Wartatrans.com, JAKARTA — Pasar tradisional dituntut terus berinovasi agar tetap menjadi ruang ekonomi rakyat yang hidup di tengah perubahan zaman. Pasar tidak lagi cukup hanya mengandalkan aktivitas jual beli, tetapi perlu dikembangkan menjadi ruang publik yang nyaman, menarik, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Gagasan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan DPP Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia (APPSI) bersama Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto, Selasa (8/9/2026).

Dalam pertemuan itu, muncul sejumlah gagasan pengembangan pasar rakyat, mulai dari penyediaan area bermain anak, pusat kuliner, ruang khusus bagi produk petani dan nelayan lokal, hingga digitalisasi aktivitas perdagangan dan pedagang pasar.
Transformasi tersebut dinilai penting agar pasar rakyat mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku masyarakat, sekaligus tetap memiliki daya tarik sebagai pusat aktivitas ekonomi dan sosial.
Pasar rakyat juga didorong memiliki peran lebih besar dalam ekosistem ketahanan pangan. Salah satunya dengan membuka peluang agar pasar rakyat dapat ikut memasok kebutuhan bahan pangan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dengan demikian, keberadaan pasar tidak hanya memberi manfaat kepada pedagang dan konsumen, tetapi juga dapat memperkuat mata rantai ekonomi dari hulu hingga hilir—menghubungkan pedagang dengan petani, nelayan, pelaku UMKM, hingga program pemerintah.
Dalam pertemuan tersebut, Sekjen APPSI M. Mujiburohman hadir bersama jajaran pengurus APPSI.
Pasar yang inovatif bukan sekadar tempat transaksi. Ia dapat menjadi ruang kuliner, tempat keluarga berkumpul, pusat produk lokal, sekaligus simpul perputaran ekonomi masyarakat.
Pasar ramai, pedagang sejahtera, petani dan nelayan terserap produknya, ekonomi rakyat pun tumbuh.*** (Septi)




























