuasaan Jadi Sorotan KSOP Muara Angke Kampanye Pemeriksaan Kapal Terkonsentrasi Townhall Meeting IPC TPK 2026: Fokus Penyelarasan Peta Peran Pelindo Group dan Transformasi Perusahaan Pelindo Kenalkan Dunia Maritim kepada Siswa SMPN 129 Jakarta melalui Edukasi Kemaritiman

JALUR

Bus Listrik Transjabodetabek Dibidik, Bisa Hemat Rp3 Triliun Setahun 

badge-check


 Bus Listrik Transjabodetabek Dibidik, Bisa Hemat Rp3 Triliun Setahun  Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – Perluasan layanan Transjabodetabek tidak lagi sekadar membuka rute baru antarkota penyangga Jakarta. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadikannya bagian dari percepatan elektrifikasi angkutan umum dengan target sekitar 10.000 bus listrik beroperasi secara bertahap hingga 2029.

TransJakarta dan Transjabodetabek berada dalam satu sistem, tetapi memiliki fungsi berbeda. TransJakarta melayani mobilitas di dalam ibu kota melalui jaringan bus rapid transit (BRT), sedangkan Transjabodetabek merupakan perluasan layanan yang menghubungkan Jakarta dengan Bogor, Depok, Tangerang, Tangerang Selatan, dan Bekasi. Integrasi keduanya diharapkan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi sekaligus memperluas akses transportasi publik di kawasan metropolitan.

Elektrifikasi armada dinilai membawa manfaat lingkungan sekaligus ekonomi. Kajian Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia menyebut penggunaan bus listrik mampu menekan konsumsi bahan bakar fosil dan emisi gas rumah kaca. Bagi Jakarta yang masih menghadapi persoalan polusi udara, kebijakan tersebut menjadi salah satu instrumen penting untuk memperbaiki kualitas lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi layanan angkutan umum.

Dari sisi ekonomi, TransJakarta memperkirakan satu unit bus listrik mampu menghemat subsidi bahan bakar minyak sekitar Rp302 juta per tahun. Biaya energi juga turun dari sekitar Rp3.400 menjadi Rp800 per kilometer, sedangkan biaya perawatan berkurang dari sekitar Rp5.400 menjadi Rp2.600 per kilometer. Selama sekitar 5,5 tahun, total efisiensi operasional diperkirakan mencapai Rp3,9 miliar per unit atau hampir setara harga pembelian satu bus listrik berukuran 12 meter.

Apabila target sekitar 10.000 bus listrik dapat direalisasikan, potensi penghematan subsidi BBM saja diperkirakan mencapai sekitar Rp3 triliun per tahun. Nilai tersebut belum termasuk efisiensi biaya energi dan perawatan, serta manfaat ekonomi dari berkurangnya polusi udara, kemacetan, dan waktu tempuh masyarakat. Besarnya potensi penghematan itu menunjukkan bahwa elektrifikasi angkutan umum bukan hanya kebijakan lingkungan, tetapi juga investasi fiskal jangka panjang bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Namun, target tersebut masih menghadapi tantangan berupa penyediaan stasiun pengisian daya, kesiapan jaringan listrik, investasi armada, hingga keberlanjutan pendanaan. Sekretaris Fraksi Partai Golkar DPRD DKI Jakarta, Andri Santosa, pada April 2026 mengingatkan agar target 10.000 bus listrik tidak berhenti sebagai wacana dan meminta pemerintah menyusun peta jalan yang jelas agar progresnya dapat diawasi publik.

Dalam forum diskusi di Jakarta, Rabu (15/4/2026), Spesialis Utama Transformasi dan Manajemen Perubahan TransJakarta, Gatot Indra Koswara, mengatakan implementasi bus listrik berukuran besar telah menunjukkan hasil positif. “Untuk bus besar 13 hingga 18 meter, kami sudah memiliki data implementasi bus listrik selama empat tahun dan hasilnya baik dari sisi performa, baterai, maupun capaian kilometernya,” ujarnya.

Masih pada kesempatan yang sama, Gatot menambahkan, “Satu unit bus listrik berpotensi menghemat subsidi BBM pemerintah hingga Rp302 juta per tahun.” Menurutnya, akumulasi efisiensi operasional selama masa layanan bahkan dapat menyamai harga pembelian satu unit bus listrik.

Pengalaman Singapura, Thailand, dan Malaysia menunjukkan elektrifikasi bus telah menjadi tren transportasi publik di Asia Tenggara. Dalam kajian yang dipublikasikan ITDP Indonesia pada Juli 2025, keberhasilan transisi tidak hanya ditentukan oleh jumlah armada, tetapi juga kualitas layanan, integrasi antarmoda, infrastruktur pengisian daya, dan kepastian pendanaan. Bagi Jakarta, keberhasilan program ini bukan semata diukur dari tercapainya target 10.000 bus listrik, melainkan dari kemampuannya menghadirkan transportasi publik yang lebih efisien, terjangkau, dan mampu menarik lebih banyak masyarakat meninggalkan kendaraan pribadi.*** (Artha Tidar)

Baca Lainnya

Tanjung Perak jadi Pelabuhan Uji Coba Pertama Penertiban Kendaraan ODOL Hendak Naik Kapal

12 Oktober 2026 - 20:57 WIB

Aturan Transportasi Berbasis Aplikasi Masuk dalam Revisi UU LLAJ

12 Oktober 2026 - 05:19 WIB

Kenalkan Energi Masa Depan, DAMRI Hadirkan Bus H2 DDF di Hydrogen Day 2026

11 Oktober 2026 - 19:43 WIB

Pentingnya Penanganan Penertiban Kendaraan ODOL di Pelabuhan untuk Keselamatan

11 Oktober 2026 - 08:20 WIB

Menhub Dudy Pastikan Diskon Perjalanan di Libur Nataru Kembali Ada

10 Oktober 2026 - 18:27 WIB

Kemenhub Perkuat Aksi Nyata Penanganan Kendaraan ODOL di Jatim

10 Oktober 2026 - 15:53 WIB

Naik JakLingko dari Stasiun MRT Mulai Senin dapat Gunakan Semua Jenis Kartu Uang Elektronik

10 Oktober 2026 - 15:34 WIB

Penguatan Perlindungan Hak Ojol, Menhub Dudy: Keselamatan Prioritas Utama!

10 Oktober 2026 - 11:07 WIB

Grab Hormati Terbitnya Perpres No 27 Tahun 2026 dan Segera Pelajari Isinya

10 Oktober 2026 - 08:38 WIB

DAMRI Resmi Hubungkan Putussibau dan Kuching, Perkuat Konektivitas Indonesia–Malaysia

9 Oktober 2026 - 05:16 WIB

Trending di EKOBIS