Menu ✖

Mode Gelap
KAI Services Apresiasi Petugas Keamanan yang Bantu Penumpang Melahirkan di KRL Dr. Mohammad Amin, M. Sn,MA Jangan Malu Disebut Kampungan, Dangdut Justru Siap Menembus UNESCO Mansyur S Minta Wejangan Rhoma Irama: Jangan Takut Dangdut Ditinggal Anak Muda Jeritan Pilu Warga Berawang Baro Pegasing Delapan Dekade Merdeka, Terisolasi di Kubangan Lumpur dan Janji Manis Pembangunan ‎ KAI Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang, 748 Petugas PJL Disertifikasi hingga Tutup 1.329 Perlintasan Liar Peduli Lingkungan Sejak Dini, Terminal Teluk Lamong Edukasi Siswa tentang Pemilahan Sampah

JALUR

Reformasi Transportasi Publik: Saatnya Trans Jateng Hadir di Jepara, Kudus, dan Pati

badge-check


 Trans Jateng Perbesar

Trans Jateng

Penulis: Anastasia Yulianti, Sekretaris Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Jawa Tengah

Wartatrans.com, SEMARANG – Kabupaten Jepara, Kudus, dan Pati (Jekuti) merupakan wilayah yang memiliki kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sangat signifikan di Provinsi Jawa Tengah, terutama pada sektor industri pengolahan, perdagangan, dan jasa.

Pada tahun 2025, PDRB Kabupaten Kudus tercatat sebesar Rp132.316,91 miliar, menjadikannya sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di Jawa Tengah setelah Kota Semarang.

Meskipun secara geografis Kudus merupakan kabupaten terkecil di provinsi ini dengan luas wilayah hanya sekitar 42.516 hektare, nilai ekonominya mampu melonjak tinggi karena ditopang oleh sektor industri pengolahan (khususnya industri hasil tembakau atau rokok) yang menyumbang hingga 76 persen dari total PDRB daerah tersebut.

Sementara itu, Kabupaten Jepara berdiri kokoh sebagai magnet industri manufaktur yang sukses memadukan kerajinan ukir tradisional berskala ekspor dengan industri manufaktur modern berskala besar.

Sektor industri pengolahan mebel, garmen, dan tekstil di Jepara tumbuh subur di kecamatan-kecamatan strategis seperti Pecangaan, Kalinyamatan, dan Mayong.

Di sisi timur, Kabupaten Pati menempati posisi strategis sebagai penopang ketahanan pangan regional sekaligus generator industri berbasis agro perkebunan dan ekonomi biru di lintas Pantura Timur.

Kekuatan utama Pati terletak pada keberhasilannya mengintegrasikan sektor primer, seperti pertanian, perikanan tangkap, dan perkebunan tebu ke dalam industri pengolahan hilir meliputi manufaktur makanan, industri ekspor laut, hingga pergaraman.

Potensi ini mengukuhkan Pati sebagai benteng pangan sekaligus koridor logistik vital di Jawa Tengah, dengan skala ekonomi yang bersaing ketat di papan tengah-atas dan masuk dalam jajaran 15 besar kabupaten/kota dengan output ekonomi tertinggi.

Dalam pola pergerakan wilayah Jekuti, Kabupaten Kudus bertindak sebagai magnet pergerakan utama.

Data menunjukkan arus komuter dari Jepara ke Kudus mencapai 72 persen dari total pergerakan keluar Jepara, sedangkan arus dari Pati ke Kudus menyentuh angka 73 persen dari total pergerakan keluar Pati.

Tingginya konsentrasi arus komuter menuju Kudus didorong oleh daya tarik masif dari sektor manufaktur perkotaan (industri rokok skala nasional dan industri kertas) serta tingginya angka tarikan perjalanan kota karena kelengkapan sarana industri padat karya, pusat perbelanjaan, fasilitas kesehatan regional, hingga lembaga pendidikan tinggi.

Namun, output ekonomi yang besar dari sektor manufaktur dan perdagangan di Jekuti belum diimbangi oleh penyediaan sarana angkutan massal yang modern dan memadai.

