Menu

Mode Gelap
Top 10 Stasiun KA Jarak Jauh Layani 23,15 Juta Pelanggan pada Semester I 2026, Pasar Senen Jadi yang Tersibuk Eksekusi Lahan Pasar Inpres Takengon Ricuh, Aparat Amankan Situasi KAI Targetkan Stasiun Gambir Layani KRL pada 2028, Dukung Akses Langsung ke Monas KAI Perkuat Operasi dan Transformasi Bisnis Usai RUPS 2025, Bobby Rasyidin Paparkan Empat Arah Strategis Perkuat Ekosistem Penerbangan Nasional, INACA Kembali Gelar Indonesia Aero Summit Momentum HUT Ke-13, IPC TPK Hadirkan Khitanan Massal untuk Masyarakat

Uncategorized

Banjir Rob Mengancam Pontianak, Pemkot Tingkatkan Kewaspadaan hingga Puncak Pasang Awal Januari 2026

badge-check


 Banjir Rob Mengancam Pontianak, Pemkot Tingkatkan Kewaspadaan hingga Puncak Pasang Awal Januari 2026 Perbesar

Wartatrans.com, KALBAR —  Banjir rob kembali menghantui Kota Pontianak dan sejumlah wilayah pesisir Kalimantan Barat pada awal Januari 2026.

Berdasarkan hasil pemantauan terbaru, ketinggian air pasang laut dilaporkan dapat mencapai hingga dua meter, memicu kekhawatiran akan dampak yang lebih luas terhadap aktivitas warga, infrastruktur kota, serta kawasan permukiman di wilayah rendah.

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, memastikan Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak terus memantau secara intensif perkembangan banjir rob yang terjadi. Pontianak disebut sebagai salah satu titik paling rawan karena posisinya yang berada di dataran rendah dan dilintasi Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia, yang bermuara langsung ke laut.

“Pemerintah kota terus melakukan pemantauan, terutama di wilayah-wilayah yang selama ini menjadi langganan banjir rob.

Pontianak termasuk daerah yang cukup rentan karena pengaruh pasang laut dan aliran Sungai Kapuas,” kata Edi, Senin (5/1/2026).

Berdasarkan pengamatan lapangan dan laporan teknis, peningkatan muka air laut paling signifikan terjadi pada pagi hari. Pada rentang waktu tersebut, air pasang cenderung naik cepat dan merendam sejumlah kawasan permukiman serta ruas jalan yang berada di elevasi rendah.

Sementara itu, pada siang hingga sore hari, kenaikan muka air relatif tidak terlalu besar.

“Untuk pagi hari memang terjadi kenaikan air. Namun pada siang sampai sore hari, kenaikannya tidak terlalu signifikan,” ujar Edi.

Informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat temuan tersebut. BMKG memprediksi puncak pasang air laut atau banjir rob akan berlangsung dalam rentang waktu 4 hingga 7 Januari 2026.

Pada periode ini, ketinggian air pasang diperkirakan dapat mencapai dua meter di atas permukaan laut, baik yang berasal dari limpasan Sungai Kapuas maupun dorongan air laut akibat pasang maksimum.

Kondisi pasang ekstrem ini telah dirasakan warga sejak 4 Januari dan berlanjut pada 5 Januari. Pemkot Pontianak memperkirakan situasi serupa masih akan berlangsung hingga 7 Januari mendatang, seiring masih kuatnya pengaruh pasang laut di wilayah pesisir Kalimantan Barat.

Edi menjelaskan, berdasarkan data pasang surut, puncak air biasanya terjadi pada pukul 06.00 hingga 07.00 WIB. Pada jam-jam tersebut, volume air meningkat tajam dan berpotensi menggenangi kawasan bantaran sungai, pelabuhan rakyat, serta jalan lingkungan di sejumlah kelurahan.

“Setelah pukul tujuh pagi, sekitar pukul tujuh sampai delapan, air mulai berangsur surut. Penurunannya juga cukup cepat,” jelasnya.

Grafik pasang surut yang terpantau menunjukkan karakter yang sangat tajam, baik saat air naik maupun ketika surut.

Kondisi ini menandakan arus air yang cukup deras, sehingga berpotensi membahayakan aktivitas warga, khususnya nelayan, pengguna transportasi air, serta masyarakat yang beraktivitas di sekitar sungai dan pesisir.

“Grafik pasang surutnya sangat tajam, baik saat naik maupun turun. Artinya, arus air cukup deras, baik ketika pasang maupun saat surut,” tambah Edi.

Situasi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah, terutama apabila banjir rob terjadi bersamaan dengan faktor cuaca ekstrem lainnya. Edi mengingatkan potensi risiko yang jauh lebih besar apabila pasang laut berbarengan dengan hujan lebat dan angin kencang.

Menurutnya, kombinasi antara pasang maksimum, curah hujan tinggi, dan angin kencang dapat menyebabkan air meluap lebih tinggi dari perkiraan normal.

