Menu

Mode Gelap
Anna Latuconsina Ajak Hentikan Normalisasi Kekerasan terhadap Perempuan Lewat Bincang Buku di Gedung Parlemen Survei Deloitte: 42% Konsumen Indonesia Minati Mobil Listrik, Penjualannya Malah Jalan di Tempat Jatiwaringin Hingga Cipayung, TPA Membakar Anggaran Negara Bus Listrik Transjabodetabek Dibidik, Bisa Hemat Rp3 Triliun Setahun  Era Cashless Datang, Anak SD Lebih Cepat Kenal QRIS Dibanding Literasi Keuangan  Di Tengah Keterbatasan Keuangan Daerah, Oknum Pungut Dana Titipan Rp7 Juta Per Desa di Subulussalam  

RAGAM

Anna Latuconsina Ajak Hentikan Normalisasi Kekerasan terhadap Perempuan Lewat Bincang Buku di Gedung Parlemen

badge-check


 Anna Latuconsina Ajak Hentikan Normalisasi Kekerasan terhadap Perempuan Lewat Bincang Buku di Gedung Parlemen Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Anggota DPD RI asal Maluku, Anna Ruswan Latuconsina, SH., M.I.Kom., mengajak masyarakat menghentikan stigma dan normalisasi kekerasan terhadap perempuan melalui peluncuran sekaligus bincang buku Arung Jeram Pernikahan di Lobi Gedung DPD RI, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (14/7).

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Wanita Penulis Indonesia (WPI) bekerja sama dengan Yayasan Jantung Hati mengusung tema “Suara Perempuan, Suara Perubahan: Hapus Stigma dan Normalisasi Kekerasan terhadap Perempuan”. Acara dihadiri tokoh nasional, akademisi, organisasi perempuan, pegiat literasi, serta komunitas pemerhati perempuan dan anak.

Hadir sebagai tamu kehormatan antara lain Wakil Ketua DPD RI Gusti Kanjeng Ratu Hemas, Komisioner Bawaslu RI Lolly Suhenty, Komisioner KPU RI Dr. Betty Epsilon Idrus, Ketua Kaukus Perempuan Parlemen RI, para anggota DPD RI, Ketua Umum Wanita Penulis Indonesia Dr. Free Hearty, M.Hum., unsur Sekretariat Jenderal MPR RI dan DPR RI, Dharma Wanita Setjen DPD RI, serta perwakilan organisasi perempuan dan komunitas literasi.

Dalam sambutannya, Anna Ruswan Latuconsina menjelaskan bahwa buku Arung Jeram Pernikahan lahir dari keprihatinannya terhadap masih tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak, khususnya di lingkungan keluarga.

“Tidak ada pernikahan tanpa tantangan, tetapi setiap keluarga berhak hidup tanpa kekerasan,” ujar Anna.

Menurutnya, kekerasan dalam rumah tangga tidak boleh lagi dipandang sebagai persoalan pribadi, melainkan persoalan kemanusiaan yang harus dicegah secara bersama-sama.

Ketua Umum Wanita Penulis Indonesia, Dr. Free Hearty, M.Hum., mengapresiasi keberanian Anna mengangkat isu kekerasan terhadap perempuan melalui karya sastra. Ia menilai literasi memiliki kekuatan membangun kesadaran publik sekaligus menjadi media advokasi yang menyentuh nurani masyarakat.

Sementara itu, Gusti Kanjeng Ratu Hemas menegaskan bahwa perlindungan terhadap perempuan dan anak merupakan tanggung jawab seluruh elemen bangsa. Ia juga mendorong Anna untuk terus menyuarakan perlindungan terhadap perempuan dan anak di tengah meningkatnya kasus kekerasan.

Sesi bincang buku dipandu wartawan dan penulis senior Dra. Rita Sri Hastuti, M.I.Kom. dengan menghadirkan narasumber Prof. Dr. Haryatie Abdurrahman dari Selangor University, Malaysia, dan Dr. Maria Josephine Kumaat Mantik, S.S., M.Hum. dari Universitas Indonesia. Ketiganya membahas buku tersebut dari perspektif sastra, gender, keluarga, hingga kemanusiaan.

Diskusi berlangsung interaktif. Peserta dari berbagai organisasi dan komunitas mengangkat beragam persoalan, mulai dari pencegahan kekerasan dalam rumah tangga, pendidikan keluarga, hingga pentingnya membangun relasi yang setara antara suami dan istri. Pembahasan menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga berkaitan erat dengan budaya, pendidikan, dan kesadaran sosial.

Rangkaian acara ditutup dengan penyerahan cinderamata kepada narasumber, pemberian hadiah kepada peserta yang aktif berdiskusi, pembacaan puisi bertema perempuan oleh Nuyang Jaimee, serta ramah tamah yang diiringi musik. Pembacaan puisi menjadi refleksi tentang luka, ketabahan, dan harapan perempuan sekaligus menegaskan peran sastra sebagai media menyuarakan keberanian melawan kekerasan dan ketidakadilan.

Melalui buku Arung Jeram Pernikahan, Anna Ruswan Latuconsina berharap lahir kesadaran bersama untuk membangun keluarga Indonesia yang lebih adil, aman, dan bermartabat. Ia menegaskan bahwa keluarga yang harmonis hanya dapat terwujud melalui penghormatan terhadap martabat manusia, kesetaraan, serta penolakan terhadap segala bentuk kekerasan.*** (NJ)

Baca Lainnya

Jatiwaringin Hingga Cipayung, TPA Membakar Anggaran Negara

18 Juli 2026 - 22:48 WIB

Di Tengah Keterbatasan Keuangan Daerah, Oknum Pungut Dana Titipan Rp7 Juta Per Desa di Subulussalam  

18 Juli 2026 - 22:21 WIB

Paus Bungkuk Terdampar di Pantai Perancak Bali, KKP dan Tim Gabungan Lakukan Penanganan

18 Juli 2026 - 21:51 WIB

Bank Sampah Mapolis-BK3 Himpun Rata-rata 1 Ton Sampah Anorganik per Bulan, Warga Diajak Konsisten Pilah Sampah

18 Juli 2026 - 11:15 WIB

Sambangi Masjid dan Warga Cileungsi Kidul Bogor, Jumat Berkah Wartawan Didoakan Supaya Terus Berbagi

17 Juli 2026 - 22:20 WIB

IPCC Kenalkan Ekosistem Logistik Otomotif kepada GIBEI FEB UNJ

17 Juli 2026 - 21:41 WIB

Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Gelar  Pemeriksaan TBC Gratis dan Santunan Anak Yatim di Kalibaru

17 Juli 2026 - 21:33 WIB

Sambut HUT Ke-13, IPC TPK Bukukan Peningkatan Kinerja Arus Peti Kemas 7 Persen

17 Juli 2026 - 21:24 WIB

Wujudkan Kepedulian Lingkungan Laut, Pelindo Regional 2 Banten Gelar Program TJSL Konservasi Terumbu Karang di Pulau Merak Besar

17 Juli 2026 - 21:17 WIB

Dari Kolong Tol untuk Ketahanan Pangan, PT Pelindo Sinergi Lokaseva Panen Perdana TJSL Ikan Nila

17 Juli 2026 - 21:11 WIB

Trending di ANJUNGAN