Menu ✖

Mode Gelap
Pengurus APPSI Aceh Tengah Periode 2025–2030 Siap Dilantik KAI Commuter Targetkan Eskalator Stasiun Duri Kembali Beroperasi Pekan Ketiga Oktober Maulid Akbar dan Peusijuk Kapolda Aceh Warnai Silaturrahmi Masyarakat Aceh Tenggara di Banda Aceh Adab dan Ilusi Pengetahuan di Era Digital Aceh International Collaborative Art Exhibition 2026 Hadirkan Semangat Persahabatan Lintas Negara di USK Zulfitri Nahkodai APPSI Aceh 2026–2031, Pedagang Pasar Siap Perkuat Ekonomi Kerakyatan

RAGAM

Bukan Soal Bendera atau Agama, NU Peduli Tegaskan Kemanusiaan Tanpa Sekat Hadapi Bencana

badge-check


 Bukan Soal Bendera atau Agama, NU Peduli Tegaskan Kemanusiaan Tanpa Sekat Hadapi Bencana Perbesar

Wartatrans.com, SEMARANG – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah menegaskan bahwa penanganan bencana harus berlandaskan nilai kemanusiaan yang melampaui sekat organisasi, politik, maupun agama. Komitmen tersebut disampaikan dalam Apel Kesiapsiagaan Jambore Relawan NU Peduli se-Jawa Tengah di Bumi Perkemahan Harda Walika, Gunungpati, Kota Semarang, Sabtu (25/7/2026).

Ketua PWNU Jawa Tengah, KH Abdul Ghoffar Rozin atau Gus Rozin, mengatakan bahwa kerja-kerja kemanusiaan harus dibangun melalui kolaborasi lintas elemen masyarakat tanpa memandang latar belakang apa pun.

“Dalam konteks kemanusiaan, kerja sama antar-elemen masyarakat tanpa memandang kelompok, ideologi, maupun agama harus kita kedepankan. Kemanusiaan adalah fondasi utama,” tegas Gus Rozin.

Apel kesiapsiagaan tersebut diikuti 418 peserta, dengan 270 orang merupakan peserta aktif Jambore Relawan NU Peduli. Kegiatan ini juga melibatkan perwakilan dari 27 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Tengah sebagai bentuk konsolidasi dan penguatan jaringan relawan dalam menghadapi potensi bencana di berbagai daerah.

Menurut Gus Rozin, Jawa Tengah hampir setiap tahun menghadapi ancaman bencana, mulai dari kekeringan saat musim kemarau hingga banjir dan tanah longsor pada musim penghujan. Wilayah seperti Klaten kerap mengalami krisis air bersih, sementara Demak, Grobogan, Pekalongan, Brebes, Tegal, dan Purbalingga menjadi daerah yang rutin terdampak banjir maupun longsor.

Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun budaya kesiapsiagaan yang berkelanjutan, bukan hanya bergerak ketika bencana terjadi.

“Respons cepat itu menentukan segala-galanya. Dan kecepatan itu tidak datang tiba-tiba, tetapi lahir dari latihan, simulasi, dan penguatan kapasitas yang dilakukan secara terus-menerus,” ujarnya.

Selain penanganan darurat, PWNU Jawa Tengah juga menaruh perhatian pada proses pemulihan pascabencana. Menurut Gus Rozin, pemulihan tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga kesehatan mental dan pemulihan martabat para penyintas melalui program trauma healing.

Untuk mendukung upaya tersebut, NU Peduli menggandeng berbagai pihak, termasuk kalangan akademisi, Fakultas Psikologi, Fatayat NU, serta komunitas kemanusiaan lainnya.

“Fokus kita adalah menjaga keselamatan dan martabat manusia (hifzhun nafs). Bukan cuma memikirkan pemulihan fisik dan rumah yang rusak, tetapi juga mengembalikan kehormatan serta kesehatan mental para korban,” katanya.

Dalam kesempatan itu, NU Peduli juga memperkenalkan sejumlah inovasi untuk memperkuat penanggulangan bencana. Salah satunya adalah peluncuran aplikasi NU Risk, sebuah platform digital yang berfungsi sebagai basis data relawan sekaligus sistem pelaporan bencana secara real-time.

Selain itu, BPBD Jawa Tengah menyerahkan bantuan berupa tenda komando dan peralatan dapur umum skala besar, LAZISNU Jawa Tengah menyalurkan bantuan air bersih secara simbolis bagi wilayah terdampak kekeringan, serta dilakukan penanaman pohon sebagai simbol komitmen menjaga kelestarian lingkungan dan mengurangi risiko bencana.

Kegiatan tersebut dihadiri unsur Forkopimda, Wakil Ketua LPBI PBNU Sobirin, Ketua NU Peduli Jawa Tengah KH Mandzur Labib, serta pimpinan berbagai lembaga Nahdlatul Ulama.

Ratusan relawan yang hadir berasal dari LPBI NU, LAZISNU, Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, IPNU-IPPNU, Pagar Nusa, serta bekerja sama dengan BPBD dan Palang Merah Indonesia (PMI). Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi bukti bahwa semangat kemanusiaan dapat menyatukan berbagai elemen untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana di Jawa Tengah.*** (Selamet Widodo)

Baca Lainnya

Pengurus APPSI Aceh Tengah Periode 2025–2030 Siap Dilantik

7 Oktober 2026 - 13:46 WIB

Maulid Akbar dan Peusijuk Kapolda Aceh Warnai Silaturrahmi Masyarakat Aceh Tenggara di Banda Aceh

7 Oktober 2026 - 13:31 WIB

Adab dan Ilusi Pengetahuan di Era Digital

7 Oktober 2026 - 13:26 WIB

Zulfitri Nahkodai APPSI Aceh 2026–2031, Pedagang Pasar Siap Perkuat Ekonomi Kerakyatan

7 Oktober 2026 - 09:35 WIB

Kekeringan Hampir Empat Bulan, Bupati Fakfak Kerahkan Seluruh OPD Bantu Salurkan Air Bersih

6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

Almujaini Abdul Karim Kembali Pimpin Musara Gayo Jabodetabek

6 Oktober 2026 - 12:54 WIB

Kabut Asap Selimuti Karas, Polisi Sektor Karas Bagikan Masker kepada Warga Malakuli.

6 Oktober 2026 - 09:37 WIB

Becak Listrik Prabowo: Ketika Teknologi Datang ke Jalanan Rakyat

6 Oktober 2026 - 08:34 WIB

Putra Aceh Dipercaya Duduki Kursi BPK RI, Khaidir Abdurrahman Siap Emban Amanah

6 Oktober 2026 - 06:21 WIB

118 Bus Shuttle DAMRI Siap Layani Mobilitas Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026

6 Oktober 2026 - 05:31 WIB

Trending di JALUR