Menu

Mode Gelap
KAI Madiun Tegaskan Jalur Kereta Bukan Tempat Ngabuburit, Pelanggar Bisa Dipenjara KAI Catat 1,8 Juta Tiket Lebaran 2026 Terjual, Masyarakat Diminta Manfaatkan Jadwal Okupansi Rendah KAI Daop 1 Telah Jual 541 Ribu Tiket Angkutan Lebaran 2026, Tersedia Lagi 98 Ribu Kursi Mudik Sinergi DAMRI–Dinsos Jakarta, Komitmen Transportasi Pemulangan bagi Warga Terlantar AirAsia Malaysia Ramaikan Batam Setiap Hari Mulai 13 Maret Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok Pimpin Apel Siaga Kamtibmas: Komitmen Jaga Keamanan Ramadhan dan Idul Fitri

Uncategorized

Bangga Jadi WNI, Swara Reiki January Pilih Kembali ke Merah Putih Usai Raih Gelar Sarjana di London

badge-check


 Bangga Jadi WNI, Swara Reiki January Pilih Kembali ke Merah Putih Usai Raih Gelar Sarjana di London Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Menuntut ilmu di salah satu kota paling terkenal di dunia tak membuat Swara Reiki January kehilangan jati dirinya. Putra sulung penyanyi beken Ratna Listy itu justru semakin meneguhkan rasa bangganya sebagai warga negara Indonesia setelah menyelesaikan studi Bachelor of Arts in Media, Communications, and Cultural Studies di Goldsmiths, University of London, Inggris.

Semula Reiki berencana melanjutkan studi ke Australia. Namun setelah mempertimbangkan kurikulum dan kekuatan bidang komunikasi di Inggris yang dinilai lebih komprehensif, ia akhirnya memilih London sebagai tempat menimba ilmu. Keputusan tersebut terbukti tepat. Kini ia telah resmi menyandang gelar sarjana dan bersiap melanjutkan pendidikan ke jenjang S2.

London dan Identitas yang Kian Menguat

Hidup di London membuat Reiki merasakan langsung dinamika masyarakat multikultural. Kota ini dikenal sebagai kota global dengan penduduk dari berbagai negara, budaya, dan latar belakang. Sistemnya tertata, terstruktur, dan membuka peluang jejaring internasional yang luas.

Namun di balik semua keunggulan itu, ada satu hal yang menurutnya tak tergantikan yaitu identitas sebagai orang Indonesia.

“Di luar negeri memang semuanya terasa lebih rapi dan terstruktur. Tapi soal kehangatan, kedekatan batin, dan rasa kekeluargaan, Indonesia itu juara,” ujarnya.

Pengalaman tinggal jauh dari Tanah Air justru membuatnya semakin menyadari nilai-nilai yang selama ini mungkin terasa biasa saja ketika masih berada di rumah sendiri.

Indonesia Kaya Lebih dari Sekadar Alam

Bagi Reiki, kebanggaan menjadi orang Indonesia bukan hanya soal kekayaan alam, tetapi juga kekuatan budaya dan persatuan.

“Di Inggris keberagaman itu besar. Tapi Indonesia juga luar biasa. Dari timur sampai barat, beda suku, beda budaya, beda makanan, tapi bisa bersatu dengan satu bahasa yaitu Bahasa Indonesia. Itu indah banget,” katanya.

Ia menilai tidak semua negara memiliki kekuatan persatuan seperti Indonesia. Dengan ratusan suku dan bahasa daerah, Indonesia tetap berdiri kokoh dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Hal itu menjadi kebanggaan tersendiri ketika ia memperkenalkan diri dalam pergaulan internasional.

Nilai Kekeluargaan yang Tak Tergantikan

Selama tinggal di Inggris, Reiki merasakan perbedaan pola hubungan sosial. Masyarakat Barat cenderung lebih mandiri dan individual. Interaksi tetap terjalin, namun kedekatan emosional tidak sedalam yang ia rasakan di Indonesia.

“Di Indonesia, hubungan itu bisa sampai ke hati. Kita bisa tertawa sampai sakit perut, bisa saling bantu tanpa banyak hitung-hitungan. Budaya gotong royong dan sopan santun itu kuat banget,” ungkapnya.

Ia juga menilai pola pengasuhan anak di Indonesia masih sarat nilai moral dan penghormatan kepada orang yang lebih tua. Menurutnya, nilai-nilai seperti itu mulai berkurang di sebagian budaya Barat.

Tempaan Akademik dan Organisasi

Di Goldsmiths, University of London, Reiki mendalami berbagai mata kuliah strategis seperti Psikologi & Subjektivitas, memahami Periklanan, Budaya Promosi, hingga Struktur Komunikasi Politik Kontemporer (September 2022–Juni 2025).

Sebelumnya, ia menyelesaikan International Foundation – Social Sciences and Media di INTO London International Foundation dengan nilai akhir 68 (Merit/Pujian), memperkuat kemampuan berpikir kritis, komunikasi, psikologi, sosiologi, dan isu-isu global.

Tak hanya akademik, ia juga dipercaya menjadi Ketua PPI London (Perhimpunan Pelajar Indonesia di London) periode 2024–2025. Memimpin 73 pengurus di 12 divisi, Reiki aktif menjalin koordinasi dengan KBRI London dan berbagai mitra eksternal.

Di bawah kepemimpinannya, PPI London meluncurkan program loyalitas yang menghasilkan tambahan pendapatan lebih dari £2.000 dan bermanfaat bagi 700 lebih mahasiswa. Ia juga mengelola berbagai acara penggalangan dana bersama lebih dari 15 pemangku kepentingan dan meningkatkan ROI hingga 10 persen melalui strategi dan manajemen krisis yang matang.

Selain itu, ia turut menjadi Steering Committee “Resonance of Indonesia”, acara budaya Indonesia terbesar di Inggris yang dihadiri lebih dari 1.000 peserta dan menghasilkan keuntungan £15.000.

Pengalaman Profesional dan Ketahanan Mental

Reiki juga memiliki pengalaman profesional sebagai Marketing Officer di Diligent Eye Ltd (2024), menciptakan kampanye video terarah untuk investor dan pengembang, serta mengoptimalkan strategi pemasaran digital.

Saat magang di KBRI London, ia memimpin produksi podcast “KLOP” yang meningkatkan jumlah penonton hingga 500 persen. Ia juga aktif menyusun briefing harian untuk Duta Besar dan terlibat dalam berbagai kegiatan kedutaan.

Sebagai Direct Sales Representative di Ginger Promotions Ltd, ia berhasil mengamankan lebih dari 50 donatur rutin dalam satu bulan dan berkontribusi pada proyeksi donasi lebih dari £35.000. Lingkungan kerja berbasis target tersebut membentuk ketahanan mental dan disiplin tinggi dalam dirinya.

Dengan kompetensi di bidang marketing & communication, fundraising, negosiasi, serta dukungan sertifikasi Google di bidang Digital Marketing dan Project Management, Reiki memantapkan langkahnya menuju jenjang berikutnya.

Tetap Indonesia, Meski Dunia Terbuka

Meski peluang karier di luar negeri terbuka lebar, Reiki menegaskan tak pernah terpikir untuk melepaskan kewarganegaraan Indonesia.

“Saya bangga jadi orang Indonesia. Ilmu boleh saya cari ke mana saja, tapi hati tetap di Indonesia,” tegasnya.

Baginya, kemapanan bukan sekadar tinggal di negara maju, melainkan bagaimana ilmu yang diperoleh bisa memberi dampak bagi bangsa sendiri.

“Kalau ditanya pilih mana, jadi warga negara Inggris atau Indonesia? Saya pilih Indonesia. Di sinilah rumah saya. Di sinilah saya ingin bertumbuh dan memberi arti.”

Kisah Swara Reiki January menjadi bukti bahwa globalisasi tidak harus mengikis identitas. Justru dengan menjelajah dunia, rasa cinta terhadap Tanah Air bisa tumbuh semakin kuat. Sejauh apa pun melangkah, Merah Putih tetap di dada.*** (Buyil)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Baiti Syaghaf Bersyukur Tamara di “Lorong Waktu Jilid 2” Makin Dicintai, Aktingnya Dipuji Lebih Dewasa

26 Februari 2026 - 21:50 WIB

KAI Services Tambah 1.765 Personel untuk Dukung Angkutan Lebaran 2026

26 Februari 2026 - 12:20 WIB

Diawali Santunan Anak Yatim, Nita Thalia Jalani Operasi Facelift di Klinik Bedah Plastik Queen Sunter

25 Februari 2026 - 20:37 WIB

KNPI Jabar Dorong Konsolidasi Internal Lewat Musda KNPI Kabupaten Bogor

25 Februari 2026 - 02:49 WIB

PJBW Pekan ke-64: Wartawan Berbagi Takjil dan Sedekah Barang untuk Anak Yatim dan Kaum Dhuafa

23 Februari 2026 - 20:39 WIB

Proliga 2026 Pekan ke 7 Sentul, Siapa Saja Tim Peraih Tiket Final Four ?

23 Februari 2026 - 17:11 WIB

Menagih “Manis di Bibir” Bupati Lucky Hakim: Antara Retorika Audit Dana Desa, Tata Ruang, Banjir, dan Realita Pelantikan Kuwu

19 Februari 2026 - 16:15 WIB

Gallery Hanjuang: Ruang Seni dan Apresiasi yang Tumbuh dari Mimpi di Pinggir Kali Cilakar

19 Februari 2026 - 09:30 WIB

Long Weekend Imlek, InJourney Hadirkan Pengalaman Berkesan di Bandara, Hotel, dan Destinasi Wisata

18 Februari 2026 - 14:35 WIB

Rumah Budaya HMA, Diplomasi Sastra dan Budaya, Merawat Harmoni Indonesia–Mesir

16 Februari 2026 - 19:18 WIB

Trending di RAGAM