Menu ✖

Mode Gelap
INKA Buka Suara soal KRL CLI-225 Bermasalah, Perbaikan Dipercepat KKP Salurkan 100 Ribu Benih Lele di Bantul, Dorong Ekonomi Masyarakat Kronologi Kematian Ayudiah di Ajang Porprov XVII Jateng 2026 IPCM Catat Pertumbuhan Pendapatan 5,33% hingga Kuartal III 2026 Kembali Terjadi, Atlet Meninggal di Ajang Porprov XVII Jateng 2026 Yayasan HAkA Perkuat KUPS Kopi LPHK Nenggeri Linge melalui Training Pengolahan Kopi Pascapanen (Roasting)

Uncategorized

INKA Buka Suara soal KRL CLI-225 Bermasalah, Perbaikan Dipercepat

badge-check


 INKA Buka Suara soal KRL CLI-225 Bermasalah, Perbaikan Dipercepat Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA berkomitmen mempercepat perbaikan dan penyempurnaan kereta rel listrik (KRL) CLI-225 atau iE305 yang sempat mengalami gangguan operasional hingga berdampak pada perjalanan Commuter Line.

Langkah tersebut dilakukan bersama PT Kereta Commuter Indonesia (KAI Commuter) dengan mengacu pada hasil evaluasi teknis dan arahan Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Senior Manager Corporate Communication and Representative Office INKA, Nanang Agung Rohmandiyas, mengatakan perusahaan akan menindaklanjuti setiap temuan teknis dengan mengutamakan keselamatan dan kelayakan operasi kereta.

“Selaras dengan statement dari Bapak Allan Tandiono, Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, kami INKA berkomitmen menghadirkan produk yang berkualitas, sesuai dengan spesifikasi teknis yang disepakati bersama operator serta ketentuan yang ditetapkan regulator,” kata Nanang dalam keterangannya, dikutip Rabu (28/10/2026).

Ia menegaskan, arahan Kemenhub menjadi perhatian perusahaan untuk mempercepat proses perbaikan tanpa mengabaikan persyaratan keselamatan dan kelaikan operasi.

“Arahan Kementerian Perhubungan menjadi perhatian kami untuk mempercepat tindak lanjut perbaikan dan penyempurnaan, dengan tetap mengutamakan pemenuhan persyaratan keselamatan dan kelaikan operasi,” sambungnya.

INKA juga terus berkoordinasi dengan KAI Commuter untuk menindaklanjuti hasil pemeriksaan terhadap rangkaian KRL yang mengalami masalah. Proses penanganan meliputi pemeriksaan lanjutan, perbaikan komponen, hingga penyempurnaan berdasarkan catatan teknis dan kondisi kereta di lapangan.

Nanang menjelaskan, setiap tindakan perbaikan harus disertai pemeriksaan dan pengujian untuk memastikan kereta memenuhi persyaratan teknis yang berlaku sebelum dinyatakan layak beroperasi.

“Tanggung jawab kami sebagai manufaktur mencakup tindak lanjut atas kinerja produk setelah digunakan dalam pelayanan. Kami akan terus bekerja bersama operator untuk menindaklanjuti temuan, memverifikasi hasil penanganan, dan memastikan setiap langkah penyempurnaan mengacu pada persyaratan teknis yang harus dipenuhi,” jelas dia.

Menurut Nanang, temuan selama pengoperasian kereta juga menjadi bahan evaluasi bagi INKA untuk meningkatkan proses produksi dan pengendalian mutu. Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga konsistensi kualitas sekaligus meningkatkan keandalan produk yang digunakan untuk melayani masyarakat.

INKA turut menyampaikan permohonan maaf kepada pengguna Commuter Line yang terdampak gangguan perjalanan akibat masalah pada armada tersebut.

“Kami menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pengguna Commuter Line. Kami memahami bahwa gangguan perjalanan berdampak pada aktivitas masyarakat. Komitmen kami adalah menindaklanjuti hasil pemeriksaan bersama KAI Commuter secara bertanggung jawab, dengan mengutamakan keselamatan, keandalan sarana, dan kenyamanan perjalanan,” tutur Nanang.

Kemenhub Minta KRL Tidak Dipaksakan Beroperasi

Sebelumnya, Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kemenhub meminta INKA segera menyelesaikan perbaikan dan penyempurnaan KRL produksinya yang mengalami masalah operasional.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Allan Tandiono menegaskan, kereta yang belum memenuhi persyaratan kelayakan tidak boleh dipaksakan untuk melayani penumpang.

“Sama seperti yang dilakukan oleh PT KAI, apabila memang tidak layak beroperasi, pada hari tertentu kan tidak dioperasikan ya. Ini tentunya kita juga mengikuti pembahasan evaluasi teknis bersama PT KAI maupun PT INKA. Ya hal-hal yang perlu diperbaiki, disempurnakan, harapan kami ya segera disempurnakan,” ujar Allan kepada wartawan dalam diskusi Forwahub di Jakarta, Senin (26/10/2026).