Kondisi semacam ini pernah terjadi pada banjir rob awal Desember lalu, yang mengakibatkan genangan cukup parah di beberapa wilayah Kota Pontianak.

“Kami khawatir jika saat pasang terjadi hujan lebat disertai angin kencang. Itu bisa membuat air semakin tinggi dan memperparah genangan,” ujarnya.

Pemkot Pontianak pun telah menyiapkan langkah-langkah antisipasi, mulai dari pemantauan titik-titik rawan, koordinasi dengan instansi terkait, hingga penyampaian informasi kepada masyarakat secara berkala.

Aparat di tingkat kecamatan dan kelurahan diminta untuk siaga, terutama di wilayah yang berada di bantaran Sungai Kapuas dan kawasan pesisir.

Selain itu, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengambil langkah-langkah pencegahan mandiri. Warga yang tinggal di kawasan rendah diminta untuk mengamankan barang-barang berharga, mengantisipasi genangan di dalam rumah, serta memperhatikan keselamatan anggota keluarga, khususnya anak-anak dan lansia.

Pemkot juga mengingatkan warga agar berhati-hati saat melintas di jalan yang tergenang air, mengingat arus yang cukup deras dapat membahayakan pengendara roda dua maupun pejalan kaki. Aktivitas di sungai dan pesisir juga diimbau untuk disesuaikan dengan kondisi pasang surut guna menghindari risiko kecelakaan.

Banjir rob sendiri merupakan fenomena yang kerap terjadi di wilayah pesisir Kalimantan Barat, terutama pada periode tertentu ketika pasang laut mencapai titik maksimum.

Namun, intensitas dan dampaknya dinilai semakin meningkat seiring perubahan iklim, kenaikan muka air laut, serta tekanan pembangunan di kawasan pesisir dan bantaran sungai.

Dalam jangka panjang, Pemkot Pontianak menilai diperlukan upaya penanganan yang lebih komprehensif, mulai dari peningkatan sistem drainase, penguatan tanggul dan pintu air, hingga penataan kawasan permukiman di daerah rawan banjir rob.

Edukasi kepada masyarakat juga menjadi bagian penting agar warga lebih siap menghadapi siklus pasang laut yang berulang setiap tahun.

Untuk sementara, pemerintah kota menekankan pentingnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan bersama selama periode puncak pasang yang diperkirakan berlangsung hingga 7 Januari 2026.

Masyarakat diharapkan tetap mengikuti perkembangan informasi cuaca dan pasang surut air laut dari sumber resmi, serta segera melaporkan kondisi darurat kepada pihak berwenang.

“Yang terpenting saat ini adalah kewaspadaan bersama. Kita berharap kondisi tetap terkendali dan tidak terjadi hujan lebat bersamaan dengan puncak pasang,” pungkas Edi.

Dengan sinergi antara pemerintah dan masyarakat, Pemkot Pontianak berharap dampak banjir rob dapat diminimalkan, sehingga aktivitas warga tetap dapat berjalan dan keselamatan masyarakat tetap terjaga di tengah ancaman pasang laut yang meningkat.*** (LonyenkRap)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Eksekusi Lahan Pasar Inpres Takengon Ricuh, Aparat Amankan Situasi

8 Juli 2026 - 15:02 WIB

KAI Targetkan Stasiun Gambir Layani KRL pada 2028, Dukung Akses Langsung ke Monas

8 Juli 2026 - 14:59 WIB

Momentum HUT Ke-13, IPC TPK Hadirkan Khitanan Massal untuk Masyarakat

8 Juli 2026 - 12:43 WIB

Ombudsman RI Tinjau Pelabuhan Tanjung Priok, Pelayanan Publik Pelindo Tuai Apresiasi

8 Juli 2026 - 12:32 WIB

Mendagri Tito Karnavian Temui Tokoh Masyarakat Enang-Enang, Bahas Solusi Jalan dan Jembatan

7 Juli 2026 - 23:54 WIB

Pelindo Solusi Digital Perkuat Rantai Pasok Nasional Lewat Implementasi Produk Digital Pelabuhan

7 Juli 2026 - 20:57 WIB

Terminal Teluk Lamong Gandeng Suara Surabaya Media, Perkuat Edukasi Publik untuk Mitigasi Kepadatan Arus Logistik

7 Juli 2026 - 20:20 WIB

13 Keuchik Kluet Tengah Bersatu Desak Pemerintah Segera Tetapkan WPR

7 Juli 2026 - 13:10 WIB

Mustafa Gaseu Soroti 60 Unit Rumah Bantuan APBA di Aceh Barat Mangkrak, Desak Pemerintah Aceh Segera Tuntaskan Pembangunan

7 Juli 2026 - 12:15 WIB

Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Teguhkan Komitmen Pelayanan Melalui Penandatanganan Maklumat Pelayanan

6 Juli 2026 - 17:38 WIB

Trending di ANJUNGAN