Wartatrans.com, ACEH TIMUR — Aksi unjuk rasa masyarakat terkait konflik agraria dan Hak Guna Usaha (HGU) PT Bumi Flora di Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur, Senin (28/9/2026), berujung ricuh.
Ketegangan antara massa dan aparat keamanan meningkat hingga terjadi pembakaran sejumlah fasilitas perusahaan. Sejumlah laporan dari lapangan juga menyebut terdengar beberapa kali letusan senjata ketika aparat berupaya membubarkan massa.
Menurut laporan sejumlah media, aparat menggunakan gas air mata serta melakukan tembakan peringatan dalam upaya mengendalikan situasi. Ada pula laporan warga yang menyebut dugaan penggunaan peluru karet. Namun, jenis senjata dan amunisi yang digunakan masih memerlukan konfirmasi resmi dari pihak kepolisian.
Kericuhan tersebut juga dilaporkan menyebabkan sejumlah warga mengalami luka. Selain itu, beberapa kendaraan dan fasilitas di sekitar lokasi disebut mengalami kerusakan. Enam orang dari massa aksi dilaporkan telah diamankan aparat untuk menjalani proses lebih lanjut.
Sejumlah Fasilitas Perusahaan Terbakar
Di tengah kericuhan, sejumlah bangunan dan fasilitas milik PT Bumi Flora dilaporkan mengalami kerusakan dan terbakar. Alat berat berupa ekskavator juga disebut ikut terbakar dalam insiden tersebut.
Pihak yang bertanggung jawab atas pembakaran maupun kerusakan fasilitas masih dalam proses penyelidikan. Aparat keamanan sebelumnya telah mengimbau massa untuk menjaga keamanan dan tidak melakukan tindakan anarkis.
Konflik HGU Belum Tuntas
Persoalan HGU PT Bumi Flora telah berlangsung cukup lama dan melibatkan masyarakat serta kelompok tani. Upaya penyelesaian sebelumnya telah dilakukan melalui sejumlah forum resmi.

Pada Juni 2026, persoalan tersebut juga dibahas dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI. Perwakilan masyarakat menyampaikan aspirasi terkait konflik lahan yang mereka nilai belum mendapatkan penyelesaian yang memberikan kepastian.
Ketidakpuasan terhadap proses penyelesaian tersebut kemudian disebut menjadi salah satu latar belakang meningkatnya ketegangan pada aksi 28 September.
Masyarakat Minta Penyelesaian
Masyarakat berharap pemerintah segera memberikan kepastian terkait persoalan HGU dan menyelesaikan konflik melalui mekanisme hukum serta dialog antara pihak-pihak yang berkepentingan.
Sementara itu, aparat keamanan masih melakukan pengamanan di sekitar kawasan perusahaan untuk mencegah terjadinya kericuhan susulan.
Hingga berita ini ditulis, informasi mengenai jumlah korban luka, jenis amunisi yang digunakan dalam pengamanan, serta kerugian akibat pembakaran masih menunggu keterangan resmi dari pihak kepolisian dan pihak terkait lainnya.
Peristiwa ini kembali menyoroti panjangnya persoalan konflik lahan di kawasan PT Bumi Flora dan pentingnya penyelesaian yang dapat memberikan kepastian hukum bagi seluruh pihak.***
(Kamaruzzaman)





















