Menu ✖

Mode Gelap
KAI Operasikan 9 Gardu Pelintasan, Progres Pembangunan 190 Titik JPL Capai 98 Persen 32 Dosen Poltekpel Surabaya Tambah Gelar Setelah Dilantik sebagai Insinyur Elektrifikasi Truk Logistik: Investasi Mahal, Efisiensi Dipertaruhkan Menhub Dudy Pastikan Diskon Perjalanan di Libur Nataru Kembali Ada Kemenhub Perkuat Aksi Nyata Penanganan Kendaraan ODOL di Jatim Catatan Iwan Piliang: Nazali Lempo untuk Jaksa Agung – Menguji Kapasitas, Integritas, dan Kepastian Hukum

KABIN

Garuda Indonesia Periksa Armada Terdampak Abu Vulkanik Sebelum Kembali Terbang

badge-check


 Pemeriksaan armada Garuda Indonesia Perbesar

Pemeriksaan armada Garuda Indonesia

Wartatrans.com, JAKARTA – Kembali dibukanya bandara menjadi bagian penting dari pemulihan penerbangan setelah terdampak abu vulkanik dampak erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).

Namun, sebelum pesawat kembali melayani penumpang, Direktur Teknik Garuda Indonesia, Mukhtaris menjelaskan, kesiapan teknisnya juga harus dipastikan melalui pemeriksaan dan, bila diperlukan, pembersihan serta perawatan sesuai petunjuk pabrikan.

“Proses inilah yang dilakukan Garuda seiring dengan pemulihan penerbangan secara bertahap di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan sejumlah bandara terdampak lainnya,” tutur Mukhtaris, Rabu (9/9/2026).

Setiap pesawat menjalani penanganan berdasarkan kondisi dan hasil pemeriksaan masing-masing.

Sebelumnya, pada 6–7 September 2026, Garuda membatalkan sejumlah penerbangan dari dan menuju Jakarta, Bandung, dan Lampung dengan mempertimbangkan sebaran abu vulkanik, informasi keselamatan penerbangan, kondisi operasional, serta arahan otoritas terkait.

Nah, mengapa pesawat perlu diperiksa setelah terpapar abu vulkanik?

Abu vulkanik memerlukan penanganan khusus karena partikelnya dapat menempel pada permukaan pesawat maupun masuk ke area komponen dan sistem.

Karena itu, penanganannya tidak hanya mencakup pembersihan bagian yang terlihat, tetapi juga pemeriksaan area yang berpotensi terdampak sesuai petunjuk pabrikan.

“Pada pesawat yang parkir, perhatian antara lain diberikan pada bagian atas badan pesawat, sayap, dan ekor horizontal, tempat abu dapat mengendap,” ungkapnya.

Saluran masuk udara serta bagian terbuka pada perangkat roda pendaratan juga diperiksa.

Bila pesawat mengalami paparan saat terbang, pemeriksaan turut mencakup kaca kokpit, bagian depan sayap, dan komponen mesin sesuai ketentuan pabrikan.

Menurut Muktaris, kebutuhan penanganan dapat berbeda pada setiap pesawat.

“Pemeriksaan menjadi dasar untuk menentukan tindakan yang diperlukan pada masing-masing pesawat. Kami memastikan seluruh pemeriksaan dan perawatan yang dipersyaratkan telah diselesaikan sesuai panduan pabrikan sebelum pesawat dinyatakan laik terbang dan kembali melayani penumpang,” ujarnya.

Dari Pemeriksaan Awal Hingga Dipastikan Laik Terbang

Mukhtari mengemukakan, penanganan dimulai dengan pemeriksaan awal pada bagian luar pesawat, mesin, saluran masuk udara, sensor, serta komponen lain yang berpotensi terdampak.

“Hasilnya menjadi acuan bagi teknisi untuk menentukan area yang perlu dibersihkan maupun memerlukan pemeriksaan lebih lanjut,” ucapnya.