Layanan angkutan umum eksisting di wilayah ini tengah berada dalam fase kritis dan mengalami penurunan performa yang signifikan.

Armada yang kurang layak serta jadwal keberangkatan yang tidak pasti memaksa 74 persen hingga 89 persen pergerakan harian masyarakat beralih menggunakan kendaraan pribadi, khususnya sepeda motor.

Kondisi tersebut berdampak buruk pada lalu lintas jalan raya. Tingginya volume roda dua yang bercampur dengan angkutan logistik barang industri memicu kemacetan parah pada jam sibuk, terutama di koridor Mayong–Kalinyamatan. Beban berat ini tercermin dari angka Volume to Capacity Ratio (V/C Ratio) jalan nasional yang telah melampaui batas kritis keselamatan.

Seperti di ruas Batas Demak/Jepara – Margoyoso yang mencapai V/C 1,16 dan Jalan Lingkar Juwana yang menembus V/C 1,83.

Krisis ini diperparah oleh penurunan jumlah armada transportasi publik secara sistemik. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, total angkutan umum (bus AKDP, angkot, dan angkudes) di kawasan Jekuti menyusut drastis hingga 15 persen, dengan penurunan paling tajam terjadi di Kabupaten Kudus yang kehilangan 30 persen dari total armadanya.

Di Terminal Bangsri, Pecangaan, dan Juwana, angkot dan angkudes bahkan telah kehilangan fungsi regulernya dan lebih banyak dimanfaatkan sebagai angkutan carteran borongan oleh para pedagang pasar.

Guna menjawab kebutuhan mobilitas pekerja komuter lintas kabupaten ini, wilayah Jekuti membutuhkan reformasi total melalui penyediaan transportasi massal perkotaan yang modern, aman, dan terintegrasi.

Kehadiran layanan angkutan aglomerasi Trans Jateng menjadi kebutuhan krusial untuk menyinergikan mobilitas pekerja dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi koridor (seperti Mayong, Kalinyamatan, Jekulo, dan Margorejo).

Keberadaan Trans Jateng nantinya akan bertindak sebagai instrumen modal shift (perpindahan moda) yang efektif untuk memindahkan pengguna kendaraan pribadi ke angkutan massal, sekaligus memangkas kepadatan volume kendaraan harian di jalur Pantura Timur.

Oleh karena itu, realisasi rute Trans Jateng di koridor Jekuti menjadi langkah strategis yang tidak dapat ditunda lagi.

Pengoperasian segera layanan ini akan menjadi instrumen vital untuk memutus siklus kemunduran layanan transportasi darat, menjamin efisiensi pergerakan komuter padat karya, serta mengamankan roda produktivitas ekonomi di wilayah aglomerasi Jekuti. (omy)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Menhub Dudy Sampaikan DIM RUU Perubahan Ketiga atas UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang LLAJ

30 September 2026 - 16:20 WIB

Penjualan EV Melaju, Transformasi Pasar Indonesia Belum Maksimal

30 September 2026 - 16:09 WIB

Komitmen Jaga Setiap Perjalanan, DAMRI Raih Penghargaan Pelopor Kita DKI 2026

30 September 2026 - 14:46 WIB

MTI Ingatkan 3 Momentum September Jangan Hanya sebagai Seremoni Keselamatan

30 September 2026 - 10:21 WIB

DAMRI Hadirkan Promo Early Booking, Pesan Tiket Lebih Awal Makin Hemat

29 September 2026 - 22:50 WIB

TransJakarta Tata Feeder Rusun, Efisiensi Jadi Strategi Jaringan

29 September 2026 - 08:18 WIB

LABA Masuk BaaS Truk Listrik, Modal Awal Jadi Tantangan

27 September 2026 - 15:47 WIB

Korlantas Luncurkan STNK Digital

26 September 2026 - 22:18 WIB

Transportasi Umum Diusulkan Jadi Syarat Pembangunan Perumahan

26 September 2026 - 22:13 WIB

Ditjen Hubud Tegaskan Pengawasan 3 Lapis dan Kesiapsiagaan Bencana

26 September 2026 - 15:04 WIB

Trending di BANDARA