Wartatrans.com, BEKASI – Banjir kembali merendam permukiman warga di kawasan Gang Mawar, Jalan Kartini, Kota Bekasi sejak Jumat (20/2/2026) siang.
Sekitar 100-an rumah dilaporkan terdampak akibat luapan air kiriman dari hulu Sungai Cileungsi, Bogor.

Ketinggian air dilaporkan mencapai lebih dari dua meter, membuat sebagian warga terpaksa bertahan secara mandiri di lantai dua rumah, sementara lainnya mengungsi ke rumah kerabat.
Genangan air terlihat menutup hampir seluruh bagian rumah, hanya menyisakan atap dan lantai atas sebagai tempat berlindung. Aktivitas warga lumpuh, sementara perabotan rumah tangga banyak yang terendam.
Salah seorang warga, Gandi, mengatakan air mulai naik sekitar pukul 10.30 WIB setelah melimpas dari tanggul. “Ini sekitar 100 rumah kurang lebih yang terdampak. Air naik sekitar setengah sebelas,” ujarnya.
Menurut Gandi, banjir di wilayah tersebut sudah terjadi berulang kali sepanjang Februari. Ia menyebut peristiwa kali ini merupakan banjir keempat dalam sebulan terakhir, bahkan banjir pekan sebelumnya disebut lebih besar dari yang terjadi saat ini. “Di bulan ini sudah keempat kalinya. Minggu kemarin juga sama, bahkan lebih besar,” katanya.
Ia menjelaskan banjir umumnya terjadi akibat kiriman air dari wilayah hulu di Bogor. Bahkan, meski tidak turun hujan di lokasi, kawasan tersebut tetap bisa tergenang jika debit air dari hulu meningkat. “Kalau hujan lokal aman, tapi kalau ada kiriman dari Cileungsi meskipun di sini tidak hujan tetap bisa banjir,” jelasnya.
Gandi mengungkapkan warga sudah terbiasa menghadapi banjir, termasuk proses evakuasi. Namun, menurutnya tantangan terbesar justru terjadi setelah banjir surut karena lumpur yang cukup tebal. “Yang repot itu pasca banjirnya karena lumpurnya lumayan tebal,” ujarnya.
Meski banjir terjadi saat bulan puasa, ia menyebut warga tetap berusaha bertahan. “Alhamdulillah masih bisa bertahan bagi yang bisa,” katanya.
Terkait bantuan, Gandi mengaku hingga saat ini belum ada bantuan yang masuk ke wilayahnya. Ia berharap pemerintah segera mempercepat pembangunan tanggul agar banjir tidak terus berulang. “Harapannya tanggul disegerakan supaya banjir seperti ini tidak masuk lagi. Ini sebulan sudah empat kali,” katanya.
Gandi juga menyatakan warga pada prinsipnya bersedia direlokasi jika ada solusi yang jelas dan ganti rugi yang sesuai. “Kalau relokasi dengan senang hati, daripada banjir terus. Kalau ganti ruginya sesuai dan tidak merugikan, ya oke,” ujarnya.
Ia mengaku sudah tinggal di kawasan tersebut sejak tahun 2000 atau sekitar 25 tahun, meski merasa jenuh dengan banjir yang terus berulang. “Bosen, tapi mau gimana lagi, kita sudah tinggal di sini,” katanya.(fahmi)





















