Wartatrans.com, KOLOM — Tetkadang persahabatan lahir bukan dari forum resmi atau agenda diplomatik yang kaku, melainkan dari peristiwa sederhana: sarapan pagi. Di ruang yang sama, dengan secangkir minuman hangat dan senyum yang saling menyapa, percakapan kecil tumbuh menjadi jalinan persahabatan lintas bangsa.
Begitulah yang terjadi di Cairo. Sapaan ringan—tentang asal-usul, tujuan perjalanan, dan aktivitas masing-masing—perlahan membuka dialog yang hangat. Dari percakapan itu, terungkap bahwa teman baru tersebut berasal dari India. Devi, seorang dokter kulit, hadir bersama suaminya yang berprofesi sebagai dokter anak. Percakapan mengalir alami, melampaui sekat profesi dan kebangsaan.
Ketika kami menyebut diri sebagai penulis yang tengah mendapat kesempatan berjumpa dan berdialog dengan para mahasiswa Indonesia yang aktif di Perpustakaan Mahasiswa Indonesia–Cairo, suasana kian akrab. Ada ketertarikan, ada rasa ingin tahu, dan ada penghargaan terhadap dunia literasi yang menjadi jembatan pertemuan berbagai latar belakang. Permintaan untuk berfoto pun hadir bukan sekadar sebagai dokumentasi, melainkan sebagai penanda perjumpaan yang bermakna.

Peristiwa kecil ini mengingatkan bahwa diplomasi budaya sering kali berlangsung secara sunyi, tanpa panggung besar. Ia hadir dalam percakapan sederhana, dalam saling dengar dan saling hormat. Di kota yang sarat sejarah seperti Cairo, perjumpaan lintas bangsa semacam ini menjadi bukti bahwa kemanusiaan selalu menemukan jalannya sendiri.
Semoga jalinan-jalinan kecil seperti ini terus tumbuh, memperkuat harmoni antarbangsa, dan menjadi bagian dari mozaik hubungan yang lebih luas—khususnya dalam merawat dan mempererat hubungan Indonesia dan Mesir, yang telah lama terikat oleh sejarah, pendidikan, dan kebudayaan.***
Kairo – 2026
























