Menu ✖

Mode Gelap
Kejari Langsa Sita Rp250,9 Juta, Pulihkan Kerugian Negara dalam Kasus Dugaan Korupsi Proyek Jalan dan Drainase Mentor Bang Budi dan Lukisan Karya Anak yang Membawa Cerita Aceh Tamiang ke Jakarta KAI Luncurkan Nusantara Explorer, Perjalanan Premium yang Membawa Cerita Indonesia di Atas Rel Direktur Utama KAI: 81 Tahun Perjalanan Kereta Api Indonesia Berawal dari Sejarah, Bergerak Menuju Masa Depan Pelindo Solusi Digital dan Surveyor Indonesia Perkuat Kolaborasi Digital untuk Ekosistem Maritim Perkuat Ekonomi Pesisir, Terminal Teluk Lamong Raih Penghargaan CSR & PDB Awards 2026

RAGAM

Catatan Halimah Munawir: Ketika Teknologi Mendekatkan Dunia, Menjauhkan Manusia

badge-check


 Catatan Halimah Munawir: Ketika Teknologi Mendekatkan Dunia, Menjauhkan Manusia Perbesar

Wartarans.com, JAKARTA — Di zaman digitalisasi, dunia terasa berada dalam genggaman. Jarak seolah kehilangan makna. Berkomunikasi dengan seseorang yang berada ribuan kilometer jauhnya dapat dilakukan hanya dengan menyentuh layar. Berbelanja tak lagi harus keluar rumah. Membayar cukup dengan memindai QRIS. Informasi datang tanpa harus dicari terlalu jauh.

Teknologi membuat banyak hal menjadi mudah, cepat, dan praktis. Namun, di balik segala kemudahan itu, ada sebuah paradoks yang patut kita renungkan: teknologi yang mampu mendekatkan manusia dengan dunia, justru dapat menjauhkan manusia dari manusia.

Mengapa demikian?

Dalam filsafat tentang manusia, manusia tidak dipandang sebagai entitas yang hidup sendirian. Manusia adalah makhluk sosial. Ia membutuhkan kehadiran orang lain, percakapan, sentuhan sosial, norma, etika, empati, dan interaksi.

Manusia tidak hanya membutuhkan koneksi internet. Manusia membutuhkan koneksi kemanusiaan.

Lihatlah sebuah keluarga di ruang yang sama. Ayah duduk di satu sudut dengan telepon genggam di tangan. Ibu sibuk dengan layar yang sama. Anak-anak pun tenggelam dalam dunianya masing-masing. Jarak mereka mungkin hanya beberapa meter, bahkan beberapa sentimeter.

Secara fisik mereka bersama. Tetapi secara sosial, mereka bisa saja sedang berjauhan. Tak ada percakapan. Tak ada cerita tentang bagaimana hari mereka berjalan. Tak ada pertanyaan sederhana, “Sudah makan?” atau “Bagaimana sekolah hari ini?”

Bibir seakan tertutup oleh layar.

Ironisnya, kita hidup pada zaman ketika manusia mempunyai begitu banyak alat untuk berkomunikasi, tetapi semakin sering kehilangan waktu untuk benar-benar berbicara.

Ketika Transaksi Kehilangan Percakapan

Paradoks yang sama dapat kita lihat dalam aktivitas sehari-hari, termasuk berbelanja.

Di era transaksi digital, algoritma menghitung total belanja. Layar menampilkan jumlah yang harus dibayar. QRIS kemudian menjadi jembatan transaksi. Satu kali pemindaian, pembayaran selesai.

Praktis.

Tetapi hampir tidak ada percakapan. Bandingkan dengan transaksi konvensional.

“Berapa harganya?”

“Totalnya berapa?”

“Ini uangnya.”

“Ini kembaliannya.”

Bahkan terkadang kasir berkata, “Maaf, tidak ada uang receh. Kembaliannya kami ganti permen, ya.”

Sederhana. Tetapi di dalam percakapan sederhana itu ada interaksi manusia.

Ada suara. Ada tatapan. Ada sopan santun. Ada kesempatan untuk tersenyum. Ada ruang bagi manusia untuk menyadari bahwa di hadapannya bukan sekadar mesin transaksi, melainkan manusia lain.

Teknologi memang tidak salah. Yang perlu kita pertanyakan adalah ketika kenyamanan teknologi perlahan menggantikan kebutuhan manusia untuk berinteraksi.

Dari Malas Berbicara hingga Malas Bergerak

Persoalan teknologi tidak berhenti pada hubungan sosial. Kemudahan yang ditawarkan perangkat digital juga perlahan mengubah gaya hidup.

Dulu, untuk membeli sesuatu, kita berjalan ke pasar atau toko. Kini cukup membuka aplikasi.

Dulu, untuk membayar tagihan, kita harus mendatangi loket. Kini cukup beberapa sentuhan di layar.

Dulu, untuk mencari informasi, kita harus membaca buku atau bertanya kepada orang lain. Kini mesin pencari menyediakan jawaban dalam hitungan detik.

Dulu, untuk bertemu dan berbicara, kita harus mendatangi seseorang. Kini pesan singkat dianggap sudah cukup.

Semua menjadi cepat. Semua menjadi mudah. Tetapi pertanyaannya: apakah semua kemudahan itu selalu membuat manusia menjadi lebih sehat, lebih aktif, dan lebih manusiawi?

Di sinilah kita perlu berhati-hati. Teknologi dapat membantu manusia menghemat waktu, tetapi jangan sampai waktu yang dihemat justru dihabiskan untuk duduk berjam-jam di depan layar.

Teknologi dapat membantu manusia bekerja, tetapi jangan sampai membuat tubuh semakin jarang bergerak.

Teknologi dapat memperluas pergaulan, tetapi jangan sampai membuat kita kehilangan kemampuan untuk berbicara dengan orang yang duduk tepat di sebelah kita.

Stroke dan Gaya Hidup Modern

Pembahasan tentang perubahan gaya hidup ini juga berkaitan dengan persoalan kesehatan.

Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di dunia. Namun, mengaitkan kenaikan kasus stroke secara langsung dengan penggunaan telepon genggam atau teknologi saja tentu terlalu sederhana. Stroke memiliki banyak faktor risiko, antara lain tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol, merokok, pola makan, kurang aktivitas fisik, obesitas, usia, serta faktor lainnya.

Karena itu, yang perlu menjadi perhatian bukan sekadar gadget, melainkan perubahan gaya hidup yang dapat menyertai kemajuan teknologi.

Ketika aktivitas fisik berkurang, seseorang lebih banyak duduk, lebih sering memesan makanan, lebih jarang berjalan, tidur tidak teratur, dan menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar, maka berbagai faktor risiko penyakit kronis dapat meningkat.

Dengan kata lain, teknologi mungkin bukan penyebab tunggal.

Tetapi cara manusia menggunakan teknologi dapat ikut membentuk perilaku dan gaya hidup. Di sinilah manusia harus tetap memegang kendali.

Jangan Sampai Teknologi Mengambil Alih Kemanusiaan

Teknologi pada dasarnya adalah alat. Ia tidak memiliki niat baik atau buruk. Manusialah yang menentukan bagaimana teknologi digunakan.

Telepon genggam dapat digunakan untuk mencari ilmu, membangun usaha, bekerja, menyelamatkan orang, mempererat hubungan keluarga, bahkan menyebarkan pesan kemanusiaan.

Tetapi telepon genggam yang sama juga dapat membuat seseorang lupa berbicara dengan keluarganya.

Internet dapat membuka jendela dunia. Namun jangan sampai jendela itu membuat kita lupa melihat orang yang berada di dalam rumah sendiri.

QRIS dapat mempercepat transaksi. Tetapi jangan sampai kecepatan transaksi membuat kita kehilangan budaya menyapa.

Digitalisasi dapat menghemat tenaga. Tetapi jangan sampai manusia kehilangan kebiasaan berjalan, bergerak, bertemu, dan bersosialisasi.

Maka persoalannya bukan apakah kita harus kembali ke zaman tanpa teknologi. Itu mustahil.

Persoalannya adalah bagaimana manusia tetap menjadi manusia di tengah kemajuan teknologi.

Sesekali letakkan telepon genggam. Tatap wajah orang tua. Berbicaralah dengan pasangan. Dengarkan cerita anak. Sapa tetangga. Berjalanlah.

Berbelanjalah sesekali secara langsung. Bercakap-cakaplah tanpa perantara layar.

Sebab pada akhirnya, secanggih apa pun teknologi yang kita miliki, manusia tetap membutuhkan sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh aplikasi, algoritma, ataupun kecerdasan buatan: kehadiran manusia lain.

Teknologi boleh semakin pintar. Tetapi jangan sampai manusia justru semakin kehilangan kemampuan untuk saling menyapa, saling mendengar, dan saling peduli.

Sebab kemajuan teknologi seharusnya membuat kehidupan manusia lebih baik- bukan membuat manusia kehilangan kemanusiaannya.***

Duren Sawit – 2026.

Baca Lainnya

Kejari Langsa Sita Rp250,9 Juta, Pulihkan Kerugian Negara dalam Kasus Dugaan Korupsi Proyek Jalan dan Drainase

30 September 2026 - 02:39 WIB

Mentor Bang Budi dan Lukisan Karya Anak yang Membawa Cerita Aceh Tamiang ke Jakarta

30 September 2026 - 01:37 WIB

Pelindo Solusi Digital dan Surveyor Indonesia Perkuat Kolaborasi Digital untuk Ekosistem Maritim

29 September 2026 - 23:07 WIB

Perkuat Ekonomi Pesisir, Terminal Teluk Lamong Raih Penghargaan CSR & PDB Awards 2026

29 September 2026 - 23:00 WIB

DAMRI Hadirkan Promo Early Booking, Pesan Tiket Lebih Awal Makin Hemat

29 September 2026 - 22:50 WIB

FIFGROUP Raih Penghargaan sebagai Trusted & Populer Brand 2026

29 September 2026 - 22:43 WIB

Wapres Gibran Tinjau Korban Keracunan di Batang, MP3 MBG Menilainya Sebagai Perhatian Semu

29 September 2026 - 19:33 WIB

Anggota DPRD Jabar Soroti Persoalan Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan Pemda di Tamansari Bogor

29 September 2026 - 10:53 WIB

HUT ke 81, KAI Daop 4 Semarang Menggelar Acara Baca Puisi Antar Negara

29 September 2026 - 09:44 WIB

Demo Konflik HGU PT Bumi Flora Aceh Timur Ricuh, Terdengar Letusan Senjata

29 September 2026 - 09:31 WIB

Trending di RAGAM