Wartatrans.com, JAKARTA – Jumlah pengguna Commuter Line di wilayah Jabodetabek terus meningkat. Sepanjang 2025, layanan kereta rel listrik (KRL) yang dikelola KAI Commuter tersebut melayani lebih dari 349,31 juta perjalanan pengguna, naik 6,45 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 328,15 juta pengguna.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap transportasi publik yang terjangkau dan memiliki kepastian waktu perjalanan, terutama di kawasan perkotaan dengan tingkat mobilitas yang semakin tinggi.
VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, mengatakan Commuter Line tidak hanya menjadi pilihan untuk menunjang aktivitas harian masyarakat, tetapi juga memberikan manfaat dari sisi penghematan biaya dan waktu perjalanan.
Menurutnya, dukungan pemerintah melalui skema Public Service Obligation (PSO) membuat tarif Commuter Line tetap terjangkau sehingga masyarakat dapat menekan pengeluaran transportasi bulanan dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong masyarakat memanfaatkan Commuter Line untuk berbagai kebutuhan, mulai dari bekerja, bersekolah, hingga mengakses pusat kegiatan ekonomi dan layanan publik.
Berdasarkan data KAI Commuter, jumlah pengguna di wilayah Jabodetabek pada 2024 mencapai sekitar 328,15 juta orang, meningkat 12,81 persen dibandingkan 2023 yang tercatat sekitar 290,89 juta orang. Tren pertumbuhan berlanjut pada 2025 dengan kenaikan sebesar 6,45 persen.
Karina menjelaskan, keunggulan Commuter Line juga terletak pada kepastian perjalanan melalui pengaturan Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) dan frekuensi perjalanan yang terjadwal. Hal tersebut membantu pekerja, pelajar, serta pengguna rutin mengatur waktu keberangkatan dan aktivitas sehari-hari.
“Hal ini membantu pengguna Commuter Line dari kalangan pekerja, pelajar, dan pengguna harian dalam merencanakan jadwal aktivitas secara lebih terukur dan efisien,” jelas Karina.
Selain efisiensi waktu, penggunaan Commuter Line dinilai dapat menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi, terutama ketika menghadapi kemacetan di jalan raya pada jam sibuk.
Karina menyebut kemacetan tidak hanya memperpanjang waktu perjalanan, tetapi juga memicu pemborosan energi, menurunkan produktivitas, serta meningkatkan pengeluaran masyarakat.
“Masalah kemacetan sendiri, dari berbagai penelitian disebutkan bahwa masalah tersebut berdampak pada pemborosan energi, penurunan produktivitas, hingga berdampak pada pengeluaran penduduk lebih besar. Keberadaan Commuter Line menjadi bagian yang menjawab masalah tersebut,” lanjutnya.
Dari sisi lingkungan, penggunaan Commuter Line yang mengandalkan tenaga listrik melalui rangkaian Electric Multiple Unit (EMU) juga berkontribusi dalam menekan emisi karbon dan polusi udara di kawasan metropolitan.
KAI Commuter menyebut emisi karbon yang dihasilkan dari penggunaan Commuter Line berada pada kisaran 19 hingga 41 gram CO₂ per penumpang-kilometer. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan mobil pribadi yang menghasilkan sekitar 170 hingga 192 gram CO₂ per penumpang-kilometer serta sepeda motor sebesar 90 hingga 110 gram CO₂ per penumpang-kilometer.
“Dengan menggunakan Commuter Line, per orang hanya menghasilkan emisi sebesar ±19 hingga 41 gram CO₂/km. Angka tersebut jauh di bawah angka penggunaan mobil pribadi yang menghasilkan emisi sebesar ±170 hingga 192 gram CO₂/km, atau sepeda motor yang menghasilkan emisi sebesar ±90 hingga 110 gram CO₂/Km setiap orangnya,” tambah Karina.
Untuk menjaga pertumbuhan pengguna sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan, KAI Commuter terus melakukan pembenahan pada berbagai aspek operasional. Upaya tersebut mencakup peningkatan keandalan sarana, modernisasi fasilitas stasiun, integrasi antarmoda, serta efisiensi operasional yang memperhatikan aspek lingkungan.
“Oleh karena itu, KAI Commuter berkomitmen untuk terus berinovasi, mulai dari peningkatan keandalan sarana, modernisasi prasarana stasiun, integrasi antarmoda, hingga efisiensi operasional yang berwawasan lingkungan,” ujar Karina.
Ke depan, KAI Commuter juga berupaya memperluas aksesibilitas layanan dan meningkatkan kemudahan transaksi digital agar masyarakat semakin mudah menggunakan transportasi publik.
“Ke depannya, KAI Commuter akan terus memperluas aksesibilitas layanan serta meningkatkan kemudahan transaksi digital demi menghadirkan pengalaman bertransportasi publik yang seamless, aman, dan menyenangkan bagi seluruh lapisan masyarakat,” tandasnya.(fahmi)



























