Wartatrans.com, KOLOM — Empat puluh tiga tahun lalu, selepas lulus dari SMA Negeri 31 Jakarta, saya berada di sebuah jeda penting dalam hidup: menunggu masa perkuliahan. Jeda itu saya isi dengan mengikuti pesantren kilat yang diselenggarakan mahasiswa Universitas Indonesia di Masjid Ar-Rahman, Salemba. Dari ruang sederhana itulah sebuah persahabatan panjang bermula.
Di sana saya berkenalan dengan Nazrina Zuryani—yang akrab saya sapa Inez. Kami segera menemukan kecocokan. Tipikal kami sama: menyukai diskusi, gemar berdebat, dan tidak pandai berbasa-basi. Pesantren kilat itu bukan sekadar pengajian singkat; ia menjadi pintu masuk ke dunia pergaulan intelektual yang lebih luas.

Salah satu pemateri kala itu adalah Budi Munawar Rahman, yang kini dikenal sebagai salah satu penasihat Menteri Agama. Budi mengajak peserta bergabung dalam kelompok diskusi yang rutin berlangsung di kawasan Jalan Proklamasi. Ajakan itu kami sambut tanpa ragu.
Selepas pesantren kilat, saya dan Inez bergabung dengan para senior yang kelak menempuh jalan hidup masing-masing: Denny JA—kini Komisaris Utama PT Pertamina Hulu Energi (PHE); Andi Muhammad Asrun—Komisioner Komisi Yudisial terpilih periode 2025–2030; Jonminofri—dosen Universitas Indonesia; Elza Peldi Taher, yang akrab disapa “Buya”, pemilik Futsal Camp dan salah satu pengusaha besar di Tangerang Selatan; Muchammad Munawir; Ali Samudera Allah; serta Jojo Raharjo, yang memilih jalur sebagai pengusaha.
Diskusi-diskusi itu berlangsung di Jalan Proklamasi, tepatnya di kediaman Djohan Effendi—mantan Menteri Sekretaris Negara Kabinet Persatuan Nasional era Presiden Abdurrahman Wahid. Tema yang diangkat berkisar pada persoalan agama dan sosial, dibedah secara kritis dan sering kali keras. Debat sengit menjadi menu utama, namun selalu berakhir dengan kebersamaan: menyantap pisang goreng yang disiapkan tuan rumah.
Dalam setiap perdebatan, satu sosok menonjol. Denny JA kerap mendominasi dengan ketajaman intelektual dan kejernihan argumen. Aura kepemimpinannya nyaris tak terbantahkan. Ketika kelompok ini akhirnya memiliki identitas resmi bernama Kelompok Studi Proklamasi (KSP), Denny secara aklamasi didaulat sebagai ketua.
KSP kemudian berkembang. Seminar-seminar digelar dengan tema-tema yang berani dan “seksi”, menarik perhatian publik intelektual kala itu. Dukungan pun datang, termasuk dari Asia Foundation—organisasi nirlaba asal Amerika Serikat yang bergerak di bidang kebudayaan dan pendidikan. Namun konsekuensinya tak ringan. KSP sempat dicap sebagai “antek Amerika”.
Kami memilih bersikap dingin. Anjing menyalak, kafilah berlalu.
Seiring waktu, dinamika tak terelakkan. Kelompok ini sempat terbelah, bahkan bercerai-berai oleh perbedaan jalan dan kesibukan. Namun sejarah juga mencatat: kami kembali. Persahabatan, pada akhirnya, selalu berada di atas segalanya.
Kini, oleh waktu dan aktivitas masing-masing, pertemuan tak lagi selalu utuh. Kami berkumpul dalam fragmen-fragmen kecil. Seperti hari ini—di rumah saya ini.***
Duren Sawit 2026
























