Wartatrans.com, ACEH — Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Aceh kembali menelan korban jiwa. Debit air yang meningkat drastis sejak tiga hari lalu dan mengalir deras ke permukiman wilayah Aceh Utara menenggelamkan puluhan rumah warga serta menyebabkan sedikitnya 20 orang hilang terseret arus. Hingga sore tadi, delapan korban telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dan dimakamkan di area perbukitan dekat Bandara Malikussaleh.
Menurut Nyakman, warga Lhokseumawe yang sedang berada di Banda Aceh saat banjir terjadi, salah satu korban yang ditemukan adalah Almarhum Feri, Ketua Sanggar Muda Seudang Rapai Puloet Geurimpheng. “Feri ditemukan setelah terseret arus lebih dari lima kilometer dari lokasi awal,” ungkapnya.


Mayat korban yang berhasil ditemukan.
Kepergian Feri, sosok yang dikenal aktif dalam kegiatan kesenian dan pembinaan generasi muda, meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat di kampungnya.
Sementara itu, proses pencarian terhadap warga yang masih hilang terus dilakukan oleh relawan, aparat desa, dan warga sekitar. Upaya ini tetap berlangsung meski akses jalan menuju lokasi bencana masih lumpuh akibat banjir dan timbunan material.
Di tengah situasi darurat, puluhan warga terpaksa mengungsi ke kampung tetangga. Salah satunya adalah ibu Nyakman yang berhasil dievakuasi hanya dengan pakaian yang melekat di badan. “Alhamdulillah ibu berhasil diselamatkan,” tutur Nyakman.
Korban lain yang telah ditemukan berasal dari Kampung Paloh Raya – Krueng Mane, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara. Pemerintah daerah bersama tim SAR terus mengupayakan evakuasi, penanganan darurat, serta pendataan korban dan pengungsi di tengah cuaca yang masih tidak menentu.
Meski air mulai berangsur surut, akses transportasi masih belum normal sepenuhnya. “Hari ini jalannya masih terkendala. Mudah-mudahan besok sudah bisa dilewati kendaraan,” kata salah satu warga yang ditemui relawan.
Hingga berita ini diterbitkan, pencarian terhadap warga yang belum ditemukan masih terus berlangsung.*** (Jasa).
























