Menu ✖

Mode Gelap
Dukung MotoGP Mandalika 2026, ASDP Optimalkan 13 Kapal di Lintas Padangbai–Lembar Mardani Ali Sera Ungkap Komunikasi Antarfraksi DPR, Wacana Pansus dan Hak Angket Gibran Mengemuka ​Putra Aceh Dr. (Cand) Khaidir Abdurrahman Jalani Upacara Dipeusijuek Sebagai Anggota BPK RI Ode Untuk Namamu, Ketika Puisi dan Lukisan Merayakan Cinta serta Perjuangan Pompa Air Sempat Gangguan, Fasilitas Toilet dan Musala Stasiun Jatinegara Kembali Normal Demokrat Belum Bersikap Soal Pemakzulan Gibran, Soliditas Koalisi Prabowo Jadi Sorotan

RAGAM

Bertahan dalam Gelap, Berharap pada Tuhan: Kisah Nyata Banjir Aceh Tamiang 26 November 2025

badge-check


 Bertahan dalam Gelap, Berharap pada Tuhan: Kisah Nyata Banjir Aceh Tamiang 26 November 2025 Perbesar

Ditulis oleh: Sahal Muhammad AR – Penyuluh Agama Islam, Aceh Tamiang

_______

Wartatrans.com, TAMIANG – Bencana banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Aceh Tamiang pada 26–30 November 2025 meninggalkan jejak duka sekaligus keteguhan warga dalam menghadapi bencana. Hujan yang turun sejak Selasa, 25 November, berubah menjadi petaka ketika pada Rabu dini hari angin badai dan curah hujan ekstrem mengguyur wilayah tersebut tanpa henti.

Sekitar pukul 03.00 WIB, Rabu (26/11), angin kencang merobohkan pepohonan dan memadamkan listrik di Tualang Cut dan sebagian jalur lintas Sumatera. Hujan deras yang menyusul kemudian membuat beberapa wilayah seperti Seruway, Sekerak, dan Bukit Rata mulai terendam.

Menjelang malam, air tiba-tiba memasuki wilayah Kampung Dalam—daerah yang selama ini dikenal aman dari banjir besar. Warga terkejut ketika air yang semula setinggi betis bergerak deras seperti air bah dari hulu gunung. Tanda bahwa bukan sekadar banjir rutin, tetapi banjir bandang.

Tak sampai satu jam, tepat pukul 21.47 WIB, air menerobos masuk ke rumah-rumah. Warga naik ke lantai dua dengan membawa sedikit barang—sekadar pakaian, obat, dan makanan. Namun air terus naik hingga 1,5 meter pada Kamis pagi (27/11), sementara listrik dan sinyal telekomunikasi terputus total.

Sekitar pukul 10.00 WIB, Kamis pagi, derasnya arus menghantam rumah-rumah warga. Sebuah minimarket di depan rumah penulis roboh, dinding belakangnya jebol, dan seluruh isinya hanyut terbawa arus sebelum tersangkut di pagar dan atap rumah sekitar.

Beberapa remaja turun ke arus demi mengambil makanan dan membagikannya kepada warga lain yang kelaparan. Pada saat itu, status sosial menghilang—yang tersisa hanyalah upaya bersama untuk bertahan hidup.

Dalam upaya penyelamatan diri, beberapa narapidana yang dilepas sementara dari Lapas turut mencari tempat berteduh. Meski sebagian warga menolak karena stigma, beberapa toko menerima mereka. Di tengah bencana ini, para narapidana justru ikut membantu warga dengan berenang mengumpulkan makanan dan membagikannya kepada yang membutuhkan.

Menjelang Asar, ketinggian air mencapai tiga meter. Upaya warga menghubungi tim penyelamat hanya berakhir dengan pesan: “Evakuasi mandiri. Bertahan di lantai dua.” Tidak ada perahu, tak ada helikopter, dan tak terdengar sirene pertolongan.

Situasi kian mencekam ketika seorang anak kecil dan satu orang dewasa hanyut terbawa arus. Warga hanya bisa menyaksikan dengan tangis karena arus begitu kuat.

Pada malam hari, ketika air hampir menyentuh lantai dua, penulis mengumandangkan adzan dengan harapan suara itu membawa ketenangan dan membuka jalan pertolongan. Malam itu dipenuhi doa dan tangis di antara gelap, dingin, dan suara arus yang terus menggulung.

Memasuki Subuh, air akhirnya berhenti naik. Warga yang masih bertahan menangis bersyukur meski makanan dan air minum sudah habis. Bayi menangis kehausan, sementara sebagian warga terpaksa merebus air banjir atau menampung air hujan demi bertahan hidup.

Air mulai surut perlahan sejak Jumat hingga Ahad pagi (30/11). Ketika daratan mulai terlihat, warga turun mencari makanan, pakaian, dan apa pun yang masih tersisa. Tangis haru mewarnai pertemuan antarwarga yang selamat saat saling menanyakan kondisi keluarga.

Hingga Rabu (3/12), warga masih berkutat dengan lumpur setinggi lutut, pakaian basah tanah, dan rumah yang rusak berat. Penulis meninggalkan Tamiang menuju Langsa dan baru mengetahui besarnya kepanikan keluarga serta rekan-rekan setelah sinyal telepon kembali normal.

Pesan dari Bencana

Banjir ini meninggalkan pelajaran mendalam bagi warga Aceh Tamiang:

Harta bisa hilang dalam sekejap.

Rumah megah tak berarti di tengah badai.

Yang tersisa hanyalah iman, keluarga, dan napas yang masih diberikan Allah.

Warga juga berharap pemerintah hadir lebih cepat dalam situasi genting.
Setiap keterlambatan bantuan, bahkan hanya satu jam, bisa berarti satu nyawa yang terputus.

Meski masih diliputi duka, warga tetap bersyukur karena masih diberi kesempatan hidup untuk memperbaiki diri. Bencana besar ini menjadi pengingat untuk tidak menggantungkan hidup pada dunia semata, tetapi kepada Allah yang Maha Mengatur segalanya.

Semoga Allah melindungi Aceh Tamiang dan memberikan kekuatan bagi semua yang terdampak.***

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Mardani Ali Sera Ungkap Komunikasi Antarfraksi DPR, Wacana Pansus dan Hak Angket Gibran Mengemuka

11 Oktober 2026 - 15:26 WIB

​Putra Aceh Dr. (Cand) Khaidir Abdurrahman Jalani Upacara Dipeusijuek Sebagai Anggota BPK RI

11 Oktober 2026 - 14:29 WIB

Demokrat Belum Bersikap Soal Pemakzulan Gibran, Soliditas Koalisi Prabowo Jadi Sorotan

11 Oktober 2026 - 10:45 WIB

Endatoe Foundation Gelar Webinar “Career Abroad”: Buka Jalan Pemuda-Pemudi Aceh Menjadi Tenaga Medis di Jerman

11 Oktober 2026 - 08:44 WIB

PTP Nonpetikemas Dorong Generasi Muda Perluas Wawasan dan Raih Cita-Cita

11 Oktober 2026 - 00:42 WIB

Hadir di Multifinance Day 2026, ACC Dukung Inklusi Keuangan OJK

11 Oktober 2026 - 00:29 WIB

KAI Umumkan Tanu & Friends Karya Muhamad Erwin Ramadhan sebagai Juara IP Contest 2026

10 Oktober 2026 - 23:11 WIB

Inovasi Terminal Teluk Lamong Kembali Raih Penghargaan Nasional di Lima Tahun Merger Pelindo

10 Oktober 2026 - 22:38 WIB

32 Dosen Poltekpel Surabaya Tambah Gelar Setelah Dilantik sebagai Insinyur

10 Oktober 2026 - 19:24 WIB

Catatan Iwan Piliang: Nazali Lempo untuk Jaksa Agung – Menguji Kapasitas, Integritas, dan Kepastian Hukum

10 Oktober 2026 - 15:36 WIB

Trending di RAGAM