Wartatrans.com, TAKENGON — Hingga akhir Januari 2026, warga Kute Reje, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, masih menanti kepastian bantuan rumah hunian sementara (huntara) dari pemerintah.
Harapan itu kian mendesak mengingat bulan Ramadhan sudah di depan mata, sementara sebagian warga masih bertahan di pengungsian dengan kondisi serba terbatas.

Bagi masyarakat setempat, Ramadhan adalah bulan untuk menenangkan diri dan memperbanyak ibadah.
Namun, ketiadaan tempat tinggal yang layak membuat ketenangan itu sulit dirasakan.
“Bagaimana bisa ibadah dengan tenang kalau rumah tidak ada,” keluh salah seorang warga.
Warga Bangun Huntara Seadanya
Karena diminta meninggalkan tenda pengungsian lama, warga Kute Reje terpaksa membangun hunian sementara secara mandiri di lokasi baru. Hunian tersebut berdiri di atas tanah pinjaman milik warga setempat, dengan bahan seadanya dan dikerjakan secara gotong royong.
Pemindahan dari lokasi pengungsian dilakukan perlahan. Sebagian warga yang masih memiliki keluarga lengkap dan kemampuan ekonomi terbatas mencoba membangun lebih dulu. Sementara itu, warga sebatang kara, para ibu tanpa suami, dan warga tanpa orang tua belum mampu pindah sepenuhnya.
“Kalau bahan sudah terkumpul, warga lain akan membantu membangun. Ibu-ibu tanpa suami dan warga yang tidak punya orang tua dibangunkan bersama-sama,” ujar warga setempat dengan mata berkaca-kaca.
Belum Terlihat Peran Pemerintah
Sampai saat ini 2 februari 2026, belum terlihat aktivitas pembangunan huntara dari pihak pemerintah di wilayah terdampak.
Tidak ada alat berat, tidak ada material, dan tidak ada tanda-tanda pengerjaan.
Yang tampak justru warga yang sibuk membangun rumah sementaranya sendiri, di sela-sela kehidupan pengungsian.
Padahal, empat desa terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Kemukiman Wih Disun Jamat masih berjuang memulihkan diri. Mereka tidak berteriak, tidak meminta-minta, dan memilih bertahan dengan kemampuan sendiri.
Warga hanya berharap satu hal: jangan perlambat bantuan. Jika bantuan memang ada, mereka membutuhkannya sekarang, bukan nanti. Ramadhan sudah dekat, dan mereka hanya ingin menjalani ibadah dengan tenang di bawah atap yang layak.*** (Kamaruzzaman)
