Persoalan KRL CLI-225 atau iE305 produksi INKA mencuat setelah KAI menarik tujuh rangkaian untuk menjalani pemeriksaan menyeluruh pada September 2026. Langkah tersebut diambil menyusul temuan masalah pada komponen rangka bawah salah satu rangkaian yang berkaitan dengan aspek keselamatan.

Pemeriksaan kemudian diperluas terhadap rangkaian lain yang menggunakan komponen dari lokasi dan kelompok produksi (batch) yang sama.

Penarikan armada tersebut sempat memengaruhi kapasitas layanan Commuter Line, khususnya lintas Bogor-Jakarta. Pada awal September 2026, KAI Commuter mengurangi jumlah perjalanan harian dari 1.065 menjadi 1.048 perjalanan karena sebagian armada menjalani perawatan.

Meski tujuh rangkaian yang menjalani perawatan telah kembali beroperasi pada 6 Oktober 2026, sejumlah catatan teknis masih harus ditindaklanjuti oleh INKA.

Dampaknya kembali dirasakan pada 16 Oktober 2026. Dua rangkaian yang masih menjalani perbaikan di Depo Bukit Duri turut memengaruhi operasional hingga menyebabkan pembatalan tujuh perjalanan KRL lintas Bogor-Jakarta Kota.

Allan menekankan bahwa produsen dan operator harus memastikan seluruh kereta yang digunakan untuk melayani masyarakat memenuhi spesifikasi teknis yang telah ditetapkan dan menjalani pengujian oleh Kemenhub.

“Kita berharap kereta rel listrik yang diproduksi dan dioperasikan itu sesuai spesifikasi teknis yang sudah ditentukan dan juga telah diuji oleh Kementerian Perhubungan. Jadi itu yang kita jaga, bahwa operator maupun produsen ya harus tunduk kepada spesifikasi teknis yang sudah disepakati bersama,” tegasnya.

Selain meminta penyelesaian masalah teknis, Kemenhub juga mendorong percepatan pengadaan KRL tambahan untuk mengantisipasi peningkatan jumlah penumpang, terutama pada jam sibuk.

Allan menyebut penarikan sejumlah armada untuk pemeriksaan berdampak terhadap kapasitas pelayanan. Namun, aspek keselamatan tetap menjadi prioritas sehingga kereta yang belum memenuhi persyaratan kelayakan tidak boleh digunakan untuk mengangkut penumpang.

“Jadi terkait KRL memang kami sangat prihatin bahwa banyak kereta beberapa minggu terakhir perlu di-recall. Karena itu mengurangi kapasitas pelayanan. Tapi apa boleh buat, yang perlu kita pastikan kan kelayakan operasi dari alat transportasi tersebut. Kita juga tidak ingin alat transportasi yang tidak layak melayani penumpang. Nah ini tentunya kami juga sangat berharap operator untuk mempercepat pengadaan KRL sesuai komitmen,” pungkas Allan.(fahmi)

 

Baca Lainnya

IPCM Catat Pertumbuhan Pendapatan 5,33% hingga Kuartal III 2026

28 Oktober 2026 - 15:12 WIB

Chairil Gibran Ramadhan Perjuangkan Film Biografi Ismail Marzuki

24 Oktober 2026 - 17:18 WIB

Demonstrasi AMSR di Semarang Disertai Aksi Vandalisme

23 Oktober 2026 - 10:17 WIB

Aksi Demo di Jakarta, KAI Pastikan Kereta dari Gambir Tetap Berangkat Sesuai Jadwal

20 Oktober 2026 - 10:48 WIB

​Seleksi Ketat! 60 Calon Kepala Sekolah di Fakfak Ikuti Pelatihan dan OJT Hingga 28 Oktober

19 Oktober 2026 - 10:09 WIB

KKP Segel Tambak Udang 7,71 Hektare di Karimunjawa, Ada Apa?

14 Oktober 2026 - 19:03 WIB

Indonesia Raih Kenaikan Kuota Tuna Sirip Biru Selatan 25 Persen, Jadi 1.670 Ton per Tahun

12 Oktober 2026 - 14:21 WIB

KKP Siapkan Produk Lele dan Nila Siap Masak untuk SPPG

10 Oktober 2026 - 06:21 WIB

Trenggono Tekankan Komunikasi Publik untuk Kawal Enam Program Prioritas KKP

8 Oktober 2026 - 06:45 WIB

Kabupaten Blora Uji Coba Pelaksanaan MBG Secara Prasmanan

6 Oktober 2026 - 14:02 WIB

Trending di Uncategorized