Wartatrans.com, JAKARTA — Anggota DPD RI asal Maluku, Anna Ruswan Latuconsina, SH., M.I.Kom., mengajak masyarakat menghentikan stigma dan normalisasi kekerasan terhadap perempuan melalui peluncuran sekaligus bincang buku Arung Jeram Pernikahan di Lobi Gedung DPD RI, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (14/7).
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Wanita Penulis Indonesia (WPI) bekerja sama dengan Yayasan Jantung Hati mengusung tema “Suara Perempuan, Suara Perubahan: Hapus Stigma dan Normalisasi Kekerasan terhadap Perempuan”. Acara dihadiri tokoh nasional, akademisi, organisasi perempuan, pegiat literasi, serta komunitas pemerhati perempuan dan anak.

Hadir sebagai tamu kehormatan antara lain Wakil Ketua DPD RI Gusti Kanjeng Ratu Hemas, Komisioner Bawaslu RI Lolly Suhenty, Komisioner KPU RI Dr. Betty Epsilon Idrus, Ketua Kaukus Perempuan Parlemen RI, para anggota DPD RI, Ketua Umum Wanita Penulis Indonesia Dr. Free Hearty, M.Hum., unsur Sekretariat Jenderal MPR RI dan DPR RI, Dharma Wanita Setjen DPD RI, serta perwakilan organisasi perempuan dan komunitas literasi.
Dalam sambutannya, Anna Ruswan Latuconsina menjelaskan bahwa buku Arung Jeram Pernikahan lahir dari keprihatinannya terhadap masih tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak, khususnya di lingkungan keluarga.
“Tidak ada pernikahan tanpa tantangan, tetapi setiap keluarga berhak hidup tanpa kekerasan,” ujar Anna.
Menurutnya, kekerasan dalam rumah tangga tidak boleh lagi dipandang sebagai persoalan pribadi, melainkan persoalan kemanusiaan yang harus dicegah secara bersama-sama.
Ketua Umum Wanita Penulis Indonesia, Dr. Free Hearty, M.Hum., mengapresiasi keberanian Anna mengangkat isu kekerasan terhadap perempuan melalui karya sastra. Ia menilai literasi memiliki kekuatan membangun kesadaran publik sekaligus menjadi media advokasi yang menyentuh nurani masyarakat.
Sementara itu, Gusti Kanjeng Ratu Hemas menegaskan bahwa perlindungan terhadap perempuan dan anak merupakan tanggung jawab seluruh elemen bangsa. Ia juga mendorong Anna untuk terus menyuarakan perlindungan terhadap perempuan dan anak di tengah meningkatnya kasus kekerasan.
Sesi bincang buku dipandu wartawan dan penulis senior Dra. Rita Sri Hastuti, M.I.Kom. dengan menghadirkan narasumber Prof. Dr. Haryatie Abdurrahman dari Selangor University, Malaysia, dan Dr. Maria Josephine Kumaat Mantik, S.S., M.Hum. dari Universitas Indonesia. Ketiganya membahas buku tersebut dari perspektif sastra, gender, keluarga, hingga kemanusiaan.
Diskusi berlangsung interaktif. Peserta dari berbagai organisasi dan komunitas mengangkat beragam persoalan, mulai dari pencegahan kekerasan dalam rumah tangga, pendidikan keluarga, hingga pentingnya membangun relasi yang setara antara suami dan istri. Pembahasan menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga berkaitan erat dengan budaya, pendidikan, dan kesadaran sosial.
Rangkaian acara ditutup dengan penyerahan cinderamata kepada narasumber, pemberian hadiah kepada peserta yang aktif berdiskusi, pembacaan puisi bertema perempuan oleh Nuyang Jaimee, serta ramah tamah yang diiringi musik. Pembacaan puisi menjadi refleksi tentang luka, ketabahan, dan harapan perempuan sekaligus menegaskan peran sastra sebagai media menyuarakan keberanian melawan kekerasan dan ketidakadilan.
Melalui buku Arung Jeram Pernikahan, Anna Ruswan Latuconsina berharap lahir kesadaran bersama untuk membangun keluarga Indonesia yang lebih adil, aman, dan bermartabat. Ia menegaskan bahwa keluarga yang harmonis hanya dapat terwujud melalui penghormatan terhadap martabat manusia, kesetaraan, serta penolakan terhadap segala bentuk kekerasan.*** (NJ)


