Area yang terdampak kemudian dibersihkan menggunakan metode dan material sesuai petunjuk pabrikan.

Pemilihan cara pembersihan menjadi penting untuk menjaga kondisi komponen sekaligus mencegah abu masuk lebih jauh ke dalam sistem pesawat.

Bila hasil pemeriksaan menunjukkan perlunya penanganan tambahan, teknisi melanjutkan pemeriksaan dan perawatan sesuai ketentuan teknis yang disetujui.

Dengan demikian, tindakan yang dilakukan mengikuti kebutuhan setiap pesawat berdasarkan hasil pemeriksaan.

“Tahap berikutnya adalah verifikasi kelaikudaraan, yaitu memastikan pesawat memenuhi persyaratan teknis untuk dapat dioperasikan dengan aman,” imbuh dia.

Pesawat hanya kembali melayani penerbangan setelah seluruh pekerjaan yang dipersyaratkan selesai dan status kelaikudaraannya memenuhi ketentuan yang berlaku.

Perlindungan Saat Pesawat Berada Di Darat

Upaya menjaga kondisi pesawat dilakukan sejak armada berada di area yang berpotensi terdampak. Berkoordinasi dengan pengelola bandara, Garuda Indonesia melakukan tindakan perlindungan.

Hal itu dilakukan melalui pemasangan penutup pada mesin, saluran masuk udara, sensor, dan komponen lainnya sesuai instruksi pabrikan.

“Langkah perlindungan, pemeriksaan, pembersihan, dan perawatan tersebut menjadi bagian yang saling melengkapi dalam memastikan kesiapan armada,” ujar Mukhtaris.

Bersamaan dengan proses ini, Garuda terus memantau informasi keselamatan penerbangan dan berkoordinasi dengan otoritas penerbangan, pengelola bandara, serta pihak terkait untuk mendukung pemulihan operasional secara bertahap.

“Keselamatan selalu menjadi prioritas utama kami dan landasan setiap keputusan operasional. Kami memahami bahwa penyesuaian penerbangan turut memengaruhi rencana dan waktu berharga para penumpang. Kepercayaan yang diberikan menjadi tanggung jawab kami untuk memastikan kesiapan pesawat dan layanan, agar setiap perjalanan dapat kembali berlanjut dengan aman dan nyaman,” tutupnya. (omy)

Baca Lainnya

Elektrifikasi Truk Logistik: Investasi Mahal, Efisiensi Dipertaruhkan

10 Oktober 2026 - 18:34 WIB

Menhub Dudy Pastikan Diskon Perjalanan di Libur Nataru Kembali Ada

10 Oktober 2026 - 18:27 WIB

Jadi Panelis Forum ICAO 2026, Dirop AirNav Paparkan Penerapan FRTO di Wilayah Kepulauan

10 Oktober 2026 - 11:24 WIB

NPCT1 Raih Penghargaan “Container Terminal Operator of the Year” pada Indonesia Logistics Awards 2026

10 Oktober 2026 - 11:19 WIB

Grab Hormati Terbitnya Perpres No 27 Tahun 2026 dan Segera Pelajari Isinya

10 Oktober 2026 - 08:38 WIB

Ramaikan MotoGP Mandalika 2026, BNI Hadirkan Promo dan Kemudahan Bertransaksi

9 Oktober 2026 - 18:00 WIB

Demi Perkuat Pertumbuhan Ekonomi, Pelindo Dorong Integrasi Infrastruktur

9 Oktober 2026 - 16:18 WIB

Yes, MotoGP Mandalika 2026 Gairahkan Penerbangan

9 Oktober 2026 - 15:29 WIB

ASDP Sabet Indonesia Logistics Awards 2026

9 Oktober 2026 - 14:34 WIB

Sasar 1.115 Penerima Manfaat, ASDP Luncurkan Program Pencegahan Stunting di 10 Wilayah

9 Oktober 2026 - 09:58 WIB

Trending di EKOBIS